![]() | |
| Bhela (kerudung modif), Silfi (kerudung hijau tosca), Hanani (kerudung biru), Syifa (kerudung oranye, bukan skoliosis tapi sepupuku), Aku (kerudung bunga2 merah) |
Selasa, 27 Mei 2014
Kumpul-kumpul MSI Malang
Bandung, Akhirnya ke Bandung juga…
Kali ini aku mau bercerita pengalamanku waktu ke Bandung tanggal
16 – 18 Mei kemaren. Mungkin memang bukan sesuatu yang sangat spesial, tapi
Bandung adalah kota yang dari dulu sangat ingin aku kunjungi tapi ga
kesampaian2 juga, karena memang belum ada kepentingan kesana. Entah karena biar
bisa ke Bandung atau karena apa, akhirnya aku mendaftarkan diri sebagai calon
mahasiswa S2 ITB, hehe..doakan semoga diterima yah..aamiin…
Walaupun di Bandung Cuma 3 hari 2 malam, tapi banyak sekali
pengalaman dan teman2 baru. Semua yang ku temui adalah teman2 baru yang baik
dan menyenangkan. Sampai di Bandara Husein Sastranegara, aku dijemput sama
Rani, teman satu grup di ODOJ (One Day One Juz) yang juga kuliah di ITB. Trus
aku diantar ke Farmasi ITB, menemui Lina yang juga baru aku kenal, malamnya aku
mau numpang tidur si kosan Lina, hehe. Bersama Lina aku melihat ruangan tempat
aku ujian TPA besok. Trus aku diantar Rani berkeliling ITB, melihat jurusan
Kimia, jurusan tempat aku menimba ilmu kalau diterima nanti.
Hari pun beranjak sore, aku bersama Lina pulang ke kosannya
di daerah Gegerkalong. Wah, ternyata deket banget dengan kompleks Daaruttauhid.
Malamnya aku berkeliling sekitaran kosan Lina sambil mencari makan dan akhirnya
kita makan malam di MQ Food Court. Lelah dari pagi mulai berangkat dari
Denpasar dan berkeliling di ITB sampai sore membuatku tidur nyenyak dan tidak
sempat belajar TPA lagi.
Tibalah hari H ujian TPA, 17 Mei 2014, ujian 3 jam cukup
membuatku pusing dan ingin muntah, karena paginya hanya sempat makan secuil
roti. Selesai TPA, aku dan Lina pergi ke masjid Salman ITB menemui seorang
kenalan skolioser yang baru ku kenal di fb, Diny. Trus kita keliling, makan
siang, kemudian mampir beli oleh-oleh khas Bandung. Trus kita menuju penginapan
MQ Guest House untuk beristirahat dan bercerita segala macam tentang diri kita
masing-masing dan juga skoliosis kita. Malamnya kita makan mi ramen di depan
penginapan dan berkeliling melihat2 pertokoan di sekitar penginapan.
Akhirnya, hari Ahad, 18 Mei 2014, aku sudah harus balik ke
Bali dan bersiap mengikuti tes selanjutnya dari jurusan Kimia ITB, yaitu tes
jarak jauh via email. Tapi aku kangen sekali dengan teman2 di kantor lamaku di
Perancak, Negara, jadi sampai di Denpasar aku tidak menuju kosan tetapi
langsung meluncur menuju Negara. Bye bye Bandung, semoga Allah meridhoiku kuliah lagi di ITB, jadi aku bisa
kembali ke Bandung lagi, aamiin..
![]() |
| Bersama Lina dan Diny, di depan MQ Guest House, dengan foto edit hasil kreasi Diny, :) |
Ibu, Aku Rindu
Ibu, bila saat ini kau melihatku apa yang akan Ibu katakan.
Ibu, tulang belakangku sudah tidak sebengkok dulu, 2 pen dan 12 skrup sudah terpasang di punggungku.
Ibu, gigiku sudah tidak berantakan seperti dulu, dokter ortodhonti sudah merapikannya untukku.
Ibu, aku sudah mendapatkan tanda seorang wanita sesungguhnya walaupun aku mendapatkannya di waktu wisuda S1.
Ibu, aku sudah menjadi gadis yang berani, suka pergi kemanapun seorang diri, tinggal jauh dari rumah seorang diri, tidak seperti dulu yang bahkan hanya pergi untuk kemah pun aku menangis karena ingin tidur bersamamu.
Ibu, aku sudah tidak pemalu, tidak seperti dulu yang bahkan kalau dudukpun ingin selalu kau pangku.
Ibu, kata teman2 aku cantik, tapi setelah mereka melihat foto Ibu, ternyata mereka bilang aku kalah cantik dari Ibu.
Ibu, sekarang aku sudah bekerja, tapi tetap aku tidak bisa seperti Ibu yang pandai segala hal.
Ibu, kau pandai memasak, pandai menjahit, pandai merajut dan pandai memotong rambut, tapi satupun aku tak bisa.
Ibu, andai kau melihatku, masihkah kau bangga padaku?
Denpasar, 11 Mei 2014
Ditulis dengan linangan air mata yang berderai-derai sampai pagi
Ibu, tulang belakangku sudah tidak sebengkok dulu, 2 pen dan 12 skrup sudah terpasang di punggungku.
Ibu, gigiku sudah tidak berantakan seperti dulu, dokter ortodhonti sudah merapikannya untukku.
Ibu, aku sudah mendapatkan tanda seorang wanita sesungguhnya walaupun aku mendapatkannya di waktu wisuda S1.
Ibu, aku sudah menjadi gadis yang berani, suka pergi kemanapun seorang diri, tinggal jauh dari rumah seorang diri, tidak seperti dulu yang bahkan hanya pergi untuk kemah pun aku menangis karena ingin tidur bersamamu.
Ibu, aku sudah tidak pemalu, tidak seperti dulu yang bahkan kalau dudukpun ingin selalu kau pangku.
Ibu, kata teman2 aku cantik, tapi setelah mereka melihat foto Ibu, ternyata mereka bilang aku kalah cantik dari Ibu.
Ibu, sekarang aku sudah bekerja, tapi tetap aku tidak bisa seperti Ibu yang pandai segala hal.
Ibu, kau pandai memasak, pandai menjahit, pandai merajut dan pandai memotong rambut, tapi satupun aku tak bisa.
Ibu, andai kau melihatku, masihkah kau bangga padaku?
Denpasar, 11 Mei 2014
Ditulis dengan linangan air mata yang berderai-derai sampai pagi
Jumat, 09 Agustus 2013
Semangat dan Syukur para Skolioser
Bismillahirrohmanirrohim...
