Kamis, 27 Juni 2013

Pulang ke Malang demi Operasi Skoliosis

Rontgen Sebelum Operasi



Rontgen Sebelum Operasi


Rontgen Sesudah Operasi
Sehari Sebelum Pulang, Smile...
Alhamdulillahirobbil’alamiin...tak henti-hentinya puji syukur ku panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya dan atas segala terkabulnya doa sehingga saat ini aku sudah menjalani operasi koreksi skoliosis yang sudah mencapai derajat 115 ini. Walaupun semua dokter dan perawat selalu mengatakan “kenapa baru sekarang?” Setelah skoliosisku sudah separah ini dan usiaku juga sudah mencapai angka 28. Tapi aku yakin segala sesuatu yang Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia. Begitu pula segala yang kita usahakan dalam rangka kebaikan tentu juga tidak akan sia-sia. Dan memang beginilah, aku baru mampu mengusahakan operasi ini di usia sekarang. Operasi skoliosis bagiku termasuk operasi yang sangat mahal sehingga dulu hal ini hanyalah angan-angan yang rasanya sulit untuk tercapai. Walaupun baru melakukan operasi setelah semua orang mengatakan terlambat, namun hal ini sudah merupakan hal yang sangat luar biasa bagiku dan hal yang sangat harus disyukuri.
Perjalanan menuju operasi ini baru ku mulai tahun 2011 saat usiaku 26 tahun. November 2011, barulah aku bertemu dengan dr. I Ketut Suyasa, Sp.OT(K)Spine di Denpasar atas dukungan teman-temanku di instansi kesehatan. Hasil rontgen juga semakin mendukung keparahan derajat skoliosisku yang membuat semua orang geleng-geleng kepala termasuk diriku sendiri..hehe.. Pilihan yang diberikan oleh dokter hanya satu yaitu operasi. Mengenai hal ini juga sudah kuceritakan di tulisan blogku sebelumnya.
Karena mahalnya biaya operasi dan berpikir mengenai resikonya membuatku berhenti untuk memikirkan skoliosis ini. Sampai setahun lamanya aku sudah tidak ambil pusing mengenai skoliosis ini. Hingga akhir tahun 2012, aku menemukan sebuah buku yang berjudul Program Pencegahan dan Penyembuhan Skoliosis untuk Anda yang kemudian aku beli melalui situs Amazon.com. Dalam buku tersebut dijelaskan diantaranya mengenai asupan nutrisi dan program latihan untuk penyandang skoliosis. Sempat ku praktekkan sebentar dan akhirnya aku merasa putus asa mengingat kondisi skoliosisku yang parah. Padahal alasan sebenarnya adalah aku malas berolahraga..hehe..
Hingga akhirnya di awal tahun 2013, aku diajak oleh mbak Wilan untuk menemui kakaknya yang merupakan seorang dokter ortopedi. Awal Maret 2013, aku bertemu dengan dr. Anggi, Sp.OT di RSOT Surabaya. Disini aku mendapat penjelasan panjang dan lebar mengenai skoliosisku dan dari penjelasan dokter Anggi aku mulai kembali memikirkan untuk menjalani operasi skoliosis. Saat itu aku mulai mantap untuk menjalani operasi tapi satu yang kupikirkan, biayanya dari manaaaaaaaaaaaaa?????????????? (Tanda tanyanya panjang sesuai dengan betapa mahalnya biaya operasi skoliosis, bagiku lo yaa....). Mengenai resiko setelah operasi, dengan penjelasan dari dokter Anggi yang begitu lengkap membuatku rasa takutku jauh berkurang. Terimakasih dokter Anggi...

26 Maret 2013
Aku mulai mencari alternatif rumah sakit pemerintah sehingga aku bisa memanfaatkan fasilitas Askes yang aku punya sehingga bisa membantu mengurangi beban biaya yang harus aku tanggung. Pilihan pertama jatuh ke RSCM karena disana aku bisa menemui dr. Rahyus Salim, Sp.OT(K)Spine yang aku kenal dari blog yang beliau tulis dan dari Masyarakat Skoliosis Indonesia. Beberapa kali pula konsultasi dengan beliau melalui email. Akhirnya aku berkesempatan menemui beliau langsung di RSCM Kencana Jakarta. Penjelasan dari dokter Salim semakin menguatkan niatku untuk melakukan operasi. Karena bila tidak, maka derajat skoliosisku akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Dengan operasi, selain mengurangi derajat skoliosisku juga akan menyetop pertumbuhannya. Kemudian aku dipertemukan dengan dokter Pram, asisten dokter Salim untuk bertanya segala sesuatu mengenai operasi. Aku juga menemui pihak askes RSCM bertanya bagaimana alur agar aku bisa operasi disana. Tetap aku harus mendapat rujukan dari Denpasar karena kartu askesku adalah askes Denpasar. Walaupun mempunyai askes, aku tetap harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk biaya implan yang akan ditanam di punggungku karena tidak ditanggung oleh askes.

April 2013
Bulan April merupakan bulan dimana aku wara wiri demi mencari dana dan mencari rujukan askes. Rujukan dari Puskesmas dan RSUD dengan mudahnya aku dapatkan untuk kemudian dibawa ke RSUP Sanglah Denpasar. Sekarang pilihannya menjadi apakah operasi di Denpasar, Surabaya, Jakarta atau Malang? Akhirnya pilihannya kembali pada keluarga besar. Karena ini adalah operasi besar, otomatis harus ada dukungan dari keluarga besar. Dan karena keluarga besarku ada di Malang, akhirnya pilihan terakhir jatuh di Malang. Dengan bantuan dr. I Ketut Suyasa, Sp.OT(K)Spine, akhirnya aku mendapat rujukan ke RSUD Syaiful Anwar Malang dengan dr. Syaifullah Asmiragani, Sp.OT(K)Spine.

