Minggu, 25 Januari 2015

Kawah Putih, Ciwidey

Tanggal 19 Januari 2015, perkuliahan semester genap sudah akan dimulai. Jadi, sebelum mulai bersibuk-sibuk ria di perkuliahan dan penelitian, jalan-jalan dulu, jalan-jalan lagi dan lagi. Seminggu sebelum kuliah dimulai, aku sudah balik ke Bandung untuk mengurus beberapa administrasi terkait pembayaran BPP.
Jadilah hari Rabu, 14 Januari kemarin, kami (aku, Dira, Demi dan Yudi) menyempatkan diri rihlah ke kawah putih, Ciwidey. Perjalanan ke sini dari kota Bandung menempuh waktu sekitar 1,5 jam. Pemandangan kanan kiri jalan mendekati daerah Ciwidey kebanyakan adalah penginapan-penginapan dan kebun-kebun strawberry. Untuk menuju kawah putih, dari parkiran bawah, kami naik ke kawasan kawah menggunakan angkot yang telah disediakan pihak tempat wisata dengan harga tiket 33ribu per orang, sudah termasuk tiket masuk dan angkutan menuju kawah pergi pulang. Baru saja memasuki kawasan Ciwidey, hawa dingin sudah sangat terasa, jadi kalau kesini wajib bawa jaket.
Angkutan menuju puncak kawah putih, baru akan berangkat bila penumpangnya sudah pas 12 orang, jadi kami menunggu selama beberapa menit sebelum angkot berjalan. Kira-kira 10 menit menempuh perjalanan yang menanjak, sampailah kami di kawah putih, kabut sangat tebal dan hawa sangat dingiiiinn...bau belerang mulai menusuk hidung.
Di pintu masuk menuju kawah, ada penjual masker (untuk yang tidak tahan dengan bau belerang), penjual belerang yang dibungkus plastik kecil-kecil, ada jasa peminjaman jaket (eh, entahlah itu dipinjamkan atau dijual), ada pula jasa foto langsung jadi. Masuk sedikit demi sedikit menuju kawah, kami disuguhi pemandangan indah yang berkabut tebal dan dingin. Kami disambut pula oleh seorang pemain kecapi di saung kecapi. Langsung saja check this out pemandangan-pemandangan kawah putih yang sangat indah.

Suguhan di pintu masuk kawah putih

Keterangan mengenai kawah putih yang dipajang setelah pintu masuk

Beberapa view kawah putih

View diambil saat kabut

atas: berkabut dan dingiiinn
bawah: ketika kabut tiba-tiba menghilang, dan udara menjadi hangat,
sehingga kita bisa melepas jaket merasakan hangatnya matahari

View ketika cuaca cerah setelah kabut menghilang

Kira-kira 3 jam kami mengitari kawasan kawah putih, menikmati pemandangan dan berfoto-foto ria. Setelah puas, kami segera turun, sholat dhuhur dengan berwudhu air yang sedingin es di mushola yang ada di dekat pintu masuk. Kami menunggu beberapa menit lagi untuk menuju ke bawah tempat mobil sewaan kami diparkir, menunggu penumpang angkot berjumlah 12. Ketika turun menggunakan angkot, hujan turun dan jadilah bajuku basah karena aku duduk di pinggir dan angkotnya merupakan angkot terbuka. Sebelum pulang, kami menyempatkan membeli oleh-oleh strawberry dan boneka kaki ukuran jumbo.