Tulisan ini saya tujukan untuk diri saya
sendiri, teman-teman sesama skolioser dan seluruh pembaca yang sempat membaca
tulisan ini. Saya terdorong untuk menulis ini demi memotivasi diri saya sendiri
dan teman-teman skolioser pada khususnya dan semua masyarakat pada umumnya.
Harapan saya adalah ingin membuang semua keluhan-keluhan yang mungkin selalu
saja terbersit pada diri seorang skolioser seperti halnya juga saya yang
merupakan manusia biasa yang tak lepas dari keluh kesah. Tapi bagaimana kita
memanage setiap keluh kesah tersebut menjadi rasa syukur yang membuahkan
pahala.
Dalam hidup, tak ada seorangpun manusia yang
lepas dari ujian dan cobaan. Namun ingatlah, setiap ujian yang menimpa kita,
Allah juga pasti telah memberikan solusinya. Kalaupun belum terpecahkan di
dunia, di akhirat pasti kita mendapat balasannya. Selalu berkhusnudzonlah
kepada Allah atas setiap apa yang menimpa kita.
Setelah saya tau bahwa saya adalah salah satu
skolioser (sebutan untuk penyandang skoliosis) yang ada di dunia ini, baru saya
tau bahwa tidak hanya saya seorang yang mempunyai kelainan ini. Ternyata masih
banyak di luar sana yang juga menyandang predikat skolioser. Diantaranya telah
bergabung dalam Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI). Dari MSI inilah saya tau
bahwa banyak yang bernasib sama dengan saya. Di luar sana pastilah masih banyak
skolioser yang tersebar di desa-desa dan di pelosok-pelosok yang kemungkinan
belum tau bahwa apa yang menimpa dirinya dinamakan skoliosis seperti halnya
pula diri saya dahulu.
Saya baru tau bahwa ke’bungkuk’an yang ada di
punggung ini adalah tanda bahwa saya menyandang skoliosis setelah saya berusia
26 tahun. Dari kecil sampai dewasa yang saya tau hanyalah bahwa saya manusia
tidak normal karena bungkuk sebelah. Keluargapun juga begitu, tidak ada satupun
yang membawa saya berobat atau mencari solusi selain hanya dengan
olahraga-olahraga ringan dan bergantungan di pintu agar ‘bungkuk’ ini tidak
semakin menjadi-jadi.
Mungkin diantara teman-teman skolioser ada yang mengeluh minder dan tidak
percaya diri dengan kondisi ini. Sayapun begitu, bahkan tidak sedikit
teman-teman masa kecil yang mengolok-ngolok keadaan saya ini. Sedih? Tentu iya,
tapi berkeluh kesah mendalam? Tidak. Saya buktikan kepada mereka, meskipun saya
berbeda tapi saya bisa lebih dari mereka dalam hal akademik. Dalam hal olahraga
memang saya selalu lemah, lari selalu paling belakang dan terengah-engah, voly
tidak pandai, basket dan lompat tinggi apalagi. Nilai olahraga selalu jelek,
tapi diimbangi dengan nilai akademik yang bagus. Usah bersedih, usah mengeluh,
dibalik segala kekurangan, Allah pasti selipkan kelebihan.
Mungkin pula diantara teman-teman skolioser
mengeluhkan badan yang pendek karena tulang punggung yang semakin melengkung.
150 cm? 145 cm? Apakah itu pendek?? Mungkin jawabannya adalah ya bila kalian
berdiri diantara teman-teman yang mempunyai tinggi 155 cm ke atas. Bagaimana
dengan saya? Sejak SD sampai kuliah, saya adalah siswa yang selalu paling
pendek diantara teman-teman sekelas bahkan sesekolah hingga se-Universitas
(bisa jadi, karena ini pengamatan saya dari masuk kuliah hingga lulus, mungkin
saja ada yang luput dari pandangan saya). Hingga saya dewasa, tinggi badan saya
paling tinggi ‘hanya’lah 138 cm. Itupun masih berkurang lagi hingga 137 cm
karena skoliosis. Hingga saya masuk ke dunia kerjapun sudah bisa ditebak,
pastilah saya yang paling pendek diantara teman-teman. Sudah pendek, bungkuk
pula. Apa saya minder?? Kadang iya, karena saya hanyalah manusia biasa yang
terkadang merasa iri melihat manusia lain dengan tubuh yang sempurna. Tapi
kembali lagi saya tepis semua perasaan itu. Bila orang lain bisa, maka sayapun
harus bisa, toh semua organ-organ saya normal dan bisa bekerja dengan baik.
Mungkin pula ada di antara teman-teman yang
saat ini masih menjalani masa studi di sekolah maupun kuliah. Menjalani
masa-masa OSPEK, KKN, PKL atau seabrek
kegiatan sekolah dan kegiatan di dunia kampus. Khawatir bagaimana dengan skoli
kalian apabila mengikuti OSPEK, KKN atau semacamnya. Lakukan saja selama kalian
merasa kalian mampu melakukannya. Dan saya pribadi merasa bahwa apa yang bisa
dilakukan oleh orang normal juga bisa dilakukan oleh skolioser selama itu
adalah pekerjaan normal. Selama masa sekolah dan kuliah, semua kegiatan yang
ada, saya berusaha untuk mengikuti dengan baik, saya tutupi sebaik mungkin
kelainan yang saya punya walaupun mungkin memang tidak bisa ditutupi. Saya
berusaha menegapkan badan dan berjalan dengan tegak ditambah lagi saya
bersekolah di sekolah islam yang memakai kerudung. Setelah kuliah sayapun tetap
memakai kerudung (soal kerudung ini akan saya bahas lebih lanjut di bawah).
Sehingga bila orang melihat saya sekilas tidak akan terlihat kelainan yang saya
punya, tetapi tetap bisa melihat bahwa saya kecil dan mungil (pengalihan dari
kata ‘pendek’). Kegiatan ekstra pramuka, drumband, KIR juga saya ikuti di masa
sekolah. Pertanyaan-pertanyaan kenapa saya bungkuk, kenapa jalan saya miring
dan sebagainya yang mungkin membuat kuping panas hanya muncul ketika saya SD,
SMP dan ketika saya mengajar di pondok yang banyak anak kecilnya. Ya, hanya
anak kecil yang mempermasalahkan setiap kelainan yang kita punya. Setelah
dewasa, mungkin pertanyaan itu hanya disimpan dalam hati yang membuat saya lega
bisa leluasa menjalani hidup tanpa pertanyaan-pertanyaan yang kembali
mengungkit ke’tidaknormalan’ diri ini. Intinya janganlah terlalu khawatir
berlebihan atas kondisi yang menimpa kita, tapi tetap kita harus berhati-hati
dalam melakukan aktivitas dan bijak dalam melakukan apa yang boleh dan apa yang
tidak boleh dilakukan demi menjaga agar fisik kita tidak semakin parah.