Mei 2013
 Awal Mei aku mulai mengurus ijin cuti untuk pulang ke Malang demi menjalani operasi skoliosis. Dengan dukungan penuh dari teman-teman kerja akhirnya dengan mantap aku pulang ke Malang. Sebelum menuju RSUD Syaiful Anwar Malang, aku bertemu dengan Pak Restu yang merupakan perawat anastesi di RSSA. Pak Restu inilah yang membantu segala proses sebelum menuju operasi termasuk menguruskan prosedur askes dan mengantar ke tempat-tempat cek up di RSSA.
14 Mei 2013
Dengan diantar kakak, aku bertemu dengan dokter Syaiful di paviliun GPH RSSA. Ketika aku masuk, dokter Syaiful sudah memegang hasil rontgen pertamaku yang sudah dibawakan oleh Pak Restu.
Aku                        : “Pagi dok..”
dr. Syaiful            : “Wah..akhirnya ketemu juga nih setelah sebelumnya cuma ketemu di facebook..”
Aku                        : “Hehe..iya dok..”
dr. Syaiful            : “Waduh..kenapa baru sekarang nih, sudah berat sekali ini..” (sambil melihat foto rontgen)
Aku                        : “Hehe..”
dr. Syaiful            : “Mau operasi?”
Aku                        : “Iya mau..”
dr. Syaiful            : “Coba saya lihat dulu ya..”
Begitulah sekelumit percakapan awal dengan dokter Syaiful yang kemudian berlanjut dengan pemeriksaan tulang punggungku hingga akhirnya dokter Syaiful berujar bahwa tulangku sudah kaku dan ini merupakan kasus terberat yang pernah beliau tangani. Kemudian beliau memberi rujukan untuk periksa fungsi paru dan rontgen ulang serta memberi rujukan untuk ngamar agar bisa segera dilaksanakan operasi.

16 Mei 2013
Hari ini aku membuat janji dengan dokter Putu spesialis paru untuk tes fungsi paru. Dari hasil tes dengan cara meniup pada sebuah alat tes fungsi paru, ternyata hasil tes fungsi paruku hanya setengah dari nilai normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah fungsi paruku hanya 51%. Dari nilai tersebut, resiko untuk operasi tulang belakang adalah kecil menuju sedang. Setelah selesai tes fungsi paru, aku menuju ruang askes RSSA untuk mengurus prosedur askes. Semua yang kujalani hari ini diantar dan dibantu oleh Pak Restu. Semuanya jadi mudah dan lancar, Alhamdulillah..
17 Mei 2013
Setelah mendapat hasil rontgen terbaru dan hasil tes fungsi paru, aku bertemu lagi dengan dokter Syaiful. Melihat hasil tes fungsi paruku, beliau langsung mengatakan ok dan memberi surat rujukan untuk ngamar di RS. Dari sini, kembali kegalauan melanda, aku bingung harus memilih kamar yang mana karena kamar juga menentukan biaya operasi. Dengan berbagai pertimbangan dan beberapa saran dari Pak Restu dan juga keluarga akhirnya beberapa hari kemudian aku mantap memilih kamar di ruang melati paviliun Graha Puspa Husada RSSA. Tapi aku belum langsung memesan kamar karena masih ingin memohon petunjuk dulu dari Yang Maha Kuasa semoga dipilihkan jalan yang terbaik.

21 Mei 2013
Akhirnya hari Selasa ini, aku baru mendapatkan kamar di paviliun karena disini banyak sekali antrian yang akan masuk sehingga untuk bisa ngamar harus booking terlebih dahulu. Sempat berpikir, hmm..pesen kamar rumah sakit seperti pesen kamar hotel. Tapi, memang di paviliun sini istilahnya adalah swastanya RSSA tapi masih bisa menggunakan fasilitas askes. Masuk ke kamar terima, aku langsung diukur tinggi, berat badan, tes jantung, cek darah dan rontgen torax. Setelah itu aku langsung diantar ke kamar 313 ruang melati. Hhh..bingung juga pas sudah di kamar, mau ngapain? Kan aku masih sehat wal’afiat. Tapi tak lama kemudian datanglah perawat yang memasangkan tempat suntik di tanganku yang aw..aw..aw..sakit sih tapi sedikit. Kemudian datanglah dokter Syaiful yang mengatakan bahwa operasiku dijadwalkan hari Jumat setelah sholat Jumat dan mengatakan pada perawat suntikan apa saja yang perlu diberikan padaku mulai hari ini. Jadi mulai hari ini sebelum operasi, rutin setiap pagi dan sore aku mendapatkan suntikan vitamin C dan vitamin K. Selebihnya aku masih bisa jalan-jalan keliling paviliun sambil menunggu jadwal operasi.

