Tampilkan postingan dengan label Life Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2016

Tulisan Pertama di 2016

Assalamu'alaikum sahabat blogger..
Sampai lupa, kapan terakhir kali berkunjung dan menulis di blog ini karena sudah terlalu lama tidak ditengok..:D
Mohon maaf buat teman-teman dan sahabat blogger yang sudah berkunjung dan meninggalkan komen dan baru sempat saya balas..terutama teman-teman yang menanyakan mengenai operasi skoliosis.
Memang banyak sekali kesibukan yang saya jalani selama 2015 kemarin hingga 2016 ini. Menyelesaikan studi S2 biokimia di ITB 2014-2016, menikah di bulan September 2015, melakukan penelitian dan menulis tesis sambil menikmati masa-masa hamil muda, sidang tesis saat usia kehamilan 6 bulan, dan sekarang kembali bekerja di kantor Poltekkes Denpasar sambil menunggu masa cuti melahirkan. InsyaAllah my baby yang sudah ikut wara-wiri ini akan lahir ke dunia bulan November 2016, tidak sabar untuk melihatnya..sehat-sehat selalu ya my baby..

Sabtu, 25 Juli 2015

Pasca Operasi Skoliosis

Assalamu'alaikum sahabat blogger dan sahabat skolioser..

Kali ini aku akan menuliskan pengalamanku pasca operasi skoliosis, karena banyaknya pertanyaan yang masuk di komen tulisanku mengenai operasi skoliosis maupun pertanyaan via email. Jadi ini semacam part 2 dari tulisanku sebelumnya yang berjudul Pulang ke Malang demi Operasi Skoliosis.


Rasanya tidak banyak yang bisa diceritakan pasca operasi skoliosis. Sudah aku ceritakan sebelumnya bahwa aku pulang ke rumah dari RS seminggu pasca operasi. Seminggu pertama di rumah, aku masih butuh bantuan orang lain untuk bisa bangun dari tempat tidur. Mandi dan kegiatan lain di toilet masih aku lakukan dengan duduk. Belum ada kegiatan berat yang bisa aku lakukan, hanya latihan-latihan ringan seperti yang telah diajarkan fisioterapis saat di RS. Dua bulan lamanya aku berada di rumah sebelum kembali ke kantor. Selama dua bulan tersebut, aku sudah jalan-jalan jauh, main ke book fair, main ke kampus, dibonceng sepeda motor dan naik turun tangga. Satu yang masih belum berani aku lakukan adalah sholat secara normal, sampai 3 bulan pasca op aku masih sholat dengan duduk. 

Pertengahan Agustus, berarti dua setengah bulan pasca op, aku sudah kembali ke kantor. Kembali ke kantor berarti aku harus kembali hidup mandiri di tengah kota Denpasar, harus sudah bisa melakukan semuanya sendiri, makanya baru berani setelah 2,5 bulan. Alhamdulillah Bu Kajur Analis, para dosen dan teman-teman pegawai serta para mahasiswa memberi dukungan yang sangat berarti selama aku baru kembali ke kantor. Aku diberi kamar khusus di asrama mahasiswa agar tidak perlu naik motor saat pulang pergi kantor. Namun aku hanya berada di asrama selama kurang lebih 4 bulan karena setelah 6 bulan aku sudah bisa dan berani mengendarai motor sendiri. 

Mungkin hanya itu yang bisa aku ceritakan, tidak ada hal-hal khusus yang menyulitkan aktivitas pasca operasi skoliosis. Banyak sekali para orang tua ataupun penyandang skoliosis yang takut mengenai keseharian pasca op nanti. Memang setiap individu pasien skoliosis memiliki kasus yang berbeda dan memerlukan penanganan yang berbeda pula. Namun aku sebagai penderita yang mengalami sendiri pengalaman skoliosis dan operasi skoliosis, ya demikianlah yang aku alami. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan tanpa kendala. Mungkin 3 bulan pertama pasca op saja yang masih harus berhati-hati dalam beraktivitas, tidak terlalu memaksakan diri bila memang tidak mampu. Setelah 3 bulan pertama, sudah bisa sholat secara sempurna. Setelah 6 bulan, sudah mengendarai motor sendiri, setelah sebelumnya hanya berani dibonceng. Agar lebih yakin, teman-teman bisa menanyakan secara detail apa yang menjadi uneg-uneg dan kekhawatiran ke dokter spine yang menangani kalian. 

Ok, sekarang mengenai biaya operasi skoliosis. Mengenai biaya, sebenarnya hal ini susah dijelaskan secara global. Karena banyak faktor yang membedakan biaya masing-masing pasien, seperti pemilihan RS, pemilihan kamar, dan kondisi pasien, itu yang aku tau, mungkin ada yang bisa menambahkan? Jadi aku hanya bisa menjawab biaya pada saat operasiku kemarin saja. Tahun 2013 di RSSA Malang, biayanya sekitar 75 juta rupiah, saat itu aku menggunakan fasilitas askes, jadi biaya yang aku keluarkan sekitar 50 juta rupiah. Rinciannya bagaimana aku sudah lupa, ya sekitar segitulah biaya yang mesti disiapkan pada tahun itu. Namun semuanya tidak bisa digeneralisir, karena seperti yang saya bilang tadi, banyak hal yang mempengaruhi. Makanya ada pula yang menghabiskan biaya hingga 100 juta lebih, ada pula yang dibawah 50 juta. Semuanya bisa dikonsultasikan dengan dokter dan pihak RS sebelum teman-teman mantap melakukan operasi.