Dalam bekerja, mungkin ada teman-teman
skolioser yang bingung nantinya akan bekerja di bidang apa. Bumi Allah ini
begitu luas terbentang, setiap manusia telah ditentukan rezekinya dan bagaimana
kita berusaha untuk mengambilnya. Pekerjaan apapun bisa dilakukan oleh
skolioser selama itu adalah pekerjaan ‘normal’. Normal yang saya maksud disini
adalah pekerjaan yang tidak membutuhkan tenaga ekstra kuat seperti
angkut-angkut batu, semen, atau beras di punggung. Walaupun mungkin bisa juga
dilakukan, tapi kasian punggungnya bisa-bisa makin parah kebengkokannya. Saya
pernah bekerja di Laboratorium Kelautan dan Perikanan di Perancak, Jembrana,
Bali, sebuah daerah yang membuat rindu untuk kembali kesana, yang terkadang
perlu untuk mengambil sampel secara langsung. Pergi ke berbagai perairan di
Indonesia untuk mengambil sampel air, lamun dan mangrove. Blusukan ke dalam
hutan mangrove dan menceburkan diri ke dalam lumpur untuk menanam mangrove.
Menaiki perahu dan menelusuri perairan dan terkadang ikut nyebur untuk melihat
indahnya terumbu karang di dasar perairan. Mengasyikkan bukan? Tapi ada satu
yang kurang dari saya, saya tidak bisa berenang sehingga hanya bisa menceburkan
diri di perairan yang dangkal-dangkal saja, he..he..
Lakukanlah hal dan pekerjaan positif yang
mengasyikkan di dunia ini. Jangan terlalu menutup diri sehingga banyak hal yang
sebenarnya bisa kita lakukan menjadi terlewatkan.
Seorang skolioser tidak lepas dari adanya
punuk di punggung, termasuk juga saya. Mungkin ada yang terlintas dalam diri
ini “susah ya pilih baju yang pas buat skolioser seperti kita?” Jawabannya tentu
adalah “YA” kalau baju yang kita maksud adalah baju kebaya, kaos ketat dan
pakaian-pakaian sejenis yang menampakkan lekuk tubuh. Bagaimana dengan saya?
Baju apapun yang saya pakai tidak akan bisa menutupi punuk yang ada di punggung
saya karena sudah begitu besar. Minderkah saya? Ya, pasti saya minder, tapi
tidak saya biarkan berlarut-larut. Kembali lagi kepada setiap orang pasti
memiliki kekurangan dan Allah tidak lupa untuk menyelipkan kelebihan. Kembali
lagi kepada “Lihatlah orang yang berada di bawahmu pada perkara dunia dan
lihatlah orang yang berada di atasmu untuk perkara akhirat”. InsyaAllah rasa
minder dan kurang percaya diri lenyap seketika.
![]() | ||
| "Foto sebelum operasi, nampak punggung saya sebelah kanan yang lebih menonjol bukan?" Foto diambil di Kebun Raya Bedugul, Bali |
Sewaktu masa sekolah, walaupun sekolah saya
adalah sekolah islami dan mewajibkan siswinya untuk memakai kerudung, namun
saat itu kewajiban untuk berkerudung belum sepenuhnya saya pahami. Sehingga di
sekolah saya memakai kerudung, namun ketika pulang saya lepaskan dan saya hanya
berkerudung ketika sekolah. Ketika saya kuliah dan sering mengikuti kajian,
barulah saya menyadari bahwa perintah menutup aurat dan berkerudung tercantum
dalam Al-quran. Perintah itu sama wajibnya seperti perintah sholat, puasa,
zakat dan haji bagi yang mampu. Akhirnya sejak itu saya berniat untuk berhijab
secara sempurna, bukan hanya berkerudung untuk pergi kuliah saja, tetapi di
setiap keluar rumah.
Perintah untuk menutup aurat dan berjilbab ada
dalam QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59, yang artinya sebagai
berikut:
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang
beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah
mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami
mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara
laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para
perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau
para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap
perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan
janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang
beriman, agar kamu beruntung.” (Terjemah QS. An-Nur: 31)
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,
anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah
untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Terjemah QS. Al-Ahzab: 59)
Definisi jilbab dalam kamus bahasa arab dan
dalam tafsir al-quran adalah baju kurung yang lapang. Baju kurung yang lapang
biasa disebut jubah atau gamis dalam bahasa kita. Dewasa ini banyak sekali
gamis dengan berbagai corak dan model. Dari model ibu-ibu, model remaja hingga
anak-anak. Jadi kita tidak perlu malu lagi memakai gamis di setiap pergi keluar
rumah. Apalagi ternyata ada perintahnya dalam Al-quran. Tentu saja pilihlah
gamis yang syar’i yaitu yang longgar dan tidak membentuk lekuk tubuh. Jilbab
dan kerudung adalah identitas muslimah yang Allah perintahkan demi kebaikan si
pemakai sendiri. Seperti yang tertera dalam terjemah QS. Al-ahzab ayat 59 di
atas, agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.
So, kita sudah tidak perlu bingung-bingung
lagi kan untuk memilih baju. Mau seperti apapun bentuk kondisi fisik kita.
Jadi, sekarang niatnya diganti, bukan memilih pakaian untuk menutupi kekurangan
fisik kita, tapi niatkanlah untuk menutup aurat mentaati perintah Allah.
InsyaAllah semuanya menjadi mudah dan berkah.
Mungkin sekarang ada teman-teman yang berkeluh
kesah merasa sendiri, tidak ada lagi orang tua yang menemani dan mendukung
kita. Padahal dengan kondisi kita yang seperti ini alangkah bahagianya ada
orang tua disamping kita yang selalu mengerti keadaan kita apalagi juga
mengerti dengan skoliosis kita dan berusaha untuk mencari solusi demi
memperbaiki tulang punggung kita. Sekali lagi, tidak ada satupun manusia di
dunia ini yang tidak luput dari ujian Allah. Segala apapun yang menimpa diri
kita adalah ujian yang akan meningkatkan derajat ketaqwaan kita apabila kita
mampu menjalani sembari bersyukur. Masih banyak di luar sana anak-anak yang
lahir tanpa ayah. Masih banyak di luar sana anak-anak yang tumbuh dewasa tanpa
sentuhan kasih seorang ibu.
