Selasa, 27 Mei 2014

Kumpul-kumpul MSI Malang

Mumpung lagi berlibur di Malang, ketemuan lagi sama komunitas Masyarakat Skoliosis Indonesia yang ada di Malang. Walaupun banyak yang ga bisa, akhirnya kita kumpul dengan yang bisa2 aja di Malang Town Square. Cerita-cerita, jalan-jalan, seru-seruan sampai foto-fotoan. Itulah agenda kita hari itu. Ada kejadian lucu waktu kita jalan2 di Gramedia, aku melihat remaja laki-laki yang postur tubuhnya dapat dipastikan skoliosis. Trus aku bilang ke Silfi dan Bhela. Mereka semua mengiyakan. Silfi menyuruh aku nyamperin tuh anak dan berkenalan untuk kita ajak gabung ke grup kita sekalian. Tapi berhubung aku ga mau, akhirnya Silfi yang maju. Haha, apa yang terjadi, ternyata Silfi ditolak mentah-mentah. Jadi Silfi main tembak aja tuh anak."Eh, kamu skoliosis ya??" tanya Silfi ke anak itu. Anak itu langsung kaget menjawab, "Bukan". Silfi langsung kabuuuuuuuurrrr....hahaha...Silfi...Silfi...ya terang aja dia jawab kayak gitu, habisnya kamu kayak lagi nembak cowok aja, "eh kamu mau ga jadi pacar aku??", "nggak...." haha..piiss Silfi, mungkin dia masih ga ngeh kalo dia sebenarnya juga skoliosis seperti kita. Wah, padahal kalo memang dia belum ngerti, semestinya tugas kita untuk membuat dia mengerti, tapi apa daya, dia udah menolak duluan sih...hihihihi...:D
Bhela (kerudung modif), Silfi (kerudung hijau tosca), Hanani (kerudung biru), Syifa (kerudung oranye, bukan skoliosis tapi sepupuku), Aku (kerudung bunga2 merah)

Bandung, Akhirnya ke Bandung juga…



Kali ini aku mau bercerita pengalamanku waktu ke Bandung tanggal 16 – 18 Mei kemaren. Mungkin memang bukan sesuatu yang sangat spesial, tapi Bandung adalah kota yang dari dulu sangat ingin aku kunjungi tapi ga kesampaian2 juga, karena memang belum ada kepentingan kesana. Entah karena biar bisa ke Bandung atau karena apa, akhirnya aku mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa S2 ITB, hehe..doakan semoga diterima yah..aamiin…
Walaupun di Bandung Cuma 3 hari 2 malam, tapi banyak sekali pengalaman dan teman2 baru. Semua yang ku temui adalah teman2 baru yang baik dan menyenangkan. Sampai di Bandara Husein Sastranegara, aku dijemput sama Rani, teman satu grup di ODOJ (One Day One Juz) yang juga kuliah di ITB. Trus aku diantar ke Farmasi ITB, menemui Lina yang juga baru aku kenal, malamnya aku mau numpang tidur si kosan Lina, hehe. Bersama Lina aku melihat ruangan tempat aku ujian TPA besok. Trus aku diantar Rani berkeliling ITB, melihat jurusan Kimia, jurusan tempat aku menimba ilmu kalau diterima nanti.
Hari pun beranjak sore, aku bersama Lina pulang ke kosannya di daerah Gegerkalong. Wah, ternyata deket banget dengan kompleks Daaruttauhid. Malamnya aku berkeliling sekitaran kosan Lina sambil mencari makan dan akhirnya kita makan malam di MQ Food Court. Lelah dari pagi mulai berangkat dari Denpasar dan berkeliling di ITB sampai sore membuatku tidur nyenyak dan tidak sempat belajar TPA lagi.
Tibalah hari H ujian TPA, 17 Mei 2014, ujian 3 jam cukup membuatku pusing dan ingin muntah, karena paginya hanya sempat makan secuil roti. Selesai TPA, aku dan Lina pergi ke masjid Salman ITB menemui seorang kenalan skolioser yang baru ku kenal di fb, Diny. Trus kita keliling, makan siang, kemudian mampir beli oleh-oleh khas Bandung. Trus kita menuju penginapan MQ Guest House untuk beristirahat dan bercerita segala macam tentang diri kita masing-masing dan juga skoliosis kita. Malamnya kita makan mi ramen di depan penginapan dan berkeliling melihat2 pertokoan di sekitar penginapan.
Akhirnya, hari Ahad, 18 Mei 2014, aku sudah harus balik ke Bali dan bersiap mengikuti tes selanjutnya dari jurusan Kimia ITB, yaitu tes jarak jauh via email. Tapi aku kangen sekali dengan teman2 di kantor lamaku di Perancak, Negara, jadi sampai di Denpasar aku tidak menuju kosan tetapi langsung meluncur menuju Negara. Bye bye Bandung, semoga Allah meridhoiku kuliah lagi di ITB, jadi aku bisa kembali ke Bandung lagi, aamiin..

Bersama Lina dan Diny, di depan MQ Guest House, dengan foto edit hasil kreasi Diny, :)


Ibu, Aku Rindu

Ibu, bila saat ini kau melihatku apa yang akan Ibu katakan.
Ibu, tulang belakangku sudah tidak sebengkok dulu, 2 pen dan 12 skrup sudah terpasang di punggungku.
Ibu, gigiku sudah tidak berantakan seperti dulu, dokter ortodhonti sudah merapikannya untukku.
Ibu, aku sudah mendapatkan tanda seorang wanita sesungguhnya walaupun aku mendapatkannya di waktu wisuda S1.
Ibu, aku sudah menjadi gadis yang berani, suka pergi kemanapun seorang diri, tinggal jauh dari rumah seorang diri, tidak seperti dulu yang bahkan hanya pergi untuk kemah pun aku menangis karena ingin tidur bersamamu.
Ibu, aku sudah tidak pemalu, tidak seperti dulu yang bahkan kalau dudukpun ingin selalu kau pangku.
Ibu, kata teman2 aku cantik, tapi setelah mereka melihat foto Ibu, ternyata mereka bilang aku kalah cantik dari Ibu.
Ibu, sekarang aku sudah bekerja, tapi tetap aku tidak bisa seperti Ibu yang pandai segala hal.
Ibu, kau pandai memasak, pandai menjahit, pandai merajut dan pandai memotong rambut, tapi satupun aku tak bisa.
Ibu, andai kau melihatku, masihkah kau bangga padaku?