Liburan Seru di Kalimantan Selatan

Assalamu'alaikum sahabat blogger...
Kali ini aku mau berbagi pengalaman liburanku selama 2 minggu di Kalimantan Selatan saat liburan semester ganjil kemarin.
Selain bertemu dengan ayah, keluarga, saudara, teman2, melepas rindu setelah setahun lebih tak bersua, tak lupa jalan2 dunk..terimakasih sepupu2ku tercinta yang telah mengajakku eksplor the beauty of Kalsel.
Walaupun sudah sangat sering menginjakkan kaki di bumi Pangeran Antasari ini, namun ada beberapa lokasi yang baru aku kunjungi sekarang, yaitu bukit teletubbies dan labirin. Menurut Mas Ar, sepupuku, memang dua tempat ini baru saja dibuka menjadi tempat wisata.
Banyak sekali cerita seru saat aku berlibur di Kalsel kemaren, mulai dari tinggal di desa Pambantanan, Sungai Tabuk, yang semua aktifitas warganya mengandalkan air sungai, mulai dari MCK hingga transportasi. Terbayang kan bagaimana susahnya aku yang tidak terbiasa MCK di sungai, akhirnya aku mandi di teras samping rumah dengan ditutup kain, syukurnya di samping rumah adalah rumah kosong tanpa penghuni, sebelum mandi tengok dulu kanan kiri atas bawah, lalu mandi dengan secepat kilat. Lalu untuk urusan lain selain mandi terpaksa menahan diri sampe menemukan kamar mandi di desa sebelah, hihi..
O yah, sudah pada tau kan, kalau di Kalsel itu tanahnya adalah rawa-rawa, jadi hampir seluruh rumah penduduk disini adalah rumah panggung dan berbahan utama kayu karena dibangun di atas rawa-rawa. Makanya tadi aku bilang tengok kanan kiri atas bawah, karena bagian bawah ada space antara kayu dan kayu sehingga kita bisa melihat jelas air rawa-rawa di bawah rumah.
Di desa Pembantanan, Sungai Tabuk, selama beberapa hari yang singkat disini, aku sempat ikut acara peringatan Maulid Nabi SAW pas di tanggal 1 Januari 2015. Sempat juga pergi kondangan (kalau bahasa banjarnya, saruan) pengantin, padahal gak kenal sama pengantinnya, malah minta poto bareng jg, hehe, mumpung ketemu pengantin Banjar.
Kehidupan disini sangat seru, benar-benar kembali ke desa rasanya, lepas sudah penatnya kehidupan kota, bermain bersama anak-anak desa, kemana-mana naik jukung atau kelotok, karena memang jauh lebih mudah lewat jalur sungai daripada jalur darat, apalagi di musim hujan seperti sekarang, jalur darat sangat susah dilewati karena becek dan medannya susah. Jukung dan kelotok itu sama-sama perahu kecil, tapi kalo kelotok menggunakan mesin, sementara jukung tidak, murni pake dayung. Semua penduduk disini, baik anak-anak, tua muda, laki-laki, perempuan, mahir menggunakan alat transportasi ini. Sedangkan aku masih suka teriak-teriak kalo naik jukung/kelotok dan menyusuri sungai di desa ini menuju desa lain. Seruuuuuuuuuu...

"Ayo dayung..dayung..dayung terus.."
Ini di daerah desa Pembantanan, Sungai Tabuk

Saat ikut acara peringatan Maulid Nabi,
sssttt...lihat dapat makan potongan atamnya gede banget,
akhirnya ku bawa pulang saking gedenya, hehe..

Ikut saruan, ikut poto-poto sama manten, padahal gak kenal,
mungkin mantennya mikir, ini siapa sih, hihihi...
Semoga sakinah mawaddah warahmah ya pengantin baru..

Waktu menyusuri sungai dengan kelotok, tuh lihat,
 biar di sungai juga ada tanda lalu lintasnya loh...
gak kalah sama lalu lintas darat kan..

Setiap berkunjung ke Kalsel, tak lupa aku selalu berkunjung ke Martapura. Aku menghabiskan masa kecil disini, sekolah sampai kelas 3 SD. Terlalu banyak kenangan manis disini, terkadang membuatku berkaca-kaca bila menyusuri sisi-sisi jalan yang masih begitu kuat menancap di ingatanku. Tentu saja semuanya sudah banyak berubah, sangat banyak malah.
Di Martapura, dengan diantar sepupuku beserta suami dan anak-anaknya, aku berburu batu intan di pasar intan CBS (Cahaya Bumi Selamat), tiap berkunjung kesini, selalu mampir cari batu-batuan dan akesoris, lebih tepatnya mencari titipan teman, hehe...