Bagaimana dengan saya? Saya lahir di
lingkungan keluarga yang biasa saja dan sama sekali tidak tahu menahu apa itu
skoliosis. Kelainan yang ada pada diri saya dianggap memang ya sudahlah, memang
begitu, mau bagaimana lagi. Selain memang mungkin karena pendidikan yang tidak
begitu tinggi, juga karena kondisi ekonomi yang biasa saja kalau tidak boleh
dikatakan ekonomi menengah ke bawah. Tapi saya sangat menghormati dan mengagumi
kedua orang tua saya, yang walaupun “membiarkan” kelainan yang ada pada diri
saya, saya tau mereka terus memikirkan saya dan selalu berusaha melakukan yang
terbaik untuk saya. Kalaupun tidak ada usaha apapun untuk memperbaiki kelainan
yang ada pada diri saya, itu karena ketidaktahuan mereka dan ketiadaan
biaya. Sedari kecil, orang tua saya terutama ibu begitu getol menyuruh saya
untuk berolahraga dan bergelantungan di pintu setiap pagi sampai telapak tangan
saya kapalan. Masa-masa awal kuliah, ibu saya dipanggil lebih dulu oleh Allah
secara mendadak. Menyusul kemudian ayah saya pergi ke Kalimantan untuk membuka
usaha disana karena usaha ayah di rumah kolaps sepeninggal ibu saya. Tinggalah
saya hanya berdua dengan kakak perempuan saya satu-satunya berusaha tegar,
berjualan sambil kuliah sampai-sampai kakak saya sering membolos. Karena merasa
tidak sanggup untuk berjualan sambil kuliah, akhirnya kamipun hanya fokus
kuliah dan hanya menunggu kiriman dari ayah serta berusaha bagaimana uang itu
cukup untuk kuliah dan biaya sehari-hari kami.
Sampai akhirnya saat ini, kehidupan saya jauh
dari keluarga. Ibu yang sudah tiada, ayah yang tinggal di Kalimantan, kakak
yang sudah punya kehidupan sendiri dengan keluarga barunya di Malang, dan saya
sendiri bekerja di Bali tanpa ada satupun keluarga disana. Sedihkah saya? Tentu
saya sangat sedih, tentu saya sangat rindu berkumpul di tengah keluarga yang
utuh, menikmati masa-masa bahagia bersama mereka. Tapi semua itu Allah ganti
dengan teman-teman yang baik, teman-teman yang mengerti saya, teman-teman yang
tidak mempermasalahkan kekurangan saya, teman-teman yang ringan tangan membantu
saya dan teman-teman yang terkadang kebaikan mereka membuat saya meneteskan air
mata dan membuat saya lupa kalau saya jauh dari keluarga. Bahkan di setiap
lebaran pun saya tidak pernah berkumpul secara utuh dengan keluarga semenjak
saya bekerja di Bali. Tapi tidak lupa saya syukuri, walaupun tidak ada ibu,
tidak ada ayah, tidak ada kakak (karena mudik ke rumah mertuanya), masih ada
bulek, paklek dan sepupu-sepupu saya tiap saya pulang ke Malang.
Kembali ke permasalahan skoliosis, sungguh
sebenarnya tidak ada orang tua yang tidak peduli dan membiarkan kekurangan
kita. Betapa saya menangis mendengar ayah saya meminta maaf karena dulu tidak
bisa membawa saya berobat karena ketiadaan biaya. Jadi jangan pernah
menyalahkan orang tua apabila mereka saat ini belum bisa membawa kalian ke
tempat-tempat dimana kalian bisa memperbaiki kondisi skoliosis kalian, entah
dengan terapi atau dengan operasi. Usaha apapun yang kalian bisa lakukan,
lakukanlah. Yang sudah berani dan sudah punya cukup uang, operasi tentu sangat
baik. Yang belum punya uang cukup dan belum punya keberanian, terapi juga tidak
ada salahnya untuk dilakukan. Karena tidak ada usaha yang sia-sia selama kita
berusaha dengan sungguh-sungguh dengan penuh keyakinan. Bagaimana dengan saya?
Saat saya menulis ini, saya dalam kondisi 2,5 bulan pasca operasi. Ya, saya
sudah menjalani operasi skoliosis (Cerita selengkapnya mengenai operasi
skoliosis saya sudah saya tuliskan di Pulang ke Malang demi Operasi Skoliosis). Padahal sebelumnya saya sudah
menutup pintu rapat-rapat dari keinginan saya untuk operasi karena saya merasa
tidak sanggup untuk memikirkan biaya operasi ini. Namun karena dorongan dari
teman-teman dan juga pemikiran dari mereka bagaimana saya bisa memperoleh biaya
untuk operasi ini, akhirnya saya mantap untuk menjalani operasi walaupun dengan
kompensasi gaji saya yang dipotong hingga separuh lebih selama bertahun-tahun
ke depan. Saya sendiri sempat merasa geli terngiang-ngiang perkataan dari salah
satu teman saya, “Kita kan kerja di instansi kesehatan, masa diri kita sendiri
tidak sehat sih?” Sebenarnya saya merasa sehat, tapi semakin kesini, seiring
kondisi skoli saya yang semakin parah dan aktivitas yang semakin padat, saya
selalu menahan badan agar bisa tegap ketika duduk maupun berdiri dan itu
membuat saya sangat lelah. Di samping itu, ternyata banyak teman-teman yang
memperhatikan kondisi fisik saya yang memang terlihat sangat bungkuk dan
memotivasi saya untuk memperbaikinya. Lagi-lagi, pendek dan bungkuk, itulah
saya. Sekarang sudah 3 bulan saya cuti dari kantor demi operasi skoliosis ini.
Sebentar lagi saya sudah harus kembali ke Politeknik Kesehatan Denpasar, tempat
saya mengabdi semenjak 2 tahun yang lalu. Tentunya dengan keadaan yang lebih
baik, InsyaAllah.