Bagaimana dengan BPJS? Untuk masalah ini aku juga kurang paham, yang aku tau memang sudah banyak teman-teman yang menggunakan fasilitas ini di RSCM dengan tagihan 0 rupiah. Namun karena memang tanpa biaya, pastinya teman-teman harus lebih bersabar dalam mengurus segala prosedur dan antrian yang tidak sedikit. Mengenai prosedurnya bagaimana, aku tidak bisa menjawab karena tidak mengalami sendiri. Banyak teman-temanku yang sudah berhasil menjalani operasi skoliosis dengan fasilitas BPJS ini yang bisa dijadikan referensi. Semoga nantinya mereka juga bisa menuliskan pengalamannya.

Sekian dulu ya tulisan ini, semoga bisa menjawab segala uneg-uneg dan keragu-raguan teman-teman semua. Mohon maaf apabila ada kekurangan dan hal yang kurang pas di tulisan ini. Mohon saran, masukan dan tambahannya juga ya..

Minggu, 25 Januari 2015

Liburan Seru di Kalimantan Selatan

Assalamu'alaikum sahabat blogger...
Kali ini aku mau berbagi pengalaman liburanku selama 2 minggu di Kalimantan Selatan saat liburan semester ganjil kemarin.
Selain bertemu dengan ayah, keluarga, saudara, teman2, melepas rindu setelah setahun lebih tak bersua, tak lupa jalan2 dunk..terimakasih sepupu2ku tercinta yang telah mengajakku eksplor the beauty of Kalsel.
Walaupun sudah sangat sering menginjakkan kaki di bumi Pangeran Antasari ini, namun ada beberapa lokasi yang baru aku kunjungi sekarang, yaitu bukit teletubbies dan labirin. Menurut Mas Ar, sepupuku, memang dua tempat ini baru saja dibuka menjadi tempat wisata.
Banyak sekali cerita seru saat aku berlibur di Kalsel kemaren, mulai dari tinggal di desa Pambantanan, Sungai Tabuk, yang semua aktifitas warganya mengandalkan air sungai, mulai dari MCK hingga transportasi. Terbayang kan bagaimana susahnya aku yang tidak terbiasa MCK di sungai, akhirnya aku mandi di teras samping rumah dengan ditutup kain, syukurnya di samping rumah adalah rumah kosong tanpa penghuni, sebelum mandi tengok dulu kanan kiri atas bawah, lalu mandi dengan secepat kilat. Lalu untuk urusan lain selain mandi terpaksa menahan diri sampe menemukan kamar mandi di desa sebelah, hihi..
O yah, sudah pada tau kan, kalau di Kalsel itu tanahnya adalah rawa-rawa, jadi hampir seluruh rumah penduduk disini adalah rumah panggung dan berbahan utama kayu karena dibangun di atas rawa-rawa. Makanya tadi aku bilang tengok kanan kiri atas bawah, karena bagian bawah ada space antara kayu dan kayu sehingga kita bisa melihat jelas air rawa-rawa di bawah rumah.
Di desa Pembantanan, Sungai Tabuk, selama beberapa hari yang singkat disini, aku sempat ikut acara peringatan Maulid Nabi SAW pas di tanggal 1 Januari 2015. Sempat juga pergi kondangan (kalau bahasa banjarnya, saruan) pengantin, padahal gak kenal sama pengantinnya, malah minta poto bareng jg, hehe, mumpung ketemu pengantin Banjar.
Kehidupan disini sangat seru, benar-benar kembali ke desa rasanya, lepas sudah penatnya kehidupan kota, bermain bersama anak-anak desa, kemana-mana naik jukung atau kelotok, karena memang jauh lebih mudah lewat jalur sungai daripada jalur darat, apalagi di musim hujan seperti sekarang, jalur darat sangat susah dilewati karena becek dan medannya susah. Jukung dan kelotok itu sama-sama perahu kecil, tapi kalo kelotok menggunakan mesin, sementara jukung tidak, murni pake dayung. Semua penduduk disini, baik anak-anak, tua muda, laki-laki, perempuan, mahir menggunakan alat transportasi ini. Sedangkan aku masih suka teriak-teriak kalo naik jukung/kelotok dan menyusuri sungai di desa ini menuju desa lain. Seruuuuuuuuuu...

"Ayo dayung..dayung..dayung terus.."
Ini di daerah desa Pembantanan, Sungai Tabuk

Saat ikut acara peringatan Maulid Nabi,
sssttt...lihat dapat makan potongan atamnya gede banget,
akhirnya ku bawa pulang saking gedenya, hehe..

Ikut saruan, ikut poto-poto sama manten, padahal gak kenal,
mungkin mantennya mikir, ini siapa sih, hihihi...
Semoga sakinah mawaddah warahmah ya pengantin baru..

Waktu menyusuri sungai dengan kelotok, tuh lihat,
 biar di sungai juga ada tanda lalu lintasnya loh...
gak kalah sama lalu lintas darat kan..

Setiap berkunjung ke Kalsel, tak lupa aku selalu berkunjung ke Martapura. Aku menghabiskan masa kecil disini, sekolah sampai kelas 3 SD. Terlalu banyak kenangan manis disini, terkadang membuatku berkaca-kaca bila menyusuri sisi-sisi jalan yang masih begitu kuat menancap di ingatanku. Tentu saja semuanya sudah banyak berubah, sangat banyak malah.
Di Martapura, dengan diantar sepupuku beserta suami dan anak-anaknya, aku berburu batu intan di pasar intan CBS (Cahaya Bumi Selamat), tiap berkunjung kesini, selalu mampir cari batu-batuan dan akesoris, lebih tepatnya mencari titipan teman, hehe...