Hasil berburu batu di Martapura,
 ada blue saphir, ruby, zamrud, kecubung dan black saphir, bagus kan..

Menjelang berakhir liburan, aku diajak mengunjungi tempat wisata bukit Teletubies, taman labirin dan pantai Takisung yang berada di Pelaihari, kabupaten Tanah Laut, Kalsel. Dua pertama merupakan tempat baru yang aku kunjungi, sedangkan pantai Takisung sudah pernah aku kunjungi saat aku kecil dulu, tentunya dalam keadaan yang sudah berbeda. Waaahhh...benar-benar bagus pemandangan di taman labirin dan bukit Teletubies. Letak dua tempat wisata ini tidak terlalu jauh, jadi biasanya pengunjung yang mengunjungi taman labirin langsung melanjutkan ke bukit Teletubies. Sebenarnya bukit Teletubies ini nama aslinya adalah bukit.............(lupa, nanti aku tanyain dulu ke sepupu, hehe) dan karena bentuk dan warnanya yang mirip dengan acara anak-anak Teletubies, makanya jadi lebih populer dengan nama tersebut. Udara disini benar-benar sejuk, menikmati angin berhembus langsung dari atas bukit, benar2 membuat rileks. O ya, disini, dekat dengan labirin dan bukit Teletubies, juga merupakan daerah peternakan ayam.
Siang hari setelah puas menghabiskan waktu di taman labirin dan bukit teletubies, kami mampir dulu ke pondokan mas Ar untuk istirahat, sholat dan makan siang, ikan bakar buatan istri mas Ar dan mertuanya benar-benar maknyus, pengen nambah tapi sudah kenyang, hehe. Sorenya kami meluncur lagi ke pantai Takisung, maunya menikmati sunset, tapi langit tertutup awan, tak apalah, masih bisa menikmati pemandangan disini sambil tak lupa mengabadikan gambar.

Taman Labirin

Bukit Teletubies

Bersama keluarga sepupu,
atas: bukit teletubies
bawah: di depan kandang rusa yang ada di wilayah taman labirin

Searah jarum jam, labirin, kantor bupati kab. Tanah Laut,
pantai Takisung, bukit Teletubies

Pantai Takisung
Sekian dulu ya cerita seru explore the beauty of Kalsel, sebenarnya sangat banyak yang bisa diceritakan, tapi sementara baru bisa bercerita sesingkat ini. Setelah ini aku akan cerita pengalaman seru lainnya, insyaAllah setelah ini blognya akan terus di update, tidak seperti tahun lalu yang hanya ada 3 postingan, uh so sad...
Sampai jumpa di cerita lainnya ya...pantau terus diary of the queen bee.. :)

Menjadi Mahasiswa (lagi) ;)

Assalamu'alaikum semua..
Sudah terlalu lama tidak menulis di blog ini, terakhir bulan Mei 2014 setelah tes penerimaan maba pascasarjana ITB. MasyaAllah..8 bulan berlalu tanpa terasa, eh terasa sih, terasa sekali menjadi mahasiswa pasca ITB, dan sekarang sudah berlalu satu semester, sudah berlalu pula liburan, dan sekarang sudah masuk kuliah lagi semester 2. Semoga semuanya berjalan lancar hingga lulus, mudahkan ya Allah..aamiin...
Tahun kemaren memang sedang hectic2nya aktifitas serasa berlari2, karena mau lanjut sekolah lagi, jadi wara wiri mengurus pendaftaran, tes2 ini itu, dan menyelesaikan segala tanggungan kerjaan kantor karena akan ditinggal sementara lanjut sekolah, beres2 kostan lama di Denpasar, cari kostan baru di Bandung dan sampailah disini, berjuang lagi menjadi mahasiswa, pusing dengan segala tugas2, ujian2, proposal penelitian, jalan2, eh..hehehe..
Enjoy saja lah..jalani semua dengan hati gembira, selalu bersyukur dan be positive.
Ketika kerja, pengen lanjut sekolah, sudah dikasih sekolah, mikir kok enakan kerja ya..
Kalau kerja ya kerja aja di siang hari, malamnya free mau ngapain aja, gak pake mikir, kecuali kalau buat slide untuk ngajar mahasiswa, kadang ada lembur juga sih, tapi gak ada beban.
Kalau kuliah, siang ngampus, pagi siang sore malam mikirin tugas, mikirin proposal, mikirin penelitian, aaaarrrgghhh...tapi nikmatnya bisa liburan lebih panjang kalo libur semester dan yang jelas gak mikir kerjaan..hehe..
Lupakan soal jerawat yang makin merajalela waktu kuliah, lupakan jalan jauh dari kostan ke kampus (kalo ngantor biasa naik motor), lupakan susahnya belajar biokimia (kalo ini iya ku akui susah..hiks,,hiks,,), just enjoy it, tuh buktinya masih sempat jalan2, masih sering shopping2, masih bisa ini, bisa itu, ya kan..(ala Pak Yana, dosen NMR, hehe).