![]() | ||||||
| "Dua bulan pasca Operasi, masih pake penyangga sampai ke leher, karena kebengkokan tulang belakang saya sampai cervical" |
Sungguh, betapa Allah sangat sayang kepada
kita bukan? Bila kita merasa penuh dengan kekurangan, lihatlah orang yang lebih
kurang dari kita. Kita merasa pendek? Lihatlah orang yang lebih pendek dari
kita. Tulang kita bengkok karena skoli? Lihatlah orang yang punya kelainan yang
lebih parah dari kita. Masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita
daripada kita bila kita mau melihat sekeliling kita. Bila kita selalu merasa
sakit, pegal, sesak nafas dan lelah karena skoli kita, ingatlah bahwa Allah
akan menghapus dosa-dosa kita dalam setiap sakit yang kita rasakan. Selalu
lihatlah ke bawah dalam perkara dunia, dan lihatlah ke atas dalam perkara
akhirat. Masalah fisik adalah masalah dunia yang tidak kekal. Tapi tentu saja
kita tidak boleh lupa merawat dan menjaga kesehatan fisik yang telah dititipkan
Allah kepada kita. Itu adalah salah satu bentuk rasa syukur kita atas nikmat
yang telah diberikan-Nya. Irilah kepada orang yang lebih sholeh dan sholehah
daripada kita. Irilah dengan orang yang selalu giat memperbaiki diri. Irilah
dengan orang yang giat dan ulet belajar dan bekerja. Jangan iri dengan
kecantikan dan kesempurnaan fisik orang lain. Kecantikan dan kesempurnaan fisik
hanyalah titipan yang suatu saat bisa saja diambil oleh Allah. Tetapi
kesholehan dan kesempurnaan perilaku kita adalah hal yang sangat bisa kita
upayakan yang akan menambah nilai diri kita dihadapan-Nya dan di hadapan
manusia lain.
Ingatlah bahwa kebengkokan tulang kita
hanyalah setitik dari ujian-Nya yang menimpa kita. Sementara betapa banyak
nikmat lain yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Nikmat yang bila kita
hitung niscaya kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Lihatlah orang yang
lumpuh yang hanya bisa tergeletak di tempat tidur atau di kursi roda. Kita
pasti akan berkata betapa beruntungnya diri kita yang masih bisa bergerak
leluasa dengan tangan dan kaki kita. Tapi lihatlah di akhirat nanti, betapa
beruntungnya orang yang lumpuh itu karena tidak melalui waktu yang lama untuk
dihisab, karena selama hidup tangan dan kakinya tidak pernah melakukan dan
tidak pernah pergi ke tempat-tempat maksiat karena kelumpuhannya. Sementara kita?
Tangan kita, kaki kita, mulut kita, mata kita, telinga kita, semuanya akan
ditanya oleh Allah untuk apa selama kita hidup di dunia. Ya Allah Ya
Robb...ampunilah segala dosa-dosa kami...
Boleh saja kita bersedih, namun jadikanlah
kesedihan itu menghasilkan buah kesabaran. InsyaAllah tiada pahala yang
tercurah sebesar pahala kesabaran.
“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang
indah.” (Terjemah QS. Al-Ma’arij: 5)
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Terjemah QS. Az-Zumar:
39)
Bergembiralah teman, lakukanlah segala
kebaikan yang bisa kita lakukan, munculkanlah setiap potensi yang ada pada diri
kita, berusahalah dan janganlah berputus asa, serta jadilah pribadi yang selalu
bersyukur sehingga kita lupa bahwa kita adalah skolioser. Hidup skolioser!!!
Wallahu a’lam bish showab.
Alhamdulillahirobbil’alamiin...
Kamis, 27 Juni 2013
Pulang ke Malang demi Operasi Skoliosis
![]() |
| Rontgen Sebelum Operasi |
![]() |
| Rontgen Sebelum Operasi |
![]() |
| Rontgen Sesudah Operasi |
![]() |
| Sehari Sebelum Pulang, Smile... |
Perjalanan menuju operasi ini baru ku mulai tahun 2011 saat
usiaku 26 tahun. November 2011, barulah aku bertemu dengan dr. I Ketut Suyasa,
Sp.OT(K)Spine di Denpasar atas dukungan teman-temanku di instansi kesehatan. Hasil
rontgen juga semakin mendukung keparahan derajat skoliosisku yang membuat semua
orang geleng-geleng kepala termasuk diriku sendiri..hehe.. Pilihan yang
diberikan oleh dokter hanya satu yaitu operasi. Mengenai hal ini juga sudah
kuceritakan di tulisan blogku sebelumnya.
Karena mahalnya biaya operasi dan berpikir mengenai
resikonya membuatku berhenti untuk memikirkan skoliosis ini. Sampai setahun
lamanya aku sudah tidak ambil pusing mengenai skoliosis ini. Hingga akhir tahun
2012, aku menemukan sebuah buku yang berjudul Program Pencegahan dan
Penyembuhan Skoliosis untuk Anda yang kemudian aku beli melalui situs
Amazon.com. Dalam buku tersebut dijelaskan diantaranya mengenai asupan nutrisi
dan program latihan untuk penyandang skoliosis. Sempat ku praktekkan sebentar
dan akhirnya aku merasa putus asa mengingat kondisi skoliosisku yang parah.
Padahal alasan sebenarnya adalah aku malas berolahraga..hehe..
Hingga akhirnya di awal tahun 2013, aku diajak oleh mbak
Wilan untuk menemui kakaknya yang merupakan seorang dokter ortopedi. Awal Maret
2013, aku bertemu dengan dr. Anggi, Sp.OT di RSOT Surabaya. Disini aku mendapat
penjelasan panjang dan lebar mengenai skoliosisku dan dari penjelasan dokter
Anggi aku mulai kembali memikirkan untuk menjalani operasi skoliosis. Saat itu
aku mulai mantap untuk menjalani operasi tapi satu yang kupikirkan, biayanya
dari manaaaaaaaaaaaaa?????????????? (Tanda tanyanya panjang sesuai dengan
betapa mahalnya biaya operasi skoliosis, bagiku lo yaa....). Mengenai resiko
setelah operasi, dengan penjelasan dari dokter Anggi yang begitu lengkap
membuatku rasa takutku jauh berkurang. Terimakasih dokter Anggi...
26 Maret 2013
Aku mulai mencari alternatif rumah sakit pemerintah sehingga
aku bisa memanfaatkan fasilitas Askes yang aku punya sehingga bisa membantu
mengurangi beban biaya yang harus aku tanggung. Pilihan pertama jatuh ke RSCM
karena disana aku bisa menemui dr. Rahyus Salim, Sp.OT(K)Spine yang aku kenal
dari blog yang beliau tulis dan dari Masyarakat Skoliosis Indonesia. Beberapa
kali pula konsultasi dengan beliau melalui email. Akhirnya aku berkesempatan
menemui beliau langsung di RSCM Kencana Jakarta. Penjelasan dari dokter Salim
semakin menguatkan niatku untuk melakukan operasi. Karena bila tidak, maka
derajat skoliosisku akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Dengan operasi,
selain mengurangi derajat skoliosisku juga akan menyetop pertumbuhannya.