Hasil berburu batu di Martapura,
 ada blue saphir, ruby, zamrud, kecubung dan black saphir, bagus kan..

Menjelang berakhir liburan, aku diajak mengunjungi tempat wisata bukit Teletubies, taman labirin dan pantai Takisung yang berada di Pelaihari, kabupaten Tanah Laut, Kalsel. Dua pertama merupakan tempat baru yang aku kunjungi, sedangkan pantai Takisung sudah pernah aku kunjungi saat aku kecil dulu, tentunya dalam keadaan yang sudah berbeda. Waaahhh...benar-benar bagus pemandangan di taman labirin dan bukit Teletubies. Letak dua tempat wisata ini tidak terlalu jauh, jadi biasanya pengunjung yang mengunjungi taman labirin langsung melanjutkan ke bukit Teletubies. Sebenarnya bukit Teletubies ini nama aslinya adalah bukit.............(lupa, nanti aku tanyain dulu ke sepupu, hehe) dan karena bentuk dan warnanya yang mirip dengan acara anak-anak Teletubies, makanya jadi lebih populer dengan nama tersebut. Udara disini benar-benar sejuk, menikmati angin berhembus langsung dari atas bukit, benar2 membuat rileks. O ya, disini, dekat dengan labirin dan bukit Teletubies, juga merupakan daerah peternakan ayam.
Siang hari setelah puas menghabiskan waktu di taman labirin dan bukit teletubies, kami mampir dulu ke pondokan mas Ar untuk istirahat, sholat dan makan siang, ikan bakar buatan istri mas Ar dan mertuanya benar-benar maknyus, pengen nambah tapi sudah kenyang, hehe. Sorenya kami meluncur lagi ke pantai Takisung, maunya menikmati sunset, tapi langit tertutup awan, tak apalah, masih bisa menikmati pemandangan disini sambil tak lupa mengabadikan gambar.

Taman Labirin

Bukit Teletubies

Bersama keluarga sepupu,
atas: bukit teletubies
bawah: di depan kandang rusa yang ada di wilayah taman labirin

Searah jarum jam, labirin, kantor bupati kab. Tanah Laut,
pantai Takisung, bukit Teletubies

Pantai Takisung
Sekian dulu ya cerita seru explore the beauty of Kalsel, sebenarnya sangat banyak yang bisa diceritakan, tapi sementara baru bisa bercerita sesingkat ini. Setelah ini aku akan cerita pengalaman seru lainnya, insyaAllah setelah ini blognya akan terus di update, tidak seperti tahun lalu yang hanya ada 3 postingan, uh so sad...
Sampai jumpa di cerita lainnya ya...pantau terus diary of the queen bee.. :)

Menjadi Mahasiswa (lagi) ;)

Assalamu'alaikum semua..
Sudah terlalu lama tidak menulis di blog ini, terakhir bulan Mei 2014 setelah tes penerimaan maba pascasarjana ITB. MasyaAllah..8 bulan berlalu tanpa terasa, eh terasa sih, terasa sekali menjadi mahasiswa pasca ITB, dan sekarang sudah berlalu satu semester, sudah berlalu pula liburan, dan sekarang sudah masuk kuliah lagi semester 2. Semoga semuanya berjalan lancar hingga lulus, mudahkan ya Allah..aamiin...
Tahun kemaren memang sedang hectic2nya aktifitas serasa berlari2, karena mau lanjut sekolah lagi, jadi wara wiri mengurus pendaftaran, tes2 ini itu, dan menyelesaikan segala tanggungan kerjaan kantor karena akan ditinggal sementara lanjut sekolah, beres2 kostan lama di Denpasar, cari kostan baru di Bandung dan sampailah disini, berjuang lagi menjadi mahasiswa, pusing dengan segala tugas2, ujian2, proposal penelitian, jalan2, eh..hehehe..
Enjoy saja lah..jalani semua dengan hati gembira, selalu bersyukur dan be positive.
Ketika kerja, pengen lanjut sekolah, sudah dikasih sekolah, mikir kok enakan kerja ya..
Kalau kerja ya kerja aja di siang hari, malamnya free mau ngapain aja, gak pake mikir, kecuali kalau buat slide untuk ngajar mahasiswa, kadang ada lembur juga sih, tapi gak ada beban.
Kalau kuliah, siang ngampus, pagi siang sore malam mikirin tugas, mikirin proposal, mikirin penelitian, aaaarrrgghhh...tapi nikmatnya bisa liburan lebih panjang kalo libur semester dan yang jelas gak mikir kerjaan..hehe..
Lupakan soal jerawat yang makin merajalela waktu kuliah, lupakan jalan jauh dari kostan ke kampus (kalo ngantor biasa naik motor), lupakan susahnya belajar biokimia (kalo ini iya ku akui susah..hiks,,hiks,,), just enjoy it, tuh buktinya masih sempat jalan2, masih sering shopping2, masih bisa ini, bisa itu, ya kan..(ala Pak Yana, dosen NMR, hehe).

Semangat!!! Hamasah!!!