Semangat!!! Hamasah!!!

Selasa, 27 Mei 2014

Kumpul-kumpul MSI Malang

Mumpung lagi berlibur di Malang, ketemuan lagi sama komunitas Masyarakat Skoliosis Indonesia yang ada di Malang. Walaupun banyak yang ga bisa, akhirnya kita kumpul dengan yang bisa2 aja di Malang Town Square. Cerita-cerita, jalan-jalan, seru-seruan sampai foto-fotoan. Itulah agenda kita hari itu. Ada kejadian lucu waktu kita jalan2 di Gramedia, aku melihat remaja laki-laki yang postur tubuhnya dapat dipastikan skoliosis. Trus aku bilang ke Silfi dan Bhela. Mereka semua mengiyakan. Silfi menyuruh aku nyamperin tuh anak dan berkenalan untuk kita ajak gabung ke grup kita sekalian. Tapi berhubung aku ga mau, akhirnya Silfi yang maju. Haha, apa yang terjadi, ternyata Silfi ditolak mentah-mentah. Jadi Silfi main tembak aja tuh anak."Eh, kamu skoliosis ya??" tanya Silfi ke anak itu. Anak itu langsung kaget menjawab, "Bukan". Silfi langsung kabuuuuuuuurrrr....hahaha...Silfi...Silfi...ya terang aja dia jawab kayak gitu, habisnya kamu kayak lagi nembak cowok aja, "eh kamu mau ga jadi pacar aku??", "nggak...." haha..piiss Silfi, mungkin dia masih ga ngeh kalo dia sebenarnya juga skoliosis seperti kita. Wah, padahal kalo memang dia belum ngerti, semestinya tugas kita untuk membuat dia mengerti, tapi apa daya, dia udah menolak duluan sih...hihihihi...:D
Bhela (kerudung modif), Silfi (kerudung hijau tosca), Hanani (kerudung biru), Syifa (kerudung oranye, bukan skoliosis tapi sepupuku), Aku (kerudung bunga2 merah)