22 Mei 2013
Hari ini ada jadwal MRI. Nah, MRI inilah yang membuatku terpaksa melepas kawat gigi yang baru terpasang di gigi ini selama 6 bulan. Padahal seharusnya kawat gigi ini masih harus menempel di gigi ini selama 1,5 tahun lagi. Tapi apa daya, demi sebuah operasi skoliosis, aku harus rela melepaskan kawat gigi ini walaupun dengan sedikit berat hati mengingat biaya pemasangannya..hiks..hiks.. Aku sudah melepas kawat gigi ini setelah bertemu dokter Syaiful pertama kali. Aku kembali bertanya kepada beliau untuk meyakinkan apakah memang kawat gigi ini harus dilepas?? Tentu saya beliau menjawab ya, karena MRI menggunakan medan magnet yang dapat menarik semua logam. Bisa-bisa gigiku terlempar keluar semua...aw..aw..aw.. Saat itu akhirnya aku mencari dokter gigi spesialis orthodonti untuk melepaskan bracket yang udah terlanjur menempel di gigi ini selama 6 bulan. Bersyukur akhirnya aku bertemu dengan drg. Masita. Dengan menjelaskan keadaanku yang harus dioperasi secepatnya dan harus melepas bracket ini karena harus MRI dan aku tidak mungkin kembali ke Denpasar hanya untuk sekedar melepas bracket akhirnya beliau bersedia melepaskan bracketku dan membuatkanku retainer agar gigiku tidak kembali berantakan karena proses pergeseran gigi masih berlangsung.
Kembali ke proses MRI. Setelah meyakinkan bahwa aku tidak memakai logam sama sekali di tubuh, petugas MRI mulai menyuruhku berbaring, menata tubuhku sedemikian rupa dan menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal dan memasang headset di telingaku. Tak lama kemudian masuklah tubuhku secara perlahan-lahan ke dalam lorong MRI. Aku merasa lamaaaaaaaaa sekali di dalam lorong sampai tulang-tulangku terasa sakit. Aku tidak begitu memperhatikan berapa jam aku ada di dalam lorong MRI. Tapi aku ingat ketika keluar dari kamar dan diantar perawat menuju ruang MRI, saat itu jam menunjukkan pukul 08.30 dan ketika aku kembali ke kamar, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Wow...selama itukah berarti aku berada di ruang MRI?

23 Mei 2013
Hari ini hari terakhir aku bebas sebelum operasi. Sebelum operasi, aku ingin menikmati hari ini dengan berjalan-jalan dengan sepupuku sambil membeli es krim. Tepat ketika aku sampai di depan pintu sebelum melangkahkan kaki keluar kamar, dokter Syaiful sudah muncul di hadapanku. Beliau mengingatkan bahwa besok jadwal operasiku sekitar pukul 13.00 WIB. Aku bertanya, apa ada hal-hal yang mungkin perlu saya persiapkan dok? Beliau menjawab dengan simpel, banyak-banyak berdoa. Sore harinya, dr. Rudi Hartono, Sp.An datang ke kamar dan memperkenalkan diri bahwa beliau yang akan bertindak sebagai dokter anastesiku besok dan bertanya serta menjelaskan beberapa hal terkait prosedur anastesi pada operasiku besok.

24 Mei 2013
Teng..teng..teng..tak terasa tibalah jadwal operasi. Pagi-pagi setelah memberikan suntikan rutin, perawat menyuruhku segera mandi karena akan segera dipasang infus. Pukul 07.00 aku sudah mulai berpuasa. Rasanya waktu berjalan sangat singkat hingga akhirnya pukul 12.30 aku di tes alergi dan diberikan suntikan antibiotik kemudian disuruh berganti pakaian operasi. Pukul 13.00, perawat yang akan mengantarku ke ruang operasi sudah tiba sambil membawa kursi roda. Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi, badanku panas dingin sambil bibirku terus mengucap dzikir dan doa. Sampai di dalam kamar operasi, aku sudah tidak sempat menghitung berapa banyak orang yang ada disana. Semua sudah menggunakan masker dan penutup kepala. Rasanya banyak sekali dokter-dokter yang ada disana. Aku juga sempat melihat beberapa di antara mereka memasang dan mengamati foto rontgenku. Setelah itu, salah seorang dokter yang bernama dokter Harun memperkenalkan diri sebagai asisten dokter Syaiful yang akan membantu proses operasiku. Dokter Harun juga menjelaskan bahwa nanti aku akan dibangunkan untuk menggerak-gerakkan kakiku. Tepat setelah itu, aku sama sekali tidak mengingat apapun sampai keesokan harinya. Kemudian baru aku tau bahwa aku keluar dari ruang operasi pada pukul 22.00 WIB dan mampir dulu di ruang ICU.

25 Mei 2013
Aku tidak tau pukul berapa ketika aku tepat membuka mata. Yang ku ingat saat itu aku berada di ruang ICU dan banyak sekali rasanya alat-alat yang ada di sisiku. Di hidungku juga terpasang selang oksigen. Semua yang ku lihat serba samar-samar. Kakak iparku datang untuk menyuapiku makan pagi tapi aku sama sekali tak berselera makan. Aku memaksakan diri untuk menelan makanan yang masuk ke mulutku dan tak berselang lama semua yang telah ku telan termuntahkan kembali. Kemudian datang seseorang yang menyuruhku menggerak-gerakkan kaki dan tanganku. Seseorang itupun hanya samar-samar ku lihat. Entah itu dokter anastesiku, entah asisten dokter, benar-benar aku tidak bisa melihat dengan jelas. Semua badanku termasuk mata terasa berat. Siangnya paklekku datang untuk menyuapiku makan siang dan aku sama sekali tak ingin makan. Aku takut muntah lagi setelah tadi sudah muntah dua kali. Akhirnya aku dibuatkan susu tinggi kalori dan protein untuk menggantikan asupan makan siangku. Itupun hanya mampu ku minum sedikit. Sampai-sampai perawat mengatakan kepadaku kalau aku tidak mau makan nanti bisa-bisa dipasangkan selang melalui hidung untuk memasukkan makanan. Kemudian ada perawat yang meminumkan susu kepadaku sambil menasehati bahwa harus ada asupan makanan yang masuk ke tubuhku. Akhirnya pukul 14.00, aku sudah dipindahkan ke kamarku semula.
Sampai di kamar, sudah banyak keluarga dan teman-teman yang menjenguk. Karena kondisiku sangat lemah, aku hampir-hampir tidak bisa berbicara tapi aku sempatkan untuk menyapa mereka. Selebihnya aku hanya mampu terdiam sambil merasakan sakit yang mulai terasa di punggung ini.