Denpasar, 11 Mei 2014
Ditulis dengan linangan air mata yang berderai-derai sampai pagi

Jumat, 09 Agustus 2013

Semangat dan Syukur para Skolioser


Bismillahirrohmanirrohim...

Tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri, teman-teman sesama skolioser dan seluruh pembaca yang sempat membaca tulisan ini. Saya terdorong untuk menulis ini demi memotivasi diri saya sendiri dan teman-teman skolioser pada khususnya dan semua masyarakat pada umumnya. Harapan saya adalah ingin membuang semua keluhan-keluhan yang mungkin selalu saja terbersit pada diri seorang skolioser seperti halnya juga saya yang merupakan manusia biasa yang tak lepas dari keluh kesah. Tapi bagaimana kita memanage setiap keluh kesah tersebut menjadi rasa syukur yang membuahkan pahala.

Dalam hidup, tak ada seorangpun manusia yang lepas dari ujian dan cobaan. Namun ingatlah, setiap ujian yang menimpa kita, Allah juga pasti telah memberikan solusinya. Kalaupun belum terpecahkan di dunia, di akhirat pasti kita mendapat balasannya. Selalu berkhusnudzonlah kepada Allah atas setiap apa yang menimpa kita.

Setelah saya tau bahwa saya adalah salah satu skolioser (sebutan untuk penyandang skoliosis) yang ada di dunia ini, baru saya tau bahwa tidak hanya saya seorang yang mempunyai kelainan ini. Ternyata masih banyak di luar sana yang juga menyandang predikat skolioser. Diantaranya telah bergabung dalam Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI). Dari MSI inilah saya tau bahwa banyak yang bernasib sama dengan saya. Di luar sana pastilah masih banyak skolioser yang tersebar di desa-desa dan di pelosok-pelosok yang kemungkinan belum tau bahwa apa yang menimpa dirinya dinamakan skoliosis seperti halnya pula diri saya dahulu.

Saya baru tau bahwa ke’bungkuk’an yang ada di punggung ini adalah tanda bahwa saya menyandang skoliosis setelah saya berusia 26 tahun. Dari kecil sampai dewasa yang saya tau hanyalah bahwa saya manusia tidak normal karena bungkuk sebelah. Keluargapun juga begitu, tidak ada satupun yang membawa saya berobat atau mencari solusi selain hanya dengan olahraga-olahraga ringan dan bergantungan di pintu agar ‘bungkuk’ ini tidak semakin menjadi-jadi.

Mungkin diantara teman-teman  skolioser ada yang mengeluh minder dan tidak percaya diri dengan kondisi ini. Sayapun begitu, bahkan tidak sedikit teman-teman masa kecil yang mengolok-ngolok keadaan saya ini. Sedih? Tentu iya, tapi berkeluh kesah mendalam? Tidak.  Saya buktikan kepada mereka, meskipun saya berbeda tapi saya bisa lebih dari mereka dalam hal akademik. Dalam hal olahraga memang saya selalu lemah, lari selalu paling belakang dan terengah-engah, voly tidak pandai, basket dan lompat tinggi apalagi. Nilai olahraga selalu jelek, tapi diimbangi dengan nilai akademik yang bagus. Usah bersedih, usah mengeluh, dibalik segala kekurangan, Allah pasti selipkan kelebihan.

Mungkin pula diantara teman-teman skolioser mengeluhkan badan yang pendek karena tulang punggung yang semakin melengkung. 150 cm? 145 cm? Apakah itu pendek?? Mungkin jawabannya adalah ya bila kalian berdiri diantara teman-teman yang mempunyai tinggi 155 cm ke atas. Bagaimana dengan saya? Sejak SD sampai kuliah, saya adalah siswa yang selalu paling pendek diantara teman-teman sekelas bahkan sesekolah hingga se-Universitas (bisa jadi, karena ini pengamatan saya dari masuk kuliah hingga lulus, mungkin saja ada yang luput dari pandangan saya). Hingga saya dewasa, tinggi badan saya paling tinggi ‘hanya’lah 138 cm. Itupun masih berkurang lagi hingga 137 cm karena skoliosis. Hingga saya masuk ke dunia kerjapun sudah bisa ditebak, pastilah saya yang paling pendek diantara teman-teman. Sudah pendek, bungkuk pula. Apa saya minder?? Kadang iya, karena saya hanyalah manusia biasa yang terkadang merasa iri melihat manusia lain dengan tubuh yang sempurna. Tapi kembali lagi saya tepis semua perasaan itu. Bila orang lain bisa, maka sayapun harus bisa, toh semua organ-organ saya normal dan bisa bekerja dengan baik.

Mungkin pula ada di antara teman-teman yang saat ini masih menjalani masa studi di sekolah maupun kuliah. Menjalani masa-masa OSPEK, KKN, PKL  atau seabrek kegiatan sekolah dan kegiatan di dunia kampus. Khawatir bagaimana dengan skoli kalian apabila mengikuti OSPEK, KKN atau semacamnya. Lakukan saja selama kalian merasa kalian mampu melakukannya. Dan saya pribadi merasa bahwa apa yang bisa dilakukan oleh orang normal juga bisa dilakukan oleh skolioser selama itu adalah pekerjaan normal. Selama masa sekolah dan kuliah, semua kegiatan yang ada, saya berusaha untuk mengikuti dengan baik, saya tutupi sebaik mungkin kelainan yang saya punya walaupun mungkin memang tidak bisa ditutupi. Saya berusaha menegapkan badan dan berjalan dengan tegak ditambah lagi saya bersekolah di sekolah islam yang memakai kerudung. Setelah kuliah sayapun tetap memakai kerudung (soal kerudung ini akan saya bahas lebih lanjut di bawah). Sehingga bila orang melihat saya sekilas tidak akan terlihat kelainan yang saya punya, tetapi tetap bisa melihat bahwa saya kecil dan mungil (pengalihan dari kata ‘pendek’). Kegiatan ekstra pramuka, drumband, KIR juga saya ikuti di masa sekolah. Pertanyaan-pertanyaan kenapa saya bungkuk, kenapa jalan saya miring dan sebagainya yang mungkin membuat kuping panas hanya muncul ketika saya SD, SMP dan ketika saya mengajar di pondok yang banyak anak kecilnya. Ya, hanya anak kecil yang mempermasalahkan setiap kelainan yang kita punya. Setelah dewasa, mungkin pertanyaan itu hanya disimpan dalam hati yang membuat saya lega bisa leluasa menjalani hidup tanpa pertanyaan-pertanyaan yang kembali mengungkit ke’tidaknormalan’ diri ini. Intinya janganlah terlalu khawatir berlebihan atas kondisi yang menimpa kita, tapi tetap kita harus berhati-hati dalam melakukan aktivitas dan bijak dalam melakukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan demi menjaga agar fisik kita tidak semakin parah.