Selasa, 27 Mei 2014

Kumpul-kumpul MSI Malang

Mumpung lagi berlibur di Malang, ketemuan lagi sama komunitas Masyarakat Skoliosis Indonesia yang ada di Malang. Walaupun banyak yang ga bisa, akhirnya kita kumpul dengan yang bisa2 aja di Malang Town Square. Cerita-cerita, jalan-jalan, seru-seruan sampai foto-fotoan. Itulah agenda kita hari itu. Ada kejadian lucu waktu kita jalan2 di Gramedia, aku melihat remaja laki-laki yang postur tubuhnya dapat dipastikan skoliosis. Trus aku bilang ke Silfi dan Bhela. Mereka semua mengiyakan. Silfi menyuruh aku nyamperin tuh anak dan berkenalan untuk kita ajak gabung ke grup kita sekalian. Tapi berhubung aku ga mau, akhirnya Silfi yang maju. Haha, apa yang terjadi, ternyata Silfi ditolak mentah-mentah. Jadi Silfi main tembak aja tuh anak."Eh, kamu skoliosis ya??" tanya Silfi ke anak itu. Anak itu langsung kaget menjawab, "Bukan". Silfi langsung kabuuuuuuuurrrr....hahaha...Silfi...Silfi...ya terang aja dia jawab kayak gitu, habisnya kamu kayak lagi nembak cowok aja, "eh kamu mau ga jadi pacar aku??", "nggak...." haha..piiss Silfi, mungkin dia masih ga ngeh kalo dia sebenarnya juga skoliosis seperti kita. Wah, padahal kalo memang dia belum ngerti, semestinya tugas kita untuk membuat dia mengerti, tapi apa daya, dia udah menolak duluan sih...hihihihi...:D
Bhela (kerudung modif), Silfi (kerudung hijau tosca), Hanani (kerudung biru), Syifa (kerudung oranye, bukan skoliosis tapi sepupuku), Aku (kerudung bunga2 merah)

Bandung, Akhirnya ke Bandung juga…



Kali ini aku mau bercerita pengalamanku waktu ke Bandung tanggal 16 – 18 Mei kemaren. Mungkin memang bukan sesuatu yang sangat spesial, tapi Bandung adalah kota yang dari dulu sangat ingin aku kunjungi tapi ga kesampaian2 juga, karena memang belum ada kepentingan kesana. Entah karena biar bisa ke Bandung atau karena apa, akhirnya aku mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa S2 ITB, hehe..doakan semoga diterima yah..aamiin…
Walaupun di Bandung Cuma 3 hari 2 malam, tapi banyak sekali pengalaman dan teman2 baru. Semua yang ku temui adalah teman2 baru yang baik dan menyenangkan. Sampai di Bandara Husein Sastranegara, aku dijemput sama Rani, teman satu grup di ODOJ (One Day One Juz) yang juga kuliah di ITB. Trus aku diantar ke Farmasi ITB, menemui Lina yang juga baru aku kenal, malamnya aku mau numpang tidur si kosan Lina, hehe. Bersama Lina aku melihat ruangan tempat aku ujian TPA besok. Trus aku diantar Rani berkeliling ITB, melihat jurusan Kimia, jurusan tempat aku menimba ilmu kalau diterima nanti.
Hari pun beranjak sore, aku bersama Lina pulang ke kosannya di daerah Gegerkalong. Wah, ternyata deket banget dengan kompleks Daaruttauhid. Malamnya aku berkeliling sekitaran kosan Lina sambil mencari makan dan akhirnya kita makan malam di MQ Food Court. Lelah dari pagi mulai berangkat dari Denpasar dan berkeliling di ITB sampai sore membuatku tidur nyenyak dan tidak sempat belajar TPA lagi.
Tibalah hari H ujian TPA, 17 Mei 2014, ujian 3 jam cukup membuatku pusing dan ingin muntah, karena paginya hanya sempat makan secuil roti. Selesai TPA, aku dan Lina pergi ke masjid Salman ITB menemui seorang kenalan skolioser yang baru ku kenal di fb, Diny. Trus kita keliling, makan siang, kemudian mampir beli oleh-oleh khas Bandung. Trus kita menuju penginapan MQ Guest House untuk beristirahat dan bercerita segala macam tentang diri kita masing-masing dan juga skoliosis kita. Malamnya kita makan mi ramen di depan penginapan dan berkeliling melihat2 pertokoan di sekitar penginapan.
Akhirnya, hari Ahad, 18 Mei 2014, aku sudah harus balik ke Bali dan bersiap mengikuti tes selanjutnya dari jurusan Kimia ITB, yaitu tes jarak jauh via email. Tapi aku kangen sekali dengan teman2 di kantor lamaku di Perancak, Negara, jadi sampai di Denpasar aku tidak menuju kosan tetapi langsung meluncur menuju Negara. Bye bye Bandung, semoga Allah meridhoiku kuliah lagi di ITB, jadi aku bisa kembali ke Bandung lagi, aamiin..