26 Mei 2013 s/d 3 Juni 2013
Tidak banyak yang bisa kulakukan setelah menjalani operasi selain makan, tidur dan minum obat. Tapi aku merasa hampir tidak bisa tidur karena merasakan sakit yang teramat sangat di punggung. Sempat aku berkata pada perawat ingin dibius lagi karena sangat tidak tahan dengan sakit yang ku rasakan. Kerabat dan para tetangga banyak yang menjengukku di rumah sakit, padahal aku tidak bilang ke para tetangga, keluargapun hanya keluarga dekat yang tau. Senangnya mereka datang, walaupun ketika mereka datang, aku masih terbujur lemah tak berdaya di kasur. Ada satu lagi kejutan untukku, 2 hari pasca operasi seorang sobat dari Masyarakat Skoliosis Indonesia datang menjengukku. Ya, baru hari itu kami bertemu setelah sebelumnya hanya berkomunikasi via fb dan sms. Aku biasa memanggilnya Gluck, sesuai nama yang pertama kali kukenal darinya. Dia datang bersama ayah dan adiknya langsung dari Mojokerto. Tapi sayang kami tidak sempat berfoto bersama, karena hari itu aku masih sangat tidak berdaya menahan sakit dan sama sekali tidak kepikiran untuk mengabadikan momen ini. Baru setelah mereka pulang, terlintaslah di pikiranku kenapa tadi tidak foto bareng. Aaaahhh...selalu saja ingat belakangan. Terimakasih Gluck n fams udah jauh-jauh jengukin aku. Menjadi kekuatan tersendiri dihibur sesama penyandang skoliosis.
Enam hari pasca operasi alat TCO ku sudah jadi dan aku mulai memakainya dan mulai belajar berjalan. Waaahh..bahagianya bangun dari tempat tidur setelah seminggu lamanya hanya bisa berbaring atau duduk di kasur. Setelah dirasa cukup kuat untuk berjalan-jalan, akhirnya hari Senin, 3 Juni 2013 aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Walaupun sudah diperbolehkan pulang, tapi aku harus mematuhi saran dokter untuk terus memakai alat penyangga selama 3 bulan dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Welcome home Sofi...
Setelah menjalani operasi banyak perubahan positif yang aku rasakan, diantaranya punggung bagian kiriku yang sebelumnya tertarik ke arah kanan menjadi 'lurus' dan aku tidak harus menahannya lagi dengan tangan ketika duduk, dadaku yang sebelumnya agak membusung sudah berkurang, tonjolan di punggung kanan juga berkurang, dan aku menjadi bertambah tinggi 5 cm. Alhamdulillah...
O iya, hampir lupa, jadi skoliosisku ini disebabkan oleh neurofibromatosis yaitu semacam tumor jinak yang menyerang saraf yang dapat menimbulkan masalah dalam kerangka tubuh, seperti kelainan lengkung tulang belakang (kifoskoliosis), kelainan bentuk tulang iga, pembesaran tulang panjang pada lengan dan tungkai serta kelainan tulang tengkorak dan di sekitar mata.
Begitulah cerita singkat mengenai perjalanan operasi skoliosisku, semoga bisa menjadi referensi buat kalian yang juga sama sepertiku memiliki kelainan di tulang belakang. Seperti yang sudah ku tuliskan di awal, semua yang diciptakan oleh-Nya tidak ada yang sia-sia, begitupula dengan skoliosis yang kita miliki. Maka berusahalah semampu kita tanpa bersedih hati karena segala usaha yang kita lakukan pun pasti tidak ada yang sia-sia. Ayo semangat!!! Walaupun memiliki tulang belakang yang bengkok, bukan berarti kita kurang sempurna dari yang tulang belakangnya lurus, justru kita diberi kelebihan oleh-Nya. Bukankah sesuatu yang langka itu unik?

Minggu, 03 Maret 2013

Premarital Check Up


Hari Ahad, 24 Februari yang lalu, IKM Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Denpasar mengadakan seminar nasional dengan tema Premarital Check Up. Dari temanya, pasti sudah pada tau kan, seminar ini tentang apa? Ya, dalam seminar ini dibahas mengenai pentingnya pemeriksaan untuk pasangan yang akan menikah. Apa saja sih yang harus diperiksa dan kenapa harus diperiksa? Kayaknya ribet banget deh, mau menikah mesti periksa ini itu segala macam. Yah, namanya juga demi masa depan yang berkualitas, bener gak? Sesuai nih dengan judul yang diusung pada seminar ini, “Premarital Check Up: Kenali Pasanganmu Demi Masa Depan yang Berkualitas”.

Pembicara pada seminar ini sangat berkompeten di bidangnya guys, ada dr. Yusra, Sp.PK. Ph.D dari FKUI dan dr. Ketut Suardamana, SP.PD dari FK UNUD. Jangan salah, dr.. Yusra ini ternyata seorang wanita loh, sebelumnya saya menyangka bahwa beliau adalah laki-laki, hihihihi... Beliau ini baru saja menyelesaikan program doktornya di negeri sakura, Jepang. Waaahhh..makin iri nih jadi pengen segera melanjutkan studi ke Jepang juga. Doakan ya...Aamiin...