Dalam bekerja, mungkin ada teman-teman skolioser yang bingung nantinya akan bekerja di bidang apa. Bumi Allah ini begitu luas terbentang, setiap manusia telah ditentukan rezekinya dan bagaimana kita berusaha untuk mengambilnya. Pekerjaan apapun bisa dilakukan oleh skolioser selama itu adalah pekerjaan ‘normal’. Normal yang saya maksud disini adalah pekerjaan yang tidak membutuhkan tenaga ekstra kuat seperti angkut-angkut batu, semen, atau beras di punggung. Walaupun mungkin bisa juga dilakukan, tapi kasian punggungnya bisa-bisa makin parah kebengkokannya. Saya pernah bekerja di Laboratorium Kelautan dan Perikanan di Perancak, Jembrana, Bali, sebuah daerah yang membuat rindu untuk kembali kesana, yang terkadang perlu untuk mengambil sampel secara langsung. Pergi ke berbagai perairan di Indonesia untuk mengambil sampel air, lamun dan mangrove. Blusukan ke dalam hutan mangrove dan menceburkan diri ke dalam lumpur untuk menanam mangrove. Menaiki perahu dan menelusuri perairan dan terkadang ikut nyebur untuk melihat indahnya terumbu karang di dasar perairan. Mengasyikkan bukan? Tapi ada satu yang kurang dari saya, saya tidak bisa berenang sehingga hanya bisa menceburkan diri di perairan yang dangkal-dangkal saja, he..he..
Lakukanlah hal dan pekerjaan positif yang mengasyikkan di dunia ini. Jangan terlalu menutup diri sehingga banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan menjadi terlewatkan.

Seorang skolioser tidak lepas dari adanya punuk di punggung, termasuk juga saya. Mungkin ada yang terlintas dalam diri ini “susah ya pilih baju yang pas buat skolioser seperti kita?” Jawabannya tentu adalah “YA” kalau baju yang kita maksud adalah baju kebaya, kaos ketat dan pakaian-pakaian sejenis yang menampakkan lekuk tubuh. Bagaimana dengan saya? Baju apapun yang saya pakai tidak akan bisa menutupi punuk yang ada di punggung saya karena sudah begitu besar. Minderkah saya? Ya, pasti saya minder, tapi tidak saya biarkan berlarut-larut. Kembali lagi kepada setiap orang pasti memiliki kekurangan dan Allah tidak lupa untuk menyelipkan kelebihan. Kembali lagi kepada “Lihatlah orang yang berada di bawahmu pada perkara dunia dan lihatlah orang yang berada di atasmu untuk perkara akhirat”. InsyaAllah rasa minder dan kurang percaya diri lenyap seketika.
"Foto sebelum operasi, nampak punggung saya sebelah kanan yang lebih menonjol bukan?" Foto diambil di Kebun Raya Bedugul, Bali


Sewaktu masa sekolah, walaupun sekolah saya adalah sekolah islami dan mewajibkan siswinya untuk memakai kerudung, namun saat itu kewajiban untuk berkerudung belum sepenuhnya saya pahami. Sehingga di sekolah saya memakai kerudung, namun ketika pulang saya lepaskan dan saya hanya berkerudung ketika sekolah. Ketika saya kuliah dan sering mengikuti kajian, barulah saya menyadari bahwa perintah menutup aurat dan berkerudung tercantum dalam Al-quran. Perintah itu sama wajibnya seperti perintah sholat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu. Akhirnya sejak itu saya berniat untuk berhijab secara sempurna, bukan hanya berkerudung untuk pergi kuliah saja, tetapi di setiap keluar rumah.

Perintah untuk menutup aurat dan berjilbab ada dalam QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59, yang artinya sebagai berikut:

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (Terjemah QS. An-Nur: 31)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Terjemah QS. Al-Ahzab: 59)

Definisi jilbab dalam kamus bahasa arab dan dalam tafsir al-quran adalah baju kurung yang lapang. Baju kurung yang lapang biasa disebut jubah atau gamis dalam bahasa kita. Dewasa ini banyak sekali gamis dengan berbagai corak dan model. Dari model ibu-ibu, model remaja hingga anak-anak. Jadi kita tidak perlu malu lagi memakai gamis di setiap pergi keluar rumah. Apalagi ternyata ada perintahnya dalam Al-quran. Tentu saja pilihlah gamis yang syar’i yaitu yang longgar dan tidak membentuk lekuk tubuh. Jilbab dan kerudung adalah identitas muslimah yang Allah perintahkan demi kebaikan si pemakai sendiri. Seperti yang tertera dalam terjemah QS. Al-ahzab ayat 59 di atas, agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.

So, kita sudah tidak perlu bingung-bingung lagi kan untuk memilih baju. Mau seperti apapun bentuk kondisi fisik kita. Jadi, sekarang niatnya diganti, bukan memilih pakaian untuk menutupi kekurangan fisik kita, tapi niatkanlah untuk menutup aurat mentaati perintah Allah. InsyaAllah semuanya menjadi mudah dan berkah.