Kemudian aku dipertemukan dengan dokter Pram, asisten dokter Salim untuk
bertanya segala sesuatu mengenai operasi. Aku juga menemui pihak askes RSCM
bertanya bagaimana alur agar aku bisa operasi disana. Tetap aku harus mendapat
rujukan dari Denpasar karena kartu askesku adalah askes Denpasar. Walaupun
mempunyai askes, aku tetap harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk biaya
implan yang akan ditanam di punggungku karena tidak ditanggung oleh askes.
April 2013
Bulan April merupakan bulan dimana aku wara wiri demi
mencari dana dan mencari rujukan askes. Rujukan dari Puskesmas dan RSUD dengan
mudahnya aku dapatkan untuk kemudian dibawa ke RSUP Sanglah Denpasar. Sekarang
pilihannya menjadi apakah operasi di Denpasar, Surabaya, Jakarta atau Malang?
Akhirnya pilihannya kembali pada keluarga besar. Karena ini adalah operasi
besar, otomatis harus ada dukungan dari keluarga besar. Dan karena keluarga
besarku ada di Malang, akhirnya pilihan terakhir jatuh di Malang. Dengan
bantuan dr. I Ketut Suyasa, Sp.OT(K)Spine, akhirnya aku mendapat rujukan ke
RSUD Syaiful Anwar Malang dengan dr. Syaifullah Asmiragani, Sp.OT(K)Spine.
Mei 2013
Awal Mei aku mulai mengurus ijin cuti untuk pulang ke Malang
demi menjalani operasi skoliosis. Dengan dukungan penuh dari teman-teman kerja
akhirnya dengan mantap aku pulang ke Malang. Sebelum menuju RSUD Syaiful Anwar
Malang, aku bertemu dengan Pak Restu yang merupakan perawat anastesi di RSSA.
Pak Restu inilah yang membantu segala proses sebelum menuju operasi termasuk
menguruskan prosedur askes dan mengantar ke tempat-tempat cek up di RSSA.
14 Mei 2013
Dengan diantar kakak, aku bertemu dengan dokter Syaiful di
paviliun GPH RSSA. Ketika aku masuk, dokter Syaiful sudah memegang hasil
rontgen pertamaku yang sudah dibawakan oleh Pak Restu.
Aku :
“Pagi dok..”
dr. Syaiful :
“Wah..akhirnya ketemu juga nih setelah sebelumnya cuma ketemu di facebook..”
Aku :
“Hehe..iya dok..”
dr. Syaiful :
“Waduh..kenapa baru sekarang nih, sudah berat sekali ini..” (sambil melihat
foto rontgen)
Aku :
“Hehe..”
dr. Syaiful :
“Mau operasi?”
Aku :
“Iya mau..”
dr. Syaiful :
“Coba saya lihat dulu ya..”
Begitulah sekelumit percakapan awal dengan dokter Syaiful
yang kemudian berlanjut dengan pemeriksaan tulang punggungku hingga akhirnya
dokter Syaiful berujar bahwa tulangku sudah kaku dan ini merupakan kasus
terberat yang pernah beliau tangani. Kemudian beliau memberi rujukan untuk
periksa fungsi paru dan rontgen ulang serta memberi rujukan untuk ngamar agar
bisa segera dilaksanakan operasi.
16 Mei 2013
Hari ini aku membuat janji dengan dokter Putu spesialis paru
untuk tes fungsi paru. Dari hasil tes dengan cara meniup pada sebuah alat tes
fungsi paru, ternyata hasil tes fungsi paruku hanya setengah dari nilai normal.
Kesimpulan yang diperoleh adalah fungsi paruku hanya 51%. Dari nilai tersebut,
resiko untuk operasi tulang belakang adalah kecil menuju sedang. Setelah
selesai tes fungsi paru, aku menuju ruang askes RSSA untuk mengurus prosedur
askes. Semua yang kujalani hari ini diantar dan dibantu oleh Pak Restu.
Semuanya jadi mudah dan lancar, Alhamdulillah..
17 Mei 2013
Setelah mendapat hasil rontgen terbaru dan hasil tes fungsi
paru, aku bertemu lagi dengan dokter Syaiful. Melihat hasil tes fungsi paruku,
beliau langsung mengatakan ok dan memberi surat rujukan untuk ngamar di RS.
Dari sini, kembali kegalauan melanda, aku bingung harus memilih kamar yang mana
karena kamar juga menentukan biaya operasi. Dengan berbagai pertimbangan dan
beberapa saran dari Pak Restu dan juga keluarga akhirnya beberapa hari kemudian
aku mantap memilih kamar di ruang melati paviliun Graha Puspa Husada RSSA. Tapi
aku belum langsung memesan kamar karena masih ingin memohon petunjuk dulu dari
Yang Maha Kuasa semoga dipilihkan jalan yang terbaik.
21 Mei 2013
Akhirnya hari Selasa ini, aku baru mendapatkan kamar di
paviliun karena disini banyak sekali antrian yang akan masuk sehingga untuk
bisa ngamar harus booking terlebih dahulu. Sempat berpikir, hmm..pesen kamar
rumah sakit seperti pesen kamar hotel. Tapi, memang di paviliun sini istilahnya
adalah swastanya RSSA tapi masih bisa menggunakan fasilitas askes. Masuk ke
kamar terima, aku langsung diukur tinggi, berat badan, tes jantung, cek darah
dan rontgen torax. Setelah itu aku langsung diantar ke kamar 313 ruang melati.
Hhh..bingung juga pas sudah di kamar, mau ngapain? Kan aku masih sehat
wal’afiat. Tapi tak lama kemudian datanglah perawat yang memasangkan tempat
suntik di tanganku yang aw..aw..aw..sakit sih tapi sedikit. Kemudian datanglah
dokter Syaiful yang mengatakan bahwa operasiku dijadwalkan hari Jumat setelah
sholat Jumat dan mengatakan pada perawat suntikan apa saja yang perlu diberikan
padaku mulai hari ini. Jadi mulai hari ini sebelum operasi, rutin setiap pagi
dan sore aku mendapatkan suntikan vitamin C dan vitamin K. Selebihnya aku masih
bisa jalan-jalan keliling paviliun sambil menunggu jadwal operasi.