Bersama Lina dan Diny, di depan MQ Guest House, dengan foto edit hasil kreasi Diny, :)


Ibu, Aku Rindu

Ibu, bila saat ini kau melihatku apa yang akan Ibu katakan.
Ibu, tulang belakangku sudah tidak sebengkok dulu, 2 pen dan 12 skrup sudah terpasang di punggungku.
Ibu, gigiku sudah tidak berantakan seperti dulu, dokter ortodhonti sudah merapikannya untukku.
Ibu, aku sudah mendapatkan tanda seorang wanita sesungguhnya walaupun aku mendapatkannya di waktu wisuda S1.
Ibu, aku sudah menjadi gadis yang berani, suka pergi kemanapun seorang diri, tinggal jauh dari rumah seorang diri, tidak seperti dulu yang bahkan hanya pergi untuk kemah pun aku menangis karena ingin tidur bersamamu.
Ibu, aku sudah tidak pemalu, tidak seperti dulu yang bahkan kalau dudukpun ingin selalu kau pangku.
Ibu, kata teman2 aku cantik, tapi setelah mereka melihat foto Ibu, ternyata mereka bilang aku kalah cantik dari Ibu.
Ibu, sekarang aku sudah bekerja, tapi tetap aku tidak bisa seperti Ibu yang pandai segala hal.
Ibu, kau pandai memasak, pandai menjahit, pandai merajut dan pandai memotong rambut, tapi satupun aku tak bisa.
Ibu, andai kau melihatku, masihkah kau bangga padaku?


Denpasar, 11 Mei 2014
Ditulis dengan linangan air mata yang berderai-derai sampai pagi

Kamis, 27 Juni 2013

Pulang ke Malang demi Operasi Skoliosis

Rontgen Sebelum Operasi



Rontgen Sebelum Operasi


Rontgen Sesudah Operasi
Sehari Sebelum Pulang, Smile...
Alhamdulillahirobbil’alamiin...tak henti-hentinya puji syukur ku panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya dan atas segala terkabulnya doa sehingga saat ini aku sudah menjalani operasi koreksi skoliosis yang sudah mencapai derajat 115 ini. Walaupun semua dokter dan perawat selalu mengatakan “kenapa baru sekarang?” Setelah skoliosisku sudah separah ini dan usiaku juga sudah mencapai angka 28. Tapi aku yakin segala sesuatu yang Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia. Begitu pula segala yang kita usahakan dalam rangka kebaikan tentu juga tidak akan sia-sia. Dan memang beginilah, aku baru mampu mengusahakan operasi ini di usia sekarang. Operasi skoliosis bagiku termasuk operasi yang sangat mahal sehingga dulu hal ini hanyalah angan-angan yang rasanya sulit untuk tercapai. Walaupun baru melakukan operasi setelah semua orang mengatakan terlambat, namun hal ini sudah merupakan hal yang sangat luar biasa bagiku dan hal yang sangat harus disyukuri.
Perjalanan menuju operasi ini baru ku mulai tahun 2011 saat usiaku 26 tahun. November 2011, barulah aku bertemu dengan dr. I Ketut Suyasa, Sp.OT(K)Spine di Denpasar atas dukungan teman-temanku di instansi kesehatan. Hasil rontgen juga semakin mendukung keparahan derajat skoliosisku yang membuat semua orang geleng-geleng kepala termasuk diriku sendiri..hehe.. Pilihan yang diberikan oleh dokter hanya satu yaitu operasi. Mengenai hal ini juga sudah kuceritakan di tulisan blogku sebelumnya.
Karena mahalnya biaya operasi dan berpikir mengenai resikonya membuatku berhenti untuk memikirkan skoliosis ini. Sampai setahun lamanya aku sudah tidak ambil pusing mengenai skoliosis ini. Hingga akhir tahun 2012, aku menemukan sebuah buku yang berjudul Program Pencegahan dan Penyembuhan Skoliosis untuk Anda yang kemudian aku beli melalui situs Amazon.com. Dalam buku tersebut dijelaskan diantaranya mengenai asupan nutrisi dan program latihan untuk penyandang skoliosis. Sempat ku praktekkan sebentar dan akhirnya aku merasa putus asa mengingat kondisi skoliosisku yang parah. Padahal alasan sebenarnya adalah aku malas berolahraga..hehe..
Hingga akhirnya di awal tahun 2013, aku diajak oleh mbak Wilan untuk menemui kakaknya yang merupakan seorang dokter ortopedi. Awal Maret 2013, aku bertemu dengan dr. Anggi, Sp.OT di RSOT Surabaya. Disini aku mendapat penjelasan panjang dan lebar mengenai skoliosisku dan dari penjelasan dokter Anggi aku mulai kembali memikirkan untuk menjalani operasi skoliosis. Saat itu aku mulai mantap untuk menjalani operasi tapi satu yang kupikirkan, biayanya dari manaaaaaaaaaaaaa?????????????? (Tanda tanyanya panjang sesuai dengan betapa mahalnya biaya operasi skoliosis, bagiku lo yaa....). Mengenai resiko setelah operasi, dengan penjelasan dari dokter Anggi yang begitu lengkap membuatku rasa takutku jauh berkurang. Terimakasih dokter Anggi...

26 Maret 2013
Aku mulai mencari alternatif rumah sakit pemerintah sehingga aku bisa memanfaatkan fasilitas Askes yang aku punya sehingga bisa membantu mengurangi beban biaya yang harus aku tanggung. Pilihan pertama jatuh ke RSCM karena disana aku bisa menemui dr. Rahyus Salim, Sp.OT(K)Spine yang aku kenal dari blog yang beliau tulis dan dari Masyarakat Skoliosis Indonesia. Beberapa kali pula konsultasi dengan beliau melalui email. Akhirnya aku berkesempatan menemui beliau langsung di RSCM Kencana Jakarta. Penjelasan dari dokter Salim semakin menguatkan niatku untuk melakukan operasi. Karena bila tidak, maka derajat skoliosisku akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Dengan operasi, selain mengurangi derajat skoliosisku juga akan menyetop pertumbuhannya. Kemudian aku dipertemukan dengan dokter Pram, asisten dokter Salim untuk bertanya segala sesuatu mengenai operasi. Aku juga menemui pihak askes RSCM bertanya bagaimana alur agar aku bisa operasi disana. Tetap aku harus mendapat rujukan dari Denpasar karena kartu askesku adalah askes Denpasar. Walaupun mempunyai askes, aku tetap harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk biaya implan yang akan ditanam di punggungku karena tidak ditanggung oleh askes.