Nah, mari kita lanjut ke isi inti dari seminar ini yaitu mengenai Premarital Check Up.

Definisi premarital check up adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh pasangan yang akan menikah yang meliputi pemeriksaan fisik, laboratorium dan konseling. Tujuan dilakukannya pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang sebelum menikah. Banyak sekali kegunaan premarital check up ini, diantaranya adalah: mendeteksi kelainan genetik/keturunan seperti thalassemia, buta warna, dan hemofilia; mendeteksi penyakit yang dapat berpengaruh pada organ reproduksi dan kehamilan, seperti diabetes melitus (DM), infeksi TORCH, golongan darah ABO dan rhesus; mendeteksi penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual seperti sifilis, gonore, hepatitis B dan C, dan infeksi HIV; serta mendeteksi kebiasaan atau gaya hidup yang tidak baik agar dapat diperbaiki seperti merokok, peminum alkohol, pemakai narkoba, dan penyakit DM.

Wow, ternyata banyak banget ya yang harus diperiksa. Kalau dituruti semuanya kok rasa-rasanya bakal keluar biaya banyak nih. Bisa-bisa gak jadi menikah hanya gara-gara gak punya biaya untuk melakukan premarital check up sebanyak itu. Tenang guys, gak perlu panik, gak harus semuanya kok dilakukan. Kalo memang ada yang berencana akan menikah dan ingin melakukan premarital check up, silakan dipilih menurut apa yang kalian butuhkan saja. Jadi kalian bisa mempertimbangkannya dari segi anamnesis, prioritas pemeriksaan dan budget yang kalian punya. Kalau kalian sudah yakin dengan kondisi kesehatan kalian dilihat dari nenek-kakek moyang kalian yang gak punya penyakit aneh-aneh ya gak perlu juga kalian mengecek semua kelainan genetik/penyakit yang ada di atas tadi. Bisa saja kalian hanya melakukan pemeriksaan dasar seperti CBC, urinalisis dan golongan darah. Hal itu juga bisa kalian diskusikan dengan calon pasangan kalian mengenai kondisi diri masing-masing. Tentu kalian semua harus jujur sejujur-jujurnya  ya guys pada calon pasangan kalian masing-masing. Ungkapkan semua tanpa harus ada yang ditutup-tutupi agar tidak ada pihak yang menyesal nantinya. Toh, kalau memang cinta ya cinta aja, cinta sejati akan mencintai segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri pasangannya. Cinta apa adanya, bukan cinta karena ada apa-apanya. Lebih bagus dan bermakna lagi kalau cinta itu dilandaskan pada Sang Pencipta kita. Ya, cinta karena Allah akan lebih kuat dan kekal ikatannya dunia akhirat.

Loh, kok jadi malah ngomongin masalah cinta sih? Hehe...bercabang dikit gak papa donk... toh temanya emang tentang sebelum menikah bukan...lagi pula kalo kata Bang Rhoma, hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, bener kan...Hayo ngaku, siapa yang gak pernah ngerasain cinta??? Tuh, gak ada yang ngacung kan...pasti semuanya pada senyum-senyum sendiri ingat kisah cintanya masing-masing. Eits, yang masih belum siap nikah, tahan dulu ya rasa cintanya sampe menjadi ikatan yang halal. Ok guys!

Hey, udah udaaahh...jangan pada terlena dengan kisah cinta masing-masing dunk...Yuk kita balik lagi ke tema premarital check up.

Masih ingat kan tadi kelainan-kelainan genetik dan penyakit-penyakit apa saja yang biasanya dideteksi sebelum menikah? Nah, sekarang akan kita bahas sedikit mengenai kelainan/penyakit tersebut.

·         Thalassemia: merupakan penyakit genetik yang paling sering di dunia, ditandai oleh produksi hemoglobin yang tidak adekuat sebagai akibat kurang atau tidak adanya sintesis satu atau lebih rantai globin, gejala yang dijumpai adalah anemia.

·         HIV (Human Immunodeficiency Virus): merupakan penyebab Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang merupakan suatu keadaan atau penyakit yang bersifat fatal. 

·         Hepatitis B: merupakan infeksi hati yang disebabkan oleh HBV, virus DNA yang termasuk dalam famili hepadnaviridae. Bisa ditransmisikan dari ibu ke anak, anak ke anak (bukan satu rumah), seksual atau parenteral (penggunaan jarum suntik injeksi, luka akibat benda tajam atau kontaminasi produk darah).  Hepatitis B juga merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang besar di seluruh dunia.

·         Sifilis: merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Troponema pallidum. Penyakit ini dapat ditularkan kepada bayi dalam kandungan. Jika tidak diobati, dibagi menjadi sifilis primer, sekunder, latin dini, dan sifilis tingkat lanjut (sifilis tersier benigna, sifilis kardiovaskuler, nerosifilis)

·         Infeksi TORCH: Disebabkan oleh Toksoplasma gondii (protozoa), Rubella virus, Cytomegalovirus dan Herpes simplex virus (HSV). Dapat menyebabkan infeksi kongenital. Infeksi pada anak dan dewasa yang imunokompeten biasanya tanpa gejala atau dengan gejala ringan. Infeksi pada janin dan dewasa yang imunokompromis dapat berakibat fatal. Infeksi TORCH biasanya tanpa gejala atau disertai gejala klinik yang tidak khas sehingga diagnosis terutama ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium.

·         Diabetes Melitus: merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup dan merupakan suatu penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Perubahan gaya hidup dan urbanisasi juga merupakan penyebab penting masalah diabetes melitus.