Mungkin sekarang ada teman-teman yang berkeluh kesah merasa sendiri, tidak ada lagi orang tua yang menemani dan mendukung kita. Padahal dengan kondisi kita yang seperti ini alangkah bahagianya ada orang tua disamping kita yang selalu mengerti keadaan kita apalagi juga mengerti dengan skoliosis kita dan berusaha untuk mencari solusi demi memperbaiki tulang punggung kita. Sekali lagi, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak luput dari ujian Allah. Segala apapun yang menimpa diri kita adalah ujian yang akan meningkatkan derajat ketaqwaan kita apabila kita mampu menjalani sembari bersyukur. Masih banyak di luar sana anak-anak yang lahir tanpa ayah. Masih banyak di luar sana anak-anak yang tumbuh dewasa tanpa sentuhan kasih seorang ibu.

Bagaimana dengan saya? Saya lahir di lingkungan keluarga yang biasa saja dan sama sekali tidak tahu menahu apa itu skoliosis. Kelainan yang ada pada diri saya dianggap memang ya sudahlah, memang begitu, mau bagaimana lagi. Selain memang mungkin karena pendidikan yang tidak begitu tinggi, juga karena kondisi ekonomi yang biasa saja kalau tidak boleh dikatakan ekonomi menengah ke bawah. Tapi saya sangat menghormati dan mengagumi kedua orang tua saya, yang walaupun “membiarkan” kelainan yang ada pada diri saya, saya tau mereka terus memikirkan saya dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk saya. Kalaupun tidak ada usaha apapun untuk memperbaiki kelainan yang ada pada diri saya, itu karena ketidaktahuan mereka dan ketiadaan biaya. Sedari kecil, orang tua saya terutama ibu begitu getol menyuruh saya untuk berolahraga dan bergelantungan di pintu setiap pagi sampai telapak tangan saya kapalan. Masa-masa awal kuliah, ibu saya dipanggil lebih dulu oleh Allah secara mendadak. Menyusul kemudian ayah saya pergi ke Kalimantan untuk membuka usaha disana karena usaha ayah di rumah kolaps sepeninggal ibu saya. Tinggalah saya hanya berdua dengan kakak perempuan saya satu-satunya berusaha tegar, berjualan sambil kuliah sampai-sampai kakak saya sering membolos. Karena merasa tidak sanggup untuk berjualan sambil kuliah, akhirnya kamipun hanya fokus kuliah dan hanya menunggu kiriman dari ayah serta berusaha bagaimana uang itu cukup untuk kuliah dan biaya sehari-hari kami.

Sampai akhirnya saat ini, kehidupan saya jauh dari keluarga. Ibu yang sudah tiada, ayah yang tinggal di Kalimantan, kakak yang sudah punya kehidupan sendiri dengan keluarga barunya di Malang, dan saya sendiri bekerja di Bali tanpa ada satupun keluarga disana. Sedihkah saya? Tentu saya sangat sedih, tentu saya sangat rindu berkumpul di tengah keluarga yang utuh, menikmati masa-masa bahagia bersama mereka. Tapi semua itu Allah ganti dengan teman-teman yang baik, teman-teman yang mengerti saya, teman-teman yang tidak mempermasalahkan kekurangan saya, teman-teman yang ringan tangan membantu saya dan teman-teman yang terkadang kebaikan mereka membuat saya meneteskan air mata dan membuat saya lupa kalau saya jauh dari keluarga. Bahkan di setiap lebaran pun saya tidak pernah berkumpul secara utuh dengan keluarga semenjak saya bekerja di Bali. Tapi tidak lupa saya syukuri, walaupun tidak ada ibu, tidak ada ayah, tidak ada kakak (karena mudik ke rumah mertuanya), masih ada bulek, paklek dan sepupu-sepupu saya tiap saya pulang ke Malang.

Kembali ke permasalahan skoliosis, sungguh sebenarnya tidak ada orang tua yang tidak peduli dan membiarkan kekurangan kita. Betapa saya menangis mendengar ayah saya meminta maaf karena dulu tidak bisa membawa saya berobat karena ketiadaan biaya. Jadi jangan pernah menyalahkan orang tua apabila mereka saat ini belum bisa membawa kalian ke tempat-tempat dimana kalian bisa memperbaiki kondisi skoliosis kalian, entah dengan terapi atau dengan operasi. Usaha apapun yang kalian bisa lakukan, lakukanlah. Yang sudah berani dan sudah punya cukup uang, operasi tentu sangat baik. Yang belum punya uang cukup dan belum punya keberanian, terapi juga tidak ada salahnya untuk dilakukan. Karena tidak ada usaha yang sia-sia selama kita berusaha dengan sungguh-sungguh dengan penuh keyakinan. Bagaimana dengan saya? Saat saya menulis ini, saya dalam kondisi 2,5 bulan pasca operasi. Ya, saya sudah menjalani operasi skoliosis (Cerita selengkapnya mengenai operasi skoliosis saya sudah saya tuliskan di Pulang ke Malang demi Operasi Skoliosis). Padahal sebelumnya saya sudah menutup pintu rapat-rapat dari keinginan saya untuk operasi karena saya merasa tidak sanggup untuk memikirkan biaya operasi ini. Namun karena dorongan dari teman-teman dan juga pemikiran dari mereka bagaimana saya bisa memperoleh biaya untuk operasi ini, akhirnya saya mantap untuk menjalani operasi walaupun dengan kompensasi gaji saya yang dipotong hingga separuh lebih selama bertahun-tahun ke depan. Saya sendiri sempat merasa geli terngiang-ngiang perkataan dari salah satu teman saya, “Kita kan kerja di instansi kesehatan, masa diri kita sendiri tidak sehat sih?” Sebenarnya saya merasa sehat, tapi semakin kesini, seiring kondisi skoli saya yang semakin parah dan aktivitas yang semakin padat, saya selalu menahan badan agar bisa tegap ketika duduk maupun berdiri dan itu membuat saya sangat lelah. Di samping itu, ternyata banyak teman-teman yang memperhatikan kondisi fisik saya yang memang terlihat sangat bungkuk dan memotivasi saya untuk memperbaikinya. Lagi-lagi, pendek dan bungkuk, itulah saya. Sekarang sudah 3 bulan saya cuti dari kantor demi operasi skoliosis ini. Sebentar lagi saya sudah harus kembali ke Politeknik Kesehatan Denpasar, tempat saya mengabdi semenjak 2 tahun yang lalu. Tentunya dengan keadaan yang lebih baik, InsyaAllah.
"Dua bulan pasca Operasi, masih pake penyangga sampai ke leher, karena kebengkokan tulang belakang saya sampai cervical" 





Melalui MSI pulalah saya mengetahui bahwa banyak skolioser tangguh yang sukses dengan kehidupannya, yang tetap bersemangat menjalani hidup, yang telah menjadi ibu, yang telah menjadi ayah dan menjalani segala sesuatunya dengan penuh rasa syukur. Baik yang sudah maupun yang belum menjalani operasi. Dari merekalah saya ikut belajar dan mengambil semangat hidup mereka.