April 2013
Bulan April merupakan bulan dimana aku wara wiri demi mencari dana dan mencari rujukan askes. Rujukan dari Puskesmas dan RSUD dengan mudahnya aku dapatkan untuk kemudian dibawa ke RSUP Sanglah Denpasar. Sekarang pilihannya menjadi apakah operasi di Denpasar, Surabaya, Jakarta atau Malang? Akhirnya pilihannya kembali pada keluarga besar. Karena ini adalah operasi besar, otomatis harus ada dukungan dari keluarga besar. Dan karena keluarga besarku ada di Malang, akhirnya pilihan terakhir jatuh di Malang. Dengan bantuan dr. I Ketut Suyasa, Sp.OT(K)Spine, akhirnya aku mendapat rujukan ke RSUD Syaiful Anwar Malang dengan dr. Syaifullah Asmiragani, Sp.OT(K)Spine.

Mei 2013
 Awal Mei aku mulai mengurus ijin cuti untuk pulang ke Malang demi menjalani operasi skoliosis. Dengan dukungan penuh dari teman-teman kerja akhirnya dengan mantap aku pulang ke Malang. Sebelum menuju RSUD Syaiful Anwar Malang, aku bertemu dengan Pak Restu yang merupakan perawat anastesi di RSSA. Pak Restu inilah yang membantu segala proses sebelum menuju operasi termasuk menguruskan prosedur askes dan mengantar ke tempat-tempat cek up di RSSA.
14 Mei 2013
Dengan diantar kakak, aku bertemu dengan dokter Syaiful di paviliun GPH RSSA. Ketika aku masuk, dokter Syaiful sudah memegang hasil rontgen pertamaku yang sudah dibawakan oleh Pak Restu.
Aku                        : “Pagi dok..”
dr. Syaiful            : “Wah..akhirnya ketemu juga nih setelah sebelumnya cuma ketemu di facebook..”
Aku                        : “Hehe..iya dok..”
dr. Syaiful            : “Waduh..kenapa baru sekarang nih, sudah berat sekali ini..” (sambil melihat foto rontgen)
Aku                        : “Hehe..”
dr. Syaiful            : “Mau operasi?”
Aku                        : “Iya mau..”
dr. Syaiful            : “Coba saya lihat dulu ya..”
Begitulah sekelumit percakapan awal dengan dokter Syaiful yang kemudian berlanjut dengan pemeriksaan tulang punggungku hingga akhirnya dokter Syaiful berujar bahwa tulangku sudah kaku dan ini merupakan kasus terberat yang pernah beliau tangani. Kemudian beliau memberi rujukan untuk periksa fungsi paru dan rontgen ulang serta memberi rujukan untuk ngamar agar bisa segera dilaksanakan operasi.

16 Mei 2013
Hari ini aku membuat janji dengan dokter Putu spesialis paru untuk tes fungsi paru. Dari hasil tes dengan cara meniup pada sebuah alat tes fungsi paru, ternyata hasil tes fungsi paruku hanya setengah dari nilai normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah fungsi paruku hanya 51%. Dari nilai tersebut, resiko untuk operasi tulang belakang adalah kecil menuju sedang. Setelah selesai tes fungsi paru, aku menuju ruang askes RSSA untuk mengurus prosedur askes. Semua yang kujalani hari ini diantar dan dibantu oleh Pak Restu. Semuanya jadi mudah dan lancar, Alhamdulillah..
17 Mei 2013
Setelah mendapat hasil rontgen terbaru dan hasil tes fungsi paru, aku bertemu lagi dengan dokter Syaiful. Melihat hasil tes fungsi paruku, beliau langsung mengatakan ok dan memberi surat rujukan untuk ngamar di RS. Dari sini, kembali kegalauan melanda, aku bingung harus memilih kamar yang mana karena kamar juga menentukan biaya operasi. Dengan berbagai pertimbangan dan beberapa saran dari Pak Restu dan juga keluarga akhirnya beberapa hari kemudian aku mantap memilih kamar di ruang melati paviliun Graha Puspa Husada RSSA. Tapi aku belum langsung memesan kamar karena masih ingin memohon petunjuk dulu dari Yang Maha Kuasa semoga dipilihkan jalan yang terbaik.

21 Mei 2013
Akhirnya hari Selasa ini, aku baru mendapatkan kamar di paviliun karena disini banyak sekali antrian yang akan masuk sehingga untuk bisa ngamar harus booking terlebih dahulu. Sempat berpikir, hmm..pesen kamar rumah sakit seperti pesen kamar hotel. Tapi, memang di paviliun sini istilahnya adalah swastanya RSSA tapi masih bisa menggunakan fasilitas askes. Masuk ke kamar terima, aku langsung diukur tinggi, berat badan, tes jantung, cek darah dan rontgen torax. Setelah itu aku langsung diantar ke kamar 313 ruang melati. Hhh..bingung juga pas sudah di kamar, mau ngapain? Kan aku masih sehat wal’afiat. Tapi tak lama kemudian datanglah perawat yang memasangkan tempat suntik di tanganku yang aw..aw..aw..sakit sih tapi sedikit. Kemudian datanglah dokter Syaiful yang mengatakan bahwa operasiku dijadwalkan hari Jumat setelah sholat Jumat dan mengatakan pada perawat suntikan apa saja yang perlu diberikan padaku mulai hari ini. Jadi mulai hari ini sebelum operasi, rutin setiap pagi dan sore aku mendapatkan suntikan vitamin C dan vitamin K. Selebihnya aku masih bisa jalan-jalan keliling paviliun sambil menunggu jadwal operasi.