22 Mei 2013
Hari ini ada jadwal MRI. Nah, MRI inilah yang membuatku
terpaksa melepas kawat gigi yang baru terpasang di gigi ini selama 6 bulan.
Padahal seharusnya kawat gigi ini masih harus menempel di gigi ini selama 1,5
tahun lagi. Tapi apa daya, demi sebuah operasi skoliosis, aku harus rela
melepaskan kawat gigi ini walaupun dengan sedikit berat hati mengingat biaya
pemasangannya..hiks..hiks.. Aku sudah melepas kawat gigi ini setelah bertemu
dokter Syaiful pertama kali. Aku kembali bertanya kepada beliau untuk
meyakinkan apakah memang kawat gigi ini harus dilepas?? Tentu saya beliau
menjawab ya, karena MRI menggunakan medan magnet yang dapat menarik semua
logam. Bisa-bisa gigiku terlempar keluar semua...aw..aw..aw.. Saat itu akhirnya
aku mencari dokter gigi spesialis orthodonti untuk melepaskan bracket yang udah
terlanjur menempel di gigi ini selama 6 bulan. Bersyukur akhirnya aku bertemu
dengan drg. Masita. Dengan menjelaskan keadaanku yang harus dioperasi
secepatnya dan harus melepas bracket ini karena harus MRI dan aku tidak mungkin
kembali ke Denpasar hanya untuk sekedar melepas bracket akhirnya beliau
bersedia melepaskan bracketku dan membuatkanku retainer agar gigiku tidak
kembali berantakan karena proses pergeseran gigi masih berlangsung.
Kembali ke proses MRI. Setelah meyakinkan bahwa aku tidak
memakai logam sama sekali di tubuh, petugas MRI mulai menyuruhku berbaring,
menata tubuhku sedemikian rupa dan menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal dan
memasang headset di telingaku. Tak lama kemudian masuklah tubuhku secara
perlahan-lahan ke dalam lorong MRI. Aku merasa lamaaaaaaaaa sekali di dalam
lorong sampai tulang-tulangku terasa sakit. Aku tidak begitu memperhatikan
berapa jam aku ada di dalam lorong MRI. Tapi aku ingat ketika keluar dari kamar
dan diantar perawat menuju ruang MRI, saat itu jam menunjukkan pukul 08.30 dan
ketika aku kembali ke kamar, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Wow...selama
itukah berarti aku berada di ruang MRI?
23 Mei 2013
Hari ini hari terakhir aku bebas sebelum operasi. Sebelum
operasi, aku ingin menikmati hari ini dengan berjalan-jalan dengan sepupuku
sambil membeli es krim. Tepat ketika aku sampai di depan pintu sebelum
melangkahkan kaki keluar kamar, dokter Syaiful sudah muncul di hadapanku.
Beliau mengingatkan bahwa besok jadwal operasiku sekitar pukul 13.00 WIB. Aku
bertanya, apa ada hal-hal yang mungkin perlu saya persiapkan dok? Beliau
menjawab dengan simpel, banyak-banyak berdoa. Sore harinya, dr. Rudi Hartono, Sp.An
datang ke kamar dan memperkenalkan diri bahwa beliau yang akan bertindak
sebagai dokter anastesiku besok dan bertanya serta menjelaskan beberapa hal
terkait prosedur anastesi pada operasiku besok.
24 Mei 2013
Teng..teng..teng..tak terasa tibalah jadwal operasi.
Pagi-pagi setelah memberikan suntikan rutin, perawat menyuruhku segera mandi
karena akan segera dipasang infus. Pukul 07.00 aku sudah mulai berpuasa.
Rasanya waktu berjalan sangat singkat hingga akhirnya pukul 12.30 aku di tes
alergi dan diberikan suntikan antibiotik kemudian disuruh berganti pakaian
operasi. Pukul 13.00, perawat yang akan mengantarku ke ruang operasi sudah tiba
sambil membawa kursi roda. Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi, badanku
panas dingin sambil bibirku terus mengucap dzikir dan doa. Sampai di dalam
kamar operasi, aku sudah tidak sempat menghitung berapa banyak orang yang ada
disana. Semua sudah menggunakan masker dan penutup kepala. Rasanya banyak
sekali dokter-dokter yang ada disana. Aku juga sempat melihat beberapa di
antara mereka memasang dan mengamati foto rontgenku. Setelah itu, salah seorang
dokter yang bernama dokter Harun memperkenalkan diri sebagai asisten dokter
Syaiful yang akan membantu proses operasiku. Dokter Harun juga menjelaskan
bahwa nanti aku akan dibangunkan untuk menggerak-gerakkan kakiku. Tepat setelah
itu, aku sama sekali tidak mengingat apapun sampai keesokan harinya. Kemudian
baru aku tau bahwa aku keluar dari ruang operasi pada pukul 22.00 WIB dan
mampir dulu di ruang ICU.
25 Mei 2013
Aku tidak tau pukul berapa ketika aku tepat membuka mata.
Yang ku ingat saat itu aku berada di ruang ICU dan banyak sekali rasanya
alat-alat yang ada di sisiku. Di hidungku juga terpasang selang oksigen. Semua
yang ku lihat serba samar-samar. Kakak iparku datang untuk menyuapiku makan
pagi tapi aku sama sekali tak berselera makan. Aku memaksakan diri untuk
menelan makanan yang masuk ke mulutku dan tak berselang lama semua yang telah
ku telan termuntahkan kembali. Kemudian datang seseorang yang menyuruhku
menggerak-gerakkan kaki dan tanganku. Seseorang itupun hanya samar-samar ku
lihat. Entah itu dokter anastesiku, entah asisten dokter, benar-benar aku tidak
bisa melihat dengan jelas. Semua badanku termasuk mata terasa berat. Siangnya
paklekku datang untuk menyuapiku makan siang dan aku sama sekali tak ingin
makan. Aku takut muntah lagi setelah tadi sudah muntah dua kali. Akhirnya aku
dibuatkan susu tinggi kalori dan protein untuk menggantikan asupan makan
siangku. Itupun hanya mampu ku minum sedikit. Sampai-sampai perawat mengatakan
kepadaku kalau aku tidak mau makan nanti bisa-bisa dipasangkan selang melalui
hidung untuk memasukkan makanan. Kemudian ada perawat yang meminumkan susu
kepadaku sambil menasehati bahwa harus ada asupan makanan yang masuk ke
tubuhku. Akhirnya pukul 14.00, aku sudah dipindahkan ke kamarku semula.