Nah, untuk para analis kesehatan, yang penting lagi dari seminar ini adalah bagaimana pemeriksaan laboratorium dari berbagai macam kelainan dan penyakit tersebut di atas. Berikut adalah berbagai pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk menapis berbagai kelainan dan penyakit tersebut.

·         Menapis thalassemia: gambaran darah tepi, bila terdapat mikrositik hipokrom dilanjutkan dengan status besi dan analisa Hb

·         Menapis infeksi HIV: anti-HIV

·         Menapis Hepatitis B: HbsAg

·         Menapis infeksi sifilis: VDRL dan TPHA

·         Menapis infeksi TORCH: anti-Toxoplasma IgG dan IgM, anti-Rubella IgG dan IgM, anti-CMV IgG dan IgM, dan anti HSV2 IgG dan IgM

·         Menapis DM: glukosa puasa dan sewaktu

·         Menapis pemakaian narkoba: tes narkoba

Itu tadi pemirsa, sedikit apa yang saya dapatkan dari seminar premarital check up tersebut. Seselesainya seminar, saya juga berkesempatan untuk mengantar dr. Yusra berkeliling di sekitaran Kuta sebelum terbang kembali ke Jakarta. Seru juga bisa bertukar cerita dengan dokter yang cantik dan cerdas ini. Bagaimana seru dan bingungnya memilih oleh-oleh untuk keluarga beliau, berputar-putar mencari ayam betutu dan sate lilit dan Alhamdulillah dapat juga di tengah waktu yang sangat mepet, dan bagaimana uniknya antri untuk membeli pia legong yang tiap pembeli hanya dijatah dua kotak saja. Itu pun kita sampai kembali dua kali karena persedian toko habis dan kami harus kembali lagi setelah 2 jam dan tidak bisa memesan. Kalau masih ingin membeli maka tetap harus ikut mengantri 2 jam kemudian. Setelah semua rintangan tersebut, alhamdulillah semuanya berhasil didapatkan, oleh2, ayam betutu, sate lilit dan pia legong. Tiba waktunya kami berpisah di Bandara Internasional Ngurah Rai karena waktu sudah menunjukkan bahwa dr. Yusra sudah harus check in. Bye bye dr. Yusra...semoga kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Mungkin di lain waktu nanti saya yang akan mengunjungi dokter di RSCM, insyaAllah...



Disarikan dari makalah seminar:

·          Premarital Check Up, oleh dr. Yusra, Sp.PK, Ph.D

·          Diagnosis Diabetes Melitus, Hepatitis B, oleh dr. Ketut Suardamana, Sp.PD

Sabtu, 26 Januari 2013

Cinta Tanpa Tatap

Percayakah kau pada cinta yang hadir tanpa pernah bertatap?
Pernahkah kau merasakan jatuh cinta pada seseorang sebelum kau bertemu dengannya?
Atau pernahkah kau mendapat ucapan cinta dari seseorang yang bahkan belum pernah kau temui?
Atau bahkan pernahkah kau mendapat ucapan cinta yang begitu posesif dari seseorang yang hanya pernah memandangmu lewat foto?
Aku percaya bila orang lain yang mengalaminya.
Tapi aku tidak percaya bila itu menimpaku.
Bahkan aku sendiri belum bisa mendefinisikan apa itu cinta.
Seperti gelora para remajakah yang selalu mengumbar kata cinta pada kekasih yang belum halal baginya?
Akupun tidak tau, karena aku tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan apa yang mereka sebut dengan "pacaran".
Rasa cinta yang bisa aku definisikan saat ini barulah sebatas rasa cinta pada orang tua dan keluarga.
Cinta adalah pengorbanan.
Cinta adalah bahagia bila orang yang kita cintai bahagia.
Cinta seperti itulah yang pernah ku rasakan.
Saat dimana aku merasa tidak berdaya hidup di dunia karena kepergian ibu, aku masih bertahan hingga sekarang karena cinta.
Cintaku pada ibu, aku percaya bahwa inilah yang terbaik bagi ibu. Allah lebih mencintai ibu. Aku bahagia asalkan ibu bahagia. Maka akupun berdoa semoga ibu selalu mendapat kebahagiaan di sana. Begitulah aku bertahan dan masih berjuang di dunia karena cintaku pada ibu.
Cintaku pada ayah, aku bahagia bila ayah juga bahagia. Akupun rela hidup jauh berpisah dari beliau asalkan beliau bahagia disana. Aku ingin semua orang yang aku cintai bahagia. Tak usahlah mereka mengkhawatirkan keadaanku yang jauh dari mereka. Aku hanya ingin membahagiakan mereka.
Lalu, bagaimanakah dengan cinta tanpa tatap yang aku katakan di muka tadi?
Cinta seorang laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya.
Cinta yang terkadang bisa membangkitkan semangat hidup atau bahkan membuat makin terpuruk.
Maka itulah betapa pentingnya mengatur rasa cinta yang ada di hati. Hati ini milik Allah, maka sudah sewajarnya dibaktikan untuk Allah.
Dan bagiku, cinta tanpa tatap belumlah disebut cinta, namun hanya sebatas kagum.
Dan aku sering mengalaminya, mengagumi seseorang tanpa pernah aku bertemu dengannya.
Bila cinta tanpa tatap diganti menjadi kagum tanpa tatap, maka aku percaya.

"Cinta tak akan pernah merasakan patah hati, karena cinta adalah bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia".