22 Mei 2013
Hari ini ada jadwal MRI. Nah, MRI inilah yang membuatku terpaksa melepas kawat gigi yang baru terpasang di gigi ini selama 6 bulan. Padahal seharusnya kawat gigi ini masih harus menempel di gigi ini selama 1,5 tahun lagi. Tapi apa daya, demi sebuah operasi skoliosis, aku harus rela melepaskan kawat gigi ini walaupun dengan sedikit berat hati mengingat biaya pemasangannya..hiks..hiks.. Aku sudah melepas kawat gigi ini setelah bertemu dokter Syaiful pertama kali. Aku kembali bertanya kepada beliau untuk meyakinkan apakah memang kawat gigi ini harus dilepas?? Tentu saya beliau menjawab ya, karena MRI menggunakan medan magnet yang dapat menarik semua logam. Bisa-bisa gigiku terlempar keluar semua...aw..aw..aw.. Saat itu akhirnya aku mencari dokter gigi spesialis orthodonti untuk melepaskan bracket yang udah terlanjur menempel di gigi ini selama 6 bulan. Bersyukur akhirnya aku bertemu dengan drg. Masita. Dengan menjelaskan keadaanku yang harus dioperasi secepatnya dan harus melepas bracket ini karena harus MRI dan aku tidak mungkin kembali ke Denpasar hanya untuk sekedar melepas bracket akhirnya beliau bersedia melepaskan bracketku dan membuatkanku retainer agar gigiku tidak kembali berantakan karena proses pergeseran gigi masih berlangsung.
Kembali ke proses MRI. Setelah meyakinkan bahwa aku tidak memakai logam sama sekali di tubuh, petugas MRI mulai menyuruhku berbaring, menata tubuhku sedemikian rupa dan menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal dan memasang headset di telingaku. Tak lama kemudian masuklah tubuhku secara perlahan-lahan ke dalam lorong MRI. Aku merasa lamaaaaaaaaa sekali di dalam lorong sampai tulang-tulangku terasa sakit. Aku tidak begitu memperhatikan berapa jam aku ada di dalam lorong MRI. Tapi aku ingat ketika keluar dari kamar dan diantar perawat menuju ruang MRI, saat itu jam menunjukkan pukul 08.30 dan ketika aku kembali ke kamar, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Wow...selama itukah berarti aku berada di ruang MRI?

23 Mei 2013
Hari ini hari terakhir aku bebas sebelum operasi. Sebelum operasi, aku ingin menikmati hari ini dengan berjalan-jalan dengan sepupuku sambil membeli es krim. Tepat ketika aku sampai di depan pintu sebelum melangkahkan kaki keluar kamar, dokter Syaiful sudah muncul di hadapanku. Beliau mengingatkan bahwa besok jadwal operasiku sekitar pukul 13.00 WIB. Aku bertanya, apa ada hal-hal yang mungkin perlu saya persiapkan dok? Beliau menjawab dengan simpel, banyak-banyak berdoa. Sore harinya, dr. Rudi Hartono, Sp.An datang ke kamar dan memperkenalkan diri bahwa beliau yang akan bertindak sebagai dokter anastesiku besok dan bertanya serta menjelaskan beberapa hal terkait prosedur anastesi pada operasiku besok.

24 Mei 2013
Teng..teng..teng..tak terasa tibalah jadwal operasi. Pagi-pagi setelah memberikan suntikan rutin, perawat menyuruhku segera mandi karena akan segera dipasang infus. Pukul 07.00 aku sudah mulai berpuasa. Rasanya waktu berjalan sangat singkat hingga akhirnya pukul 12.30 aku di tes alergi dan diberikan suntikan antibiotik kemudian disuruh berganti pakaian operasi. Pukul 13.00, perawat yang akan mengantarku ke ruang operasi sudah tiba sambil membawa kursi roda. Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi, badanku panas dingin sambil bibirku terus mengucap dzikir dan doa. Sampai di dalam kamar operasi, aku sudah tidak sempat menghitung berapa banyak orang yang ada disana. Semua sudah menggunakan masker dan penutup kepala. Rasanya banyak sekali dokter-dokter yang ada disana. Aku juga sempat melihat beberapa di antara mereka memasang dan mengamati foto rontgenku. Setelah itu, salah seorang dokter yang bernama dokter Harun memperkenalkan diri sebagai asisten dokter Syaiful yang akan membantu proses operasiku. Dokter Harun juga menjelaskan bahwa nanti aku akan dibangunkan untuk menggerak-gerakkan kakiku. Tepat setelah itu, aku sama sekali tidak mengingat apapun sampai keesokan harinya. Kemudian baru aku tau bahwa aku keluar dari ruang operasi pada pukul 22.00 WIB dan mampir dulu di ruang ICU.