Sungguh, betapa Allah sangat sayang kepada kita bukan? Bila kita merasa penuh dengan kekurangan, lihatlah orang yang lebih kurang dari kita. Kita merasa pendek? Lihatlah orang yang lebih pendek dari kita. Tulang kita bengkok karena skoli? Lihatlah orang yang punya kelainan yang lebih parah dari kita. Masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita daripada kita bila kita mau melihat sekeliling kita. Bila kita selalu merasa sakit, pegal, sesak nafas dan lelah karena skoli kita, ingatlah bahwa Allah akan menghapus dosa-dosa kita dalam setiap sakit yang kita rasakan. Selalu lihatlah ke bawah dalam perkara dunia, dan lihatlah ke atas dalam perkara akhirat. Masalah fisik adalah masalah dunia yang tidak kekal. Tapi tentu saja kita tidak boleh lupa merawat dan menjaga kesehatan fisik yang telah dititipkan Allah kepada kita. Itu adalah salah satu bentuk rasa syukur kita atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Irilah kepada orang yang lebih sholeh dan sholehah daripada kita. Irilah dengan orang yang selalu giat memperbaiki diri. Irilah dengan orang yang giat dan ulet belajar dan bekerja. Jangan iri dengan kecantikan dan kesempurnaan fisik orang lain. Kecantikan dan kesempurnaan fisik hanyalah titipan yang suatu saat bisa saja diambil oleh Allah. Tetapi kesholehan dan kesempurnaan perilaku kita adalah hal yang sangat bisa kita upayakan yang akan menambah nilai diri kita dihadapan-Nya dan di hadapan manusia lain.

Ingatlah bahwa kebengkokan tulang kita hanyalah setitik dari ujian-Nya yang menimpa kita. Sementara betapa banyak nikmat lain yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Nikmat yang bila kita hitung niscaya kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Lihatlah orang yang lumpuh yang hanya bisa tergeletak di tempat tidur atau di kursi roda. Kita pasti akan berkata betapa beruntungnya diri kita yang masih bisa bergerak leluasa dengan tangan dan kaki kita. Tapi lihatlah di akhirat nanti, betapa beruntungnya orang yang lumpuh itu karena tidak melalui waktu yang lama untuk dihisab, karena selama hidup tangan dan kakinya tidak pernah melakukan dan tidak pernah pergi ke tempat-tempat maksiat karena kelumpuhannya. Sementara kita? Tangan kita, kaki kita, mulut kita, mata kita, telinga kita, semuanya akan ditanya oleh Allah untuk apa selama kita hidup di dunia. Ya Allah Ya Robb...ampunilah segala dosa-dosa kami...

Boleh saja kita bersedih, namun jadikanlah kesedihan itu menghasilkan buah kesabaran. InsyaAllah tiada pahala yang tercurah sebesar pahala kesabaran.

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang indah.” (Terjemah QS. Al-Ma’arij: 5)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Terjemah QS. Az-Zumar: 39)

Bergembiralah teman, lakukanlah segala kebaikan yang bisa kita lakukan, munculkanlah setiap potensi yang ada pada diri kita, berusahalah dan janganlah berputus asa, serta jadilah pribadi yang selalu bersyukur sehingga kita lupa bahwa kita adalah skolioser. Hidup skolioser!!! 

Wallahu a’lam bish showab.

Alhamdulillahirobbil’alamiin...

Kamis, 27 Juni 2013

Pulang ke Malang demi Operasi Skoliosis

Rontgen Sebelum Operasi



Rontgen Sebelum Operasi


Rontgen Sesudah Operasi
Sehari Sebelum Pulang, Smile...
Alhamdulillahirobbil’alamiin...tak henti-hentinya puji syukur ku panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya dan atas segala terkabulnya doa sehingga saat ini aku sudah menjalani operasi koreksi skoliosis yang sudah mencapai derajat 115 ini. Walaupun semua dokter dan perawat selalu mengatakan “kenapa baru sekarang?” Setelah skoliosisku sudah separah ini dan usiaku juga sudah mencapai angka 28. Tapi aku yakin segala sesuatu yang Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia. Begitu pula segala yang kita usahakan dalam rangka kebaikan tentu juga tidak akan sia-sia. Dan memang beginilah, aku baru mampu mengusahakan operasi ini di usia sekarang. Operasi skoliosis bagiku termasuk operasi yang sangat mahal sehingga dulu hal ini hanyalah angan-angan yang rasanya sulit untuk tercapai. Walaupun baru melakukan operasi setelah semua orang mengatakan terlambat, namun hal ini sudah merupakan hal yang sangat luar biasa bagiku dan hal yang sangat harus disyukuri.
Perjalanan menuju operasi ini baru ku mulai tahun 2011 saat usiaku 26 tahun. November 2011, barulah aku bertemu dengan dr. I Ketut Suyasa, Sp.OT(K)Spine di Denpasar atas dukungan teman-temanku di instansi kesehatan. Hasil rontgen juga semakin mendukung keparahan derajat skoliosisku yang membuat semua orang geleng-geleng kepala termasuk diriku sendiri..hehe.. Pilihan yang diberikan oleh dokter hanya satu yaitu operasi. Mengenai hal ini juga sudah kuceritakan di tulisan blogku sebelumnya.
Karena mahalnya biaya operasi dan berpikir mengenai resikonya membuatku berhenti untuk memikirkan skoliosis ini. Sampai setahun lamanya aku sudah tidak ambil pusing mengenai skoliosis ini. Hingga akhir tahun 2012, aku menemukan sebuah buku yang berjudul Program Pencegahan dan Penyembuhan Skoliosis untuk Anda yang kemudian aku beli melalui situs Amazon.com. Dalam buku tersebut dijelaskan diantaranya mengenai asupan nutrisi dan program latihan untuk penyandang skoliosis. Sempat ku praktekkan sebentar dan akhirnya aku merasa putus asa mengingat kondisi skoliosisku yang parah. Padahal alasan sebenarnya adalah aku malas berolahraga..hehe..
Hingga akhirnya di awal tahun 2013, aku diajak oleh mbak Wilan untuk menemui kakaknya yang merupakan seorang dokter ortopedi. Awal Maret 2013, aku bertemu dengan dr. Anggi, Sp.OT di RSOT Surabaya. Disini aku mendapat penjelasan panjang dan lebar mengenai skoliosisku dan dari penjelasan dokter Anggi aku mulai kembali memikirkan untuk menjalani operasi skoliosis. Saat itu aku mulai mantap untuk menjalani operasi tapi satu yang kupikirkan, biayanya dari manaaaaaaaaaaaaa?????????????? (Tanda tanyanya panjang sesuai dengan betapa mahalnya biaya operasi skoliosis, bagiku lo yaa....). Mengenai resiko setelah operasi, dengan penjelasan dari dokter Anggi yang begitu lengkap membuatku rasa takutku jauh berkurang. Terimakasih dokter Anggi...