Jumat, 25 Januari 2013

Hanya Ingin Menulis

Sudah lama rasanya aku tidak menulis. Dulu sekali aku selalu menuliskan hobi membaca dan menulis di setiap pengisian biodata. Itu memang benar, tapi itu dulu..dulu waktu aku masih duduk di bangku sekolah. Aku masih sangat ingat, aku sampai punya buku tulis khusus untuk menuangkan segala pikiranku entah berupa puisi, cerpen, pantun, gurindam, atau apa saja yang terlintas dalam pikiranku. Masih ingatkah kalian tentang pelajaran gurindam. Aku mendapatkannya di kelas satu SMP. Semakin lama aku merasa makin kehilangan kemampuan menulisku. Karena usia kah? Karena pekerjaankah? Karena otakku sudah penuh oleh hal2 berbau sainskah? Entahlah.
 Aku selalu terkagum-kagum membaca tulisan orang yang begitu indahnya. Segala pengalaman dan kisah hidupnya tertuang begitu apik menjadi rangkaian kata yang begitu puitis. Dan begitulah, sebenarnya aku sangat ingin menjadi penulis. Namun sampai saat ini aku hanya bisa sebatas terkagum-kagum membaca tulisan indah dari orang lain. Setiap ku coba untuk mengawali sebuah tulisan, selalu saja tanpa ending yang jelas. Puisi pun hanya bisa terwujud setelah ada suatu kejadian yang membekas di hati. Lalu saat ini apa yang aku tulis? Beginilah adanya, hanya ingin menulis. Itu saja.

Published with Blogger-droid v2.0.4

Minggu, 02 Desember 2012

Kisah Teladan tentang Sholat

Wew, 3 bulan tanpa menyentuh blog ini, kemana saja aku? begitu sibukkah?
Tapi ku akui akhir2 ini entahlah aku merasa di puncak kemalasan yang sangat tinggi, males ngapa2in, pulang kantor, langsung terkapar tak berdaya di kamar, n melakukan hal2 yang tidak bermakna hingga keesokan hari aku berangkat ke kantor lagi, padahal banyak sekali PR yang harus aku kerjakan...hhhhhhhhhhh...manusia apa aku ini????!!!! Serasa hidup tanpa tujuan...
Aku merasa jumud, jauh dari Allah SWT, Astaghfirullah...ampuni hamba ya Rabb...
Aku sholat, aku berdoa, aku berdzikir, tapi aku merasa aku hanya melakukannya sekedar rutinitas, Astaghfirullah...
Dan hal yang aku lakukan di waktu2 dimana aku sudah tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan adalah membaca, membaca apa saja yang ingin ku baca, ku lihat dengan seksama lemari penyimpan buku2ku, di situlah ku ambil salah satu buku yang menarik minatku.
Mataku tertumbuk pada salah satu judul buku, "Buat Apa Sholat?". Aku sudah pernah membacanya, tapi itu sudah lama sekali sehingga aku ingin membacanya kembali.
Sholat adalah tali hubungan yang kuat antara seorang hamba dengan Tuhannya. Hubungan yang mencerminkan kehinaan hamba dan keagungan Tuhan ini bersifat langsung tanpa perantara dari siapapun. Dalam Islam, sholat diletakkan pada kedudukan yang sangat terhormat dan tidak ada bandingannya. Hal itu dijelaskan secara tegas oleh sbda Rasulullah SAW,
"Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan titik puncaknya adalah berjuang pada jalan Allah."
Islam memerintahkan orang melakukan dan menjaga sholat dalam keadaan apapun; ketika sedang kuat maupun sedang lemah, ketika sedang bepergian maupun ketika sedang berada d rumah, ketika sedang dalam keadaan aman maupun ketika sedang terjadi kerusuhan, ketika masih muda maupun ketika sudah sangat tua.
Pada suatu hari, seorang yang saleh kedatangan tamu. Maka dia keluarkan semua makanan yang ada saat itu untuk disuguhkan kepada tamunya. Setelah menghabiskan semua suguhan, si tamu pamit pulang. Padahal seharian penuh anak-anak orang saleh itu belum makan. Akibatnya mereka semua menangis karena lapar.
"Sekarang apa yang akan engkau lakukan buat anak-anak kita itu?" tanya istrinya dengan perasaan kesal.
"Tenang saja! Selagi Allah yang menciptakan mereka, tentu Dia tidak akan melupakan mereka," jawabnya dengan tenang.
Tengah malam sehabis berwudhu, ia keluar rumah dan pergi ke masjid terdekat. Disana ia sholat dan bersujud berdoa lama sekali. Pada waktu yang bersamaan ada seorang Amir yang hidupnya bergelimang kemaksiatan, tiba-tiba sadar dan ingin bertaubat. Pikirannya kalut dan hatinya diselimuti rasa gelisah. Ia bangun lalu mengambil sekarung makanan dan setumpuk uang. Ia berniat pergi entah kemana untuk memberikan makanan dan uang itu pada siapapun yang pertama kali dia jumpai. Karena  tidak punya tujuan, ia biarkan ontanya berjalan tanpa ia kendalikan. Ternyata onta tersebut berbelok dan masuk ke halaman masjid tempat orang saleh tadi berdoa.
Begitu masuk masjid, sang Amir mendapati seorang lelaki sedang bersujud lama sekali sambil berdoa memohon kepada Allah agar berkenan memberi rizki kepada keluarganya yang sedang kelaparan. Sang Amir terus menunggu sampai selesai. Hatinya terharu. "Ambil makanan dan uang ini. Semuanya untukmu," kata sang Amir. Orang saleh itupun menerimanya dengan senang hati.
"Kalau kamu butuh bantuan lagi datang saja menemuiku di istana. Aku pasti akan memberimu," janji sang Amir.
"Demi Allah, tidak, kalau aku perlu bantuan aku tidak akan menemui Anda, tetapi aku akan menemui Allah yang telah membawa Anda kesini pada tengah malam begini." jawab orang saleh itu.
Riwayat ini menunjukkan bahwa faktor yang menyebabkan diterimanya doa oleh Allah adalah sholat. Siapapun yang ingin doanya didengar dan dikabulkan Allah SWT, maka ia harus menghadap sendiri ke hadapan Allah dalam keadaan suci. Ajukan segala permohonan dengan sopan, dengan memperlihatkan rasa malu dan dengan perasaan penuh harap. Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Dermawan.