25 Mei 2013
Aku tidak tau pukul berapa ketika aku tepat membuka mata. Yang ku ingat saat itu aku berada di ruang ICU dan banyak sekali rasanya alat-alat yang ada di sisiku. Di hidungku juga terpasang selang oksigen. Semua yang ku lihat serba samar-samar. Kakak iparku datang untuk menyuapiku makan pagi tapi aku sama sekali tak berselera makan. Aku memaksakan diri untuk menelan makanan yang masuk ke mulutku dan tak berselang lama semua yang telah ku telan termuntahkan kembali. Kemudian datang seseorang yang menyuruhku menggerak-gerakkan kaki dan tanganku. Seseorang itupun hanya samar-samar ku lihat. Entah itu dokter anastesiku, entah asisten dokter, benar-benar aku tidak bisa melihat dengan jelas. Semua badanku termasuk mata terasa berat. Siangnya paklekku datang untuk menyuapiku makan siang dan aku sama sekali tak ingin makan. Aku takut muntah lagi setelah tadi sudah muntah dua kali. Akhirnya aku dibuatkan susu tinggi kalori dan protein untuk menggantikan asupan makan siangku. Itupun hanya mampu ku minum sedikit. Sampai-sampai perawat mengatakan kepadaku kalau aku tidak mau makan nanti bisa-bisa dipasangkan selang melalui hidung untuk memasukkan makanan. Kemudian ada perawat yang meminumkan susu kepadaku sambil menasehati bahwa harus ada asupan makanan yang masuk ke tubuhku. Akhirnya pukul 14.00, aku sudah dipindahkan ke kamarku semula.
Sampai di kamar, sudah banyak keluarga dan teman-teman yang menjenguk. Karena kondisiku sangat lemah, aku hampir-hampir tidak bisa berbicara tapi aku sempatkan untuk menyapa mereka. Selebihnya aku hanya mampu terdiam sambil merasakan sakit yang mulai terasa di punggung ini.

26 Mei 2013 s/d 3 Juni 2013
Tidak banyak yang bisa kulakukan setelah menjalani operasi selain makan, tidur dan minum obat. Tapi aku merasa hampir tidak bisa tidur karena merasakan sakit yang teramat sangat di punggung. Sempat aku berkata pada perawat ingin dibius lagi karena sangat tidak tahan dengan sakit yang ku rasakan. Kerabat dan para tetangga banyak yang menjengukku di rumah sakit, padahal aku tidak bilang ke para tetangga, keluargapun hanya keluarga dekat yang tau. Senangnya mereka datang, walaupun ketika mereka datang, aku masih terbujur lemah tak berdaya di kasur. Ada satu lagi kejutan untukku, 2 hari pasca operasi seorang sobat dari Masyarakat Skoliosis Indonesia datang menjengukku. Ya, baru hari itu kami bertemu setelah sebelumnya hanya berkomunikasi via fb dan sms. Aku biasa memanggilnya Gluck, sesuai nama yang pertama kali kukenal darinya. Dia datang bersama ayah dan adiknya langsung dari Mojokerto. Tapi sayang kami tidak sempat berfoto bersama, karena hari itu aku masih sangat tidak berdaya menahan sakit dan sama sekali tidak kepikiran untuk mengabadikan momen ini. Baru setelah mereka pulang, terlintaslah di pikiranku kenapa tadi tidak foto bareng. Aaaahhh...selalu saja ingat belakangan. Terimakasih Gluck n fams udah jauh-jauh jengukin aku. Menjadi kekuatan tersendiri dihibur sesama penyandang skoliosis.
Enam hari pasca operasi alat TCO ku sudah jadi dan aku mulai memakainya dan mulai belajar berjalan. Waaahh..bahagianya bangun dari tempat tidur setelah seminggu lamanya hanya bisa berbaring atau duduk di kasur. Setelah dirasa cukup kuat untuk berjalan-jalan, akhirnya hari Senin, 3 Juni 2013 aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Walaupun sudah diperbolehkan pulang, tapi aku harus mematuhi saran dokter untuk terus memakai alat penyangga selama 3 bulan dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Welcome home Sofi...
Setelah menjalani operasi banyak perubahan positif yang aku rasakan, diantaranya punggung bagian kiriku yang sebelumnya tertarik ke arah kanan menjadi 'lurus' dan aku tidak harus menahannya lagi dengan tangan ketika duduk, dadaku yang sebelumnya agak membusung sudah berkurang, tonjolan di punggung kanan juga berkurang, dan aku menjadi bertambah tinggi 5 cm. Alhamdulillah...
O iya, hampir lupa, jadi skoliosisku ini disebabkan oleh neurofibromatosis yaitu semacam tumor jinak yang menyerang saraf yang dapat menimbulkan masalah dalam kerangka tubuh, seperti kelainan lengkung tulang belakang (kifoskoliosis), kelainan bentuk tulang iga, pembesaran tulang panjang pada lengan dan tungkai serta kelainan tulang tengkorak dan di sekitar mata.
Begitulah cerita singkat mengenai perjalanan operasi skoliosisku, semoga bisa menjadi referensi buat kalian yang juga sama sepertiku memiliki kelainan di tulang belakang. Seperti yang sudah ku tuliskan di awal, semua yang diciptakan oleh-Nya tidak ada yang sia-sia, begitupula dengan skoliosis yang kita miliki. Maka berusahalah semampu kita tanpa bersedih hati karena segala usaha yang kita lakukan pun pasti tidak ada yang sia-sia. Ayo semangat!!! Walaupun memiliki tulang belakang yang bengkok, bukan berarti kita kurang sempurna dari yang tulang belakangnya lurus, justru kita diberi kelebihan oleh-Nya. Bukankah sesuatu yang langka itu unik?