26 Maret 2013
Aku mulai mencari alternatif rumah sakit pemerintah sehingga aku bisa memanfaatkan fasilitas Askes yang aku punya sehingga bisa membantu mengurangi beban biaya yang harus aku tanggung. Pilihan pertama jatuh ke RSCM karena disana aku bisa menemui dr. Rahyus Salim, Sp.OT(K)Spine yang aku kenal dari blog yang beliau tulis dan dari Masyarakat Skoliosis Indonesia. Beberapa kali pula konsultasi dengan beliau melalui email. Akhirnya aku berkesempatan menemui beliau langsung di RSCM Kencana Jakarta. Penjelasan dari dokter Salim semakin menguatkan niatku untuk melakukan operasi. Karena bila tidak, maka derajat skoliosisku akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Dengan operasi, selain mengurangi derajat skoliosisku juga akan menyetop pertumbuhannya. Kemudian aku dipertemukan dengan dokter Pram, asisten dokter Salim untuk bertanya segala sesuatu mengenai operasi. Aku juga menemui pihak askes RSCM bertanya bagaimana alur agar aku bisa operasi disana. Tetap aku harus mendapat rujukan dari Denpasar karena kartu askesku adalah askes Denpasar. Walaupun mempunyai askes, aku tetap harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk biaya implan yang akan ditanam di punggungku karena tidak ditanggung oleh askes.

April 2013
Bulan April merupakan bulan dimana aku wara wiri demi mencari dana dan mencari rujukan askes. Rujukan dari Puskesmas dan RSUD dengan mudahnya aku dapatkan untuk kemudian dibawa ke RSUP Sanglah Denpasar. Sekarang pilihannya menjadi apakah operasi di Denpasar, Surabaya, Jakarta atau Malang? Akhirnya pilihannya kembali pada keluarga besar. Karena ini adalah operasi besar, otomatis harus ada dukungan dari keluarga besar. Dan karena keluarga besarku ada di Malang, akhirnya pilihan terakhir jatuh di Malang. Dengan bantuan dr. I Ketut Suyasa, Sp.OT(K)Spine, akhirnya aku mendapat rujukan ke RSUD Syaiful Anwar Malang dengan dr. Syaifullah Asmiragani, Sp.OT(K)Spine.

Mei 2013
 Awal Mei aku mulai mengurus ijin cuti untuk pulang ke Malang demi menjalani operasi skoliosis. Dengan dukungan penuh dari teman-teman kerja akhirnya dengan mantap aku pulang ke Malang. Sebelum menuju RSUD Syaiful Anwar Malang, aku bertemu dengan Pak Restu yang merupakan perawat anastesi di RSSA. Pak Restu inilah yang membantu segala proses sebelum menuju operasi termasuk menguruskan prosedur askes dan mengantar ke tempat-tempat cek up di RSSA.
14 Mei 2013
Dengan diantar kakak, aku bertemu dengan dokter Syaiful di paviliun GPH RSSA. Ketika aku masuk, dokter Syaiful sudah memegang hasil rontgen pertamaku yang sudah dibawakan oleh Pak Restu.
Aku                        : “Pagi dok..”
dr. Syaiful            : “Wah..akhirnya ketemu juga nih setelah sebelumnya cuma ketemu di facebook..”
Aku                        : “Hehe..iya dok..”
dr. Syaiful            : “Waduh..kenapa baru sekarang nih, sudah berat sekali ini..” (sambil melihat foto rontgen)
Aku                        : “Hehe..”
dr. Syaiful            : “Mau operasi?”
Aku                        : “Iya mau..”
dr. Syaiful            : “Coba saya lihat dulu ya..”
Begitulah sekelumit percakapan awal dengan dokter Syaiful yang kemudian berlanjut dengan pemeriksaan tulang punggungku hingga akhirnya dokter Syaiful berujar bahwa tulangku sudah kaku dan ini merupakan kasus terberat yang pernah beliau tangani. Kemudian beliau memberi rujukan untuk periksa fungsi paru dan rontgen ulang serta memberi rujukan untuk ngamar agar bisa segera dilaksanakan operasi.

16 Mei 2013
Hari ini aku membuat janji dengan dokter Putu spesialis paru untuk tes fungsi paru. Dari hasil tes dengan cara meniup pada sebuah alat tes fungsi paru, ternyata hasil tes fungsi paruku hanya setengah dari nilai normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah fungsi paruku hanya 51%. Dari nilai tersebut, resiko untuk operasi tulang belakang adalah kecil menuju sedang. Setelah selesai tes fungsi paru, aku menuju ruang askes RSSA untuk mengurus prosedur askes. Semua yang kujalani hari ini diantar dan dibantu oleh Pak Restu. Semuanya jadi mudah dan lancar, Alhamdulillah..
17 Mei 2013
Setelah mendapat hasil rontgen terbaru dan hasil tes fungsi paru, aku bertemu lagi dengan dokter Syaiful. Melihat hasil tes fungsi paruku, beliau langsung mengatakan ok dan memberi surat rujukan untuk ngamar di RS. Dari sini, kembali kegalauan melanda, aku bingung harus memilih kamar yang mana karena kamar juga menentukan biaya operasi. Dengan berbagai pertimbangan dan beberapa saran dari Pak Restu dan juga keluarga akhirnya beberapa hari kemudian aku mantap memilih kamar di ruang melati paviliun Graha Puspa Husada RSSA. Tapi aku belum langsung memesan kamar karena masih ingin memohon petunjuk dulu dari Yang Maha Kuasa semoga dipilihkan jalan yang terbaik.