Sumber: Abdul Malik az-Zaghabi, "Buat Apa Shalat?"

Senin, 20 Agustus 2012

Tetap Berpenghasilan di Saat Mudik

Assalamu'alaikum semua..
Tanpa terasa bulan Ramadhan begitu cepat berlalu dan saat ini sudah hari kedua bulan Syawal.
Tak lupa kuucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H, Taqobbalallohu minna waminkum, Shiyamana wa shiyamakum, Ja'alanallohu minal aidin wal faizin, Asalukal afwan zahiran wa bathinan."
Badanku terasa sakit semua karena rasanya dari sebelum mudik tidak pernah berhenti wara-wiri. Sebagai abdi negara yang baik, hari Jumat pagi, 17 Agustus 2012, aku masih mengikuti upacara hari Kemerdekaan RI sebelum sorenya sudah harus cabut ke Malang. Para sepupu2ku sudah bingung menanti kapan aku pulang, walaupun mereka harus sedikit kecewa karena di Malang aku hanya mampir sehari sebelum besoknya terbang ke Banjarmasin, Kalsel. Yah, beginilah nasib perantau yang mudiknya udah mepet lebaran, tidak sempat sahur bareng bersama keluarga. Nah, keluarga yang ku maksud disini bukan keluarga inti alias ayah, ibu dan kakak, karena Ibuku sudah ada di tempat yang indah (kisahnya juga sudah pernah ku ceritakan kan..), Ayahku ada di Banjarmasin, dan kakakku lagi mudik ke rumah mertuanya di Cilacap. Namun begitu aku tetap berbahagia karena walaupun di Malang tidak ada keluarga intiku, namun masih banyak keluarga besarku yang sangat sayang dan peduli padaku..hiks..kadang ada juga rasa iri melihat teman yang kala pulang ke rumah disambut hangat oleh ayah ibu mereka dengan penuh cinta...
Nah, sekarang aku menulis ini setelah seharian berjibaku dengan bisnis ayahku yang berjualan mie ayam dan bakso. Hari kedua lebaran, ayahku sudah mulai membuka kembali warungnya. Karena hari lebaran, dari pagi sampe malam ramai sekali pembeli yang datang. Aku yang notabenenya ke Banjarmasin untuk berlibur akhirnya jadi ikut sibuk membantu di warung Ayah. Dari bangun tidur sampe mau tidur lagi rasanya gak berhenti cuci mangkok, sendok, garpu dan gelas. Karena aku gak bisa bantu menjuali orang, akhirnya aku jadi seksi pembuat minuman, beresin meja orang habis makan, dan cuci2. Capeknyaaaaa....tapi senang juga, Alhamdulillah laris manis...sampe banyak pembeli yang tidak kebagian karena sudah habis, padahal bikin stoknya juga udah banyak banget. Aku bilang sama Ayah, "Yah, Sofi digaji juga lo ya...sama seperti pegawai ayah yang lain..", dan Ayahku menjawab, "Iya, tenang aja...nanti Ayah bayar sama dengan yang lain.." Hihihi...lumayan kan buat tambah2 ongkos balik ke Bali. Jadi selama seminggu di Banjar, otomatis aku juga akan jadi pelayan warung. Kalo kurasa2, baru sehari aja jadi pelayan warung, badanku sudah seperti digebukin orang sekampung, gimana kalo satu minggu...oh nooo...
Oke juga kan mudikku kali ini...sekali dayung dua tiga pulau terlampaui...sekalian ketemu orang tua, ketemu saudara, dapat tambahan uang juga...
Kalo dulu waktu kecil, saat lebaran selalu dapat uang angpao lebaran. Tapi karena sekarang udah gede dan udah kerja sendiri, udah gak dapat angpao lagi deh, tapi malah memberi angpao. Walaupun begitu, tetap ada peluang mendapat uang saat lebaran, caranya?? ya itu tadi...hehehe...

Senin, 23 Juli 2012

Rihlah ke Tirta Gangga

 Tulisan lama yang baru diposting disini. Tulisan ini adalah episode lanjutan dari tulisan sebelumnya, http://jasoya.blogspot.com/2012/07/rihlah-ke-taman-ujung-soekasada.html. Tirta Gangga merupakan pemandian air peninggalan kerajaan Karangasem yang terletak di desa Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem. Sesampainya disini, hawa sejuk dan segar sangat terasa. Sebelum pintu masuk pemandian, terdapat moneumen perjuangan rakyat Bali melawan penjajahan Jepang. Di dalamnya terdapat kolam ikan yang berisi ikan-ikan berukuran super jumbo dan kolam yang dijadikan arena pemandian untuk pengunjung. Banyak juga pengunjung terutama anak-anak yang mandi di kolam yang memang diperuntukkan untuk pemandian. Selain itu tidak sedikit pula yang hanya sekedar jalan-jalan dan mengabadikan momen2 terindah di Tirta Gangga, termasuk aku... 






Di dalam kolam ini, banyak terdapat ikan-ikan cantik berukuran jumbo