Sampai di kamar, sudah banyak keluarga dan teman-teman yang
menjenguk. Karena kondisiku sangat lemah, aku hampir-hampir tidak bisa
berbicara tapi aku sempatkan untuk menyapa mereka. Selebihnya aku hanya mampu
terdiam sambil merasakan sakit yang mulai terasa di punggung ini.
26 Mei 2013 s/d 3 Juni 2013
Tidak banyak yang bisa kulakukan setelah menjalani operasi selain makan, tidur dan minum obat. Tapi aku merasa hampir tidak bisa tidur karena merasakan sakit yang teramat sangat di punggung. Sempat aku berkata pada perawat ingin dibius lagi karena sangat tidak tahan dengan sakit yang ku rasakan. Kerabat dan para tetangga banyak yang menjengukku di rumah sakit, padahal aku tidak bilang ke para tetangga, keluargapun hanya keluarga dekat yang tau. Senangnya mereka datang, walaupun ketika mereka datang, aku masih terbujur lemah tak berdaya di kasur. Ada satu lagi kejutan untukku, 2 hari pasca operasi seorang sobat dari Masyarakat Skoliosis Indonesia datang menjengukku. Ya, baru hari itu kami bertemu setelah sebelumnya hanya berkomunikasi via fb dan sms. Aku biasa memanggilnya Gluck, sesuai nama yang pertama kali kukenal darinya. Dia datang bersama ayah dan adiknya langsung dari Mojokerto. Tapi sayang kami tidak sempat berfoto bersama, karena hari itu aku masih sangat tidak berdaya menahan sakit dan sama sekali tidak kepikiran untuk mengabadikan momen ini. Baru setelah mereka pulang, terlintaslah di pikiranku kenapa tadi tidak foto bareng. Aaaahhh...selalu saja ingat belakangan. Terimakasih Gluck n fams udah jauh-jauh jengukin aku. Menjadi kekuatan tersendiri dihibur sesama penyandang skoliosis.
Enam hari pasca operasi alat TCO ku sudah jadi dan aku mulai memakainya dan mulai belajar berjalan. Waaahh..bahagianya bangun dari tempat tidur setelah seminggu lamanya hanya bisa berbaring atau duduk di kasur. Setelah dirasa cukup kuat untuk berjalan-jalan, akhirnya hari Senin, 3 Juni 2013 aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Walaupun sudah diperbolehkan pulang, tapi aku harus mematuhi saran dokter untuk terus memakai alat penyangga selama 3 bulan dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Welcome home Sofi...
Setelah menjalani operasi banyak perubahan positif yang aku rasakan, diantaranya punggung bagian kiriku yang sebelumnya tertarik ke arah kanan menjadi 'lurus' dan aku tidak harus menahannya lagi dengan tangan ketika duduk, dadaku yang sebelumnya agak membusung sudah berkurang, tonjolan di punggung kanan juga berkurang, dan aku menjadi bertambah tinggi 5 cm. Alhamdulillah...
O iya, hampir lupa, jadi skoliosisku ini disebabkan oleh neurofibromatosis yaitu semacam tumor jinak yang menyerang saraf yang dapat menimbulkan masalah dalam kerangka tubuh, seperti kelainan lengkung tulang belakang (kifoskoliosis), kelainan bentuk tulang iga, pembesaran tulang panjang pada lengan dan tungkai serta kelainan tulang tengkorak dan di sekitar mata.
Begitulah cerita singkat mengenai perjalanan operasi skoliosisku, semoga bisa menjadi referensi buat kalian yang juga sama sepertiku memiliki kelainan di tulang belakang. Seperti yang sudah ku tuliskan di awal, semua yang diciptakan oleh-Nya tidak ada yang sia-sia, begitupula dengan skoliosis yang kita miliki. Maka berusahalah semampu kita tanpa bersedih hati karena segala usaha yang kita lakukan pun pasti tidak ada yang sia-sia. Ayo semangat!!! Walaupun memiliki tulang belakang yang bengkok, bukan berarti kita kurang sempurna dari yang tulang belakangnya lurus, justru kita diberi kelebihan oleh-Nya. Bukankah sesuatu yang langka itu unik?
Enam hari pasca operasi alat TCO ku sudah jadi dan aku mulai memakainya dan mulai belajar berjalan. Waaahh..bahagianya bangun dari tempat tidur setelah seminggu lamanya hanya bisa berbaring atau duduk di kasur. Setelah dirasa cukup kuat untuk berjalan-jalan, akhirnya hari Senin, 3 Juni 2013 aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Walaupun sudah diperbolehkan pulang, tapi aku harus mematuhi saran dokter untuk terus memakai alat penyangga selama 3 bulan dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Welcome home Sofi...
Setelah menjalani operasi banyak perubahan positif yang aku rasakan, diantaranya punggung bagian kiriku yang sebelumnya tertarik ke arah kanan menjadi 'lurus' dan aku tidak harus menahannya lagi dengan tangan ketika duduk, dadaku yang sebelumnya agak membusung sudah berkurang, tonjolan di punggung kanan juga berkurang, dan aku menjadi bertambah tinggi 5 cm. Alhamdulillah...
O iya, hampir lupa, jadi skoliosisku ini disebabkan oleh neurofibromatosis yaitu semacam tumor jinak yang menyerang saraf yang dapat menimbulkan masalah dalam kerangka tubuh, seperti kelainan lengkung tulang belakang (kifoskoliosis), kelainan bentuk tulang iga, pembesaran tulang panjang pada lengan dan tungkai serta kelainan tulang tengkorak dan di sekitar mata.
Begitulah cerita singkat mengenai perjalanan operasi skoliosisku, semoga bisa menjadi referensi buat kalian yang juga sama sepertiku memiliki kelainan di tulang belakang. Seperti yang sudah ku tuliskan di awal, semua yang diciptakan oleh-Nya tidak ada yang sia-sia, begitupula dengan skoliosis yang kita miliki. Maka berusahalah semampu kita tanpa bersedih hati karena segala usaha yang kita lakukan pun pasti tidak ada yang sia-sia. Ayo semangat!!! Walaupun memiliki tulang belakang yang bengkok, bukan berarti kita kurang sempurna dari yang tulang belakangnya lurus, justru kita diberi kelebihan oleh-Nya. Bukankah sesuatu yang langka itu unik?
Langganan:
Postingan (Atom)