21 Mei 2013
Akhirnya hari Selasa ini, aku baru mendapatkan kamar di paviliun karena disini banyak sekali antrian yang akan masuk sehingga untuk bisa ngamar harus booking terlebih dahulu. Sempat berpikir, hmm..pesen kamar rumah sakit seperti pesen kamar hotel. Tapi, memang di paviliun sini istilahnya adalah swastanya RSSA tapi masih bisa menggunakan fasilitas askes. Masuk ke kamar terima, aku langsung diukur tinggi, berat badan, tes jantung, cek darah dan rontgen torax. Setelah itu aku langsung diantar ke kamar 313 ruang melati. Hhh..bingung juga pas sudah di kamar, mau ngapain? Kan aku masih sehat wal’afiat. Tapi tak lama kemudian datanglah perawat yang memasangkan tempat suntik di tanganku yang aw..aw..aw..sakit sih tapi sedikit. Kemudian datanglah dokter Syaiful yang mengatakan bahwa operasiku dijadwalkan hari Jumat setelah sholat Jumat dan mengatakan pada perawat suntikan apa saja yang perlu diberikan padaku mulai hari ini. Jadi mulai hari ini sebelum operasi, rutin setiap pagi dan sore aku mendapatkan suntikan vitamin C dan vitamin K. Selebihnya aku masih bisa jalan-jalan keliling paviliun sambil menunggu jadwal operasi.

22 Mei 2013
Hari ini ada jadwal MRI. Nah, MRI inilah yang membuatku terpaksa melepas kawat gigi yang baru terpasang di gigi ini selama 6 bulan. Padahal seharusnya kawat gigi ini masih harus menempel di gigi ini selama 1,5 tahun lagi. Tapi apa daya, demi sebuah operasi skoliosis, aku harus rela melepaskan kawat gigi ini walaupun dengan sedikit berat hati mengingat biaya pemasangannya..hiks..hiks.. Aku sudah melepas kawat gigi ini setelah bertemu dokter Syaiful pertama kali. Aku kembali bertanya kepada beliau untuk meyakinkan apakah memang kawat gigi ini harus dilepas?? Tentu saya beliau menjawab ya, karena MRI menggunakan medan magnet yang dapat menarik semua logam. Bisa-bisa gigiku terlempar keluar semua...aw..aw..aw.. Saat itu akhirnya aku mencari dokter gigi spesialis orthodonti untuk melepaskan bracket yang udah terlanjur menempel di gigi ini selama 6 bulan. Bersyukur akhirnya aku bertemu dengan drg. Masita. Dengan menjelaskan keadaanku yang harus dioperasi secepatnya dan harus melepas bracket ini karena harus MRI dan aku tidak mungkin kembali ke Denpasar hanya untuk sekedar melepas bracket akhirnya beliau bersedia melepaskan bracketku dan membuatkanku retainer agar gigiku tidak kembali berantakan karena proses pergeseran gigi masih berlangsung.
Kembali ke proses MRI. Setelah meyakinkan bahwa aku tidak memakai logam sama sekali di tubuh, petugas MRI mulai menyuruhku berbaring, menata tubuhku sedemikian rupa dan menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal dan memasang headset di telingaku. Tak lama kemudian masuklah tubuhku secara perlahan-lahan ke dalam lorong MRI. Aku merasa lamaaaaaaaaa sekali di dalam lorong sampai tulang-tulangku terasa sakit. Aku tidak begitu memperhatikan berapa jam aku ada di dalam lorong MRI. Tapi aku ingat ketika keluar dari kamar dan diantar perawat menuju ruang MRI, saat itu jam menunjukkan pukul 08.30 dan ketika aku kembali ke kamar, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Wow...selama itukah berarti aku berada di ruang MRI?

23 Mei 2013
Hari ini hari terakhir aku bebas sebelum operasi. Sebelum operasi, aku ingin menikmati hari ini dengan berjalan-jalan dengan sepupuku sambil membeli es krim. Tepat ketika aku sampai di depan pintu sebelum melangkahkan kaki keluar kamar, dokter Syaiful sudah muncul di hadapanku. Beliau mengingatkan bahwa besok jadwal operasiku sekitar pukul 13.00 WIB. Aku bertanya, apa ada hal-hal yang mungkin perlu saya persiapkan dok? Beliau menjawab dengan simpel, banyak-banyak berdoa. Sore harinya, dr. Rudi Hartono, Sp.An datang ke kamar dan memperkenalkan diri bahwa beliau yang akan bertindak sebagai dokter anastesiku besok dan bertanya serta menjelaskan beberapa hal terkait prosedur anastesi pada operasiku besok.

24 Mei 2013
Teng..teng..teng..tak terasa tibalah jadwal operasi. Pagi-pagi setelah memberikan suntikan rutin, perawat menyuruhku segera mandi karena akan segera dipasang infus. Pukul 07.00 aku sudah mulai berpuasa. Rasanya waktu berjalan sangat singkat hingga akhirnya pukul 12.30 aku di tes alergi dan diberikan suntikan antibiotik kemudian disuruh berganti pakaian operasi. Pukul 13.00, perawat yang akan mengantarku ke ruang operasi sudah tiba sambil membawa kursi roda. Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi, badanku panas dingin sambil bibirku terus mengucap dzikir dan doa. Sampai di dalam kamar operasi, aku sudah tidak sempat menghitung berapa banyak orang yang ada disana. Semua sudah menggunakan masker dan penutup kepala. Rasanya banyak sekali dokter-dokter yang ada disana. Aku juga sempat melihat beberapa di antara mereka memasang dan mengamati foto rontgenku. Setelah itu, salah seorang dokter yang bernama dokter Harun memperkenalkan diri sebagai asisten dokter Syaiful yang akan membantu proses operasiku. Dokter Harun juga menjelaskan bahwa nanti aku akan dibangunkan untuk menggerak-gerakkan kakiku. Tepat setelah itu, aku sama sekali tidak mengingat apapun sampai keesokan harinya. Kemudian baru aku tau bahwa aku keluar dari ruang operasi pada pukul 22.00 WIB dan mampir dulu di ruang ICU.