Bandung, Akhirnya ke Bandung juga…



Kali ini aku mau bercerita pengalamanku waktu ke Bandung tanggal 16 – 18 Mei kemaren. Mungkin memang bukan sesuatu yang sangat spesial, tapi Bandung adalah kota yang dari dulu sangat ingin aku kunjungi tapi ga kesampaian2 juga, karena memang belum ada kepentingan kesana. Entah karena biar bisa ke Bandung atau karena apa, akhirnya aku mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa S2 ITB, hehe..doakan semoga diterima yah..aamiin…
Walaupun di Bandung Cuma 3 hari 2 malam, tapi banyak sekali pengalaman dan teman2 baru. Semua yang ku temui adalah teman2 baru yang baik dan menyenangkan. Sampai di Bandara Husein Sastranegara, aku dijemput sama Rani, teman satu grup di ODOJ (One Day One Juz) yang juga kuliah di ITB. Trus aku diantar ke Farmasi ITB, menemui Lina yang juga baru aku kenal, malamnya aku mau numpang tidur si kosan Lina, hehe. Bersama Lina aku melihat ruangan tempat aku ujian TPA besok. Trus aku diantar Rani berkeliling ITB, melihat jurusan Kimia, jurusan tempat aku menimba ilmu kalau diterima nanti.
Hari pun beranjak sore, aku bersama Lina pulang ke kosannya di daerah Gegerkalong. Wah, ternyata deket banget dengan kompleks Daaruttauhid. Malamnya aku berkeliling sekitaran kosan Lina sambil mencari makan dan akhirnya kita makan malam di MQ Food Court. Lelah dari pagi mulai berangkat dari Denpasar dan berkeliling di ITB sampai sore membuatku tidur nyenyak dan tidak sempat belajar TPA lagi.
Tibalah hari H ujian TPA, 17 Mei 2014, ujian 3 jam cukup membuatku pusing dan ingin muntah, karena paginya hanya sempat makan secuil roti. Selesai TPA, aku dan Lina pergi ke masjid Salman ITB menemui seorang kenalan skolioser yang baru ku kenal di fb, Diny. Trus kita keliling, makan siang, kemudian mampir beli oleh-oleh khas Bandung. Trus kita menuju penginapan MQ Guest House untuk beristirahat dan bercerita segala macam tentang diri kita masing-masing dan juga skoliosis kita. Malamnya kita makan mi ramen di depan penginapan dan berkeliling melihat2 pertokoan di sekitar penginapan.
Akhirnya, hari Ahad, 18 Mei 2014, aku sudah harus balik ke Bali dan bersiap mengikuti tes selanjutnya dari jurusan Kimia ITB, yaitu tes jarak jauh via email. Tapi aku kangen sekali dengan teman2 di kantor lamaku di Perancak, Negara, jadi sampai di Denpasar aku tidak menuju kosan tetapi langsung meluncur menuju Negara. Bye bye Bandung, semoga Allah meridhoiku kuliah lagi di ITB, jadi aku bisa kembali ke Bandung lagi, aamiin..

Bersama Lina dan Diny, di depan MQ Guest House, dengan foto edit hasil kreasi Diny, :)


Ibu, Aku Rindu

Ibu, bila saat ini kau melihatku apa yang akan Ibu katakan.
Ibu, tulang belakangku sudah tidak sebengkok dulu, 2 pen dan 12 skrup sudah terpasang di punggungku.
Ibu, gigiku sudah tidak berantakan seperti dulu, dokter ortodhonti sudah merapikannya untukku.
Ibu, aku sudah mendapatkan tanda seorang wanita sesungguhnya walaupun aku mendapatkannya di waktu wisuda S1.
Ibu, aku sudah menjadi gadis yang berani, suka pergi kemanapun seorang diri, tinggal jauh dari rumah seorang diri, tidak seperti dulu yang bahkan hanya pergi untuk kemah pun aku menangis karena ingin tidur bersamamu.
Ibu, aku sudah tidak pemalu, tidak seperti dulu yang bahkan kalau dudukpun ingin selalu kau pangku.
Ibu, kata teman2 aku cantik, tapi setelah mereka melihat foto Ibu, ternyata mereka bilang aku kalah cantik dari Ibu.
Ibu, sekarang aku sudah bekerja, tapi tetap aku tidak bisa seperti Ibu yang pandai segala hal.
Ibu, kau pandai memasak, pandai menjahit, pandai merajut dan pandai memotong rambut, tapi satupun aku tak bisa.
Ibu, andai kau melihatku, masihkah kau bangga padaku?


Denpasar, 11 Mei 2014
Ditulis dengan linangan air mata yang berderai-derai sampai pagi

Jumat, 09 Agustus 2013

Semangat dan Syukur para Skolioser


Bismillahirrohmanirrohim...

Tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri, teman-teman sesama skolioser dan seluruh pembaca yang sempat membaca tulisan ini. Saya terdorong untuk menulis ini demi memotivasi diri saya sendiri dan teman-teman skolioser pada khususnya dan semua masyarakat pada umumnya. Harapan saya adalah ingin membuang semua keluhan-keluhan yang mungkin selalu saja terbersit pada diri seorang skolioser seperti halnya juga saya yang merupakan manusia biasa yang tak lepas dari keluh kesah. Tapi bagaimana kita memanage setiap keluh kesah tersebut menjadi rasa syukur yang membuahkan pahala.

Dalam hidup, tak ada seorangpun manusia yang lepas dari ujian dan cobaan. Namun ingatlah, setiap ujian yang menimpa kita, Allah juga pasti telah memberikan solusinya. Kalaupun belum terpecahkan di dunia, di akhirat pasti kita mendapat balasannya. Selalu berkhusnudzonlah kepada Allah atas setiap apa yang menimpa kita.

Setelah saya tau bahwa saya adalah salah satu skolioser (sebutan untuk penyandang skoliosis) yang ada di dunia ini, baru saya tau bahwa tidak hanya saya seorang yang mempunyai kelainan ini. Ternyata masih banyak di luar sana yang juga menyandang predikat skolioser. Diantaranya telah bergabung dalam Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI). Dari MSI inilah saya tau bahwa banyak yang bernasib sama dengan saya. Di luar sana pastilah masih banyak skolioser yang tersebar di desa-desa dan di pelosok-pelosok yang kemungkinan belum tau bahwa apa yang menimpa dirinya dinamakan skoliosis seperti halnya pula diri saya dahulu.

Saya baru tau bahwa ke’bungkuk’an yang ada di punggung ini adalah tanda bahwa saya menyandang skoliosis setelah saya berusia 26 tahun. Dari kecil sampai dewasa yang saya tau hanyalah bahwa saya manusia tidak normal karena bungkuk sebelah. Keluargapun juga begitu, tidak ada satupun yang membawa saya berobat atau mencari solusi selain hanya dengan olahraga-olahraga ringan dan bergantungan di pintu agar ‘bungkuk’ ini tidak semakin menjadi-jadi.

Mungkin diantara teman-teman  skolioser ada yang mengeluh minder dan tidak percaya diri dengan kondisi ini. Sayapun begitu, bahkan tidak sedikit teman-teman masa kecil yang mengolok-ngolok keadaan saya ini. Sedih? Tentu iya, tapi berkeluh kesah mendalam? Tidak.  Saya buktikan kepada mereka, meskipun saya berbeda tapi saya bisa lebih dari mereka dalam hal akademik. Dalam hal olahraga memang saya selalu lemah, lari selalu paling belakang dan terengah-engah, voly tidak pandai, basket dan lompat tinggi apalagi. Nilai olahraga selalu jelek, tapi diimbangi dengan nilai akademik yang bagus. Usah bersedih, usah mengeluh, dibalik segala kekurangan, Allah pasti selipkan kelebihan.

Mungkin pula diantara teman-teman skolioser mengeluhkan badan yang pendek karena tulang punggung yang semakin melengkung. 150 cm? 145 cm? Apakah itu pendek?? Mungkin jawabannya adalah ya bila kalian berdiri diantara teman-teman yang mempunyai tinggi 155 cm ke atas. Bagaimana dengan saya? Sejak SD sampai kuliah, saya adalah siswa yang selalu paling pendek diantara teman-teman sekelas bahkan sesekolah hingga se-Universitas (bisa jadi, karena ini pengamatan saya dari masuk kuliah hingga lulus, mungkin saja ada yang luput dari pandangan saya). Hingga saya dewasa, tinggi badan saya paling tinggi ‘hanya’lah 138 cm. Itupun masih berkurang lagi hingga 137 cm karena skoliosis. Hingga saya masuk ke dunia kerjapun sudah bisa ditebak, pastilah saya yang paling pendek diantara teman-teman. Sudah pendek, bungkuk pula. Apa saya