25 Mei 2013
Aku tidak tau pukul berapa ketika aku tepat membuka mata. Yang ku ingat saat itu aku berada di ruang ICU dan banyak sekali rasanya alat-alat yang ada di sisiku. Di hidungku juga terpasang selang oksigen. Semua yang ku lihat serba samar-samar. Kakak iparku datang untuk menyuapiku makan pagi tapi aku sama sekali tak berselera makan. Aku memaksakan diri untuk menelan makanan yang masuk ke mulutku dan tak berselang lama semua yang telah ku telan termuntahkan kembali. Kemudian datang seseorang yang menyuruhku menggerak-gerakkan kaki dan tanganku. Seseorang itupun hanya samar-samar ku lihat. Entah itu dokter anastesiku, entah asisten dokter, benar-benar aku tidak bisa melihat dengan jelas. Semua badanku termasuk mata terasa berat. Siangnya paklekku datang untuk menyuapiku makan siang dan aku sama sekali tak ingin makan. Aku takut muntah lagi setelah tadi sudah muntah dua kali. Akhirnya aku dibuatkan susu tinggi kalori dan protein untuk menggantikan asupan makan siangku. Itupun hanya mampu ku minum sedikit. Sampai-sampai perawat mengatakan kepadaku kalau aku tidak mau makan nanti bisa-bisa dipasangkan selang melalui hidung untuk memasukkan makanan. Kemudian ada perawat yang meminumkan susu kepadaku sambil menasehati bahwa harus ada asupan makanan yang masuk ke tubuhku. Akhirnya pukul 14.00, aku sudah dipindahkan ke kamarku semula.
Sampai di kamar, sudah banyak keluarga dan teman-teman yang menjenguk. Karena kondisiku sangat lemah, aku hampir-hampir tidak bisa berbicara tapi aku sempatkan untuk menyapa mereka. Selebihnya aku hanya mampu terdiam sambil merasakan sakit yang mulai terasa di punggung ini.

26 Mei 2013 s/d 3 Juni 2013
Tidak banyak yang bisa kulakukan setelah menjalani operasi selain makan, tidur dan minum obat. Tapi aku merasa hampir tidak bisa tidur karena merasakan sakit yang teramat sangat di punggung. Sempat aku berkata pada perawat ingin dibius lagi karena sangat tidak tahan dengan sakit yang ku rasakan. Kerabat dan para tetangga banyak yang menjengukku di rumah sakit, padahal aku tidak bilang ke para tetangga, keluargapun hanya keluarga dekat yang tau. Senangnya mereka datang, walaupun ketika mereka datang, aku masih terbujur lemah tak berdaya di kasur. Ada satu lagi kejutan untukku, 2 hari pasca operasi seorang sobat dari Masyarakat Skoliosis Indonesia datang menjengukku. Ya, baru hari itu kami bertemu setelah sebelumnya hanya berkomunikasi via fb dan sms. Aku biasa memanggilnya Gluck, sesuai nama yang pertama kali kukenal darinya. Dia datang bersama ayah dan adiknya langsung dari Mojokerto. Tapi sayang kami tidak sempat berfoto bersama, karena hari itu aku masih sangat tidak berdaya menahan sakit dan sama sekali tidak kepikiran untuk mengabadikan momen ini. Baru setelah mereka pulang, terlintaslah di pikiranku kenapa tadi tidak foto bareng. Aaaahhh...selalu saja ingat belakangan. Terimakasih Gluck n fams udah jauh-jauh jengukin aku. Menjadi kekuatan tersendiri dihibur sesama penyandang skoliosis.
Enam hari pasca operasi alat TCO ku sudah jadi dan aku mulai memakainya dan mulai belajar berjalan. Waaahh..bahagianya bangun dari tempat tidur setelah seminggu lamanya hanya bisa berbaring atau duduk di kasur. Setelah dirasa cukup kuat untuk berjalan-jalan, akhirnya hari Senin, 3 Juni 2013 aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Walaupun sudah diperbolehkan pulang, tapi aku harus mematuhi saran dokter untuk terus memakai alat penyangga selama 3 bulan dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Welcome home Sofi...
Setelah menjalani operasi banyak perubahan positif yang aku rasakan, diantaranya punggung bagian kiriku yang sebelumnya tertarik ke arah kanan menjadi 'lurus' dan aku tidak harus menahannya lagi dengan tangan ketika duduk, dadaku yang sebelumnya agak membusung sudah berkurang, tonjolan di punggung kanan juga berkurang, dan aku menjadi bertambah tinggi 5 cm. Alhamdulillah...
O iya, hampir lupa, jadi skoliosisku ini disebabkan oleh neurofibromatosis yaitu semacam tumor jinak yang menyerang saraf yang dapat menimbulkan masalah dalam kerangka tubuh, seperti kelainan lengkung tulang belakang (kifoskoliosis), kelainan bentuk tulang iga, pembesaran tulang panjang pada lengan dan tungkai serta kelainan tulang tengkorak dan di sekitar mata.
Begitulah cerita singkat mengenai perjalanan operasi skoliosisku, semoga bisa menjadi referensi buat kalian yang juga sama sepertiku memiliki kelainan di tulang belakang. Seperti yang sudah ku tuliskan di awal, semua yang diciptakan oleh-Nya tidak ada yang sia-sia, begitupula dengan skoliosis yang kita miliki. Maka berusahalah semampu kita tanpa bersedih hati karena segala usaha yang kita lakukan pun pasti tidak ada yang sia-sia. Ayo semangat!!! Walaupun memiliki tulang belakang yang bengkok, bukan berarti kita kurang sempurna dari yang tulang belakangnya lurus, justru kita diberi kelebihan oleh-Nya. Bukankah sesuatu yang langka itu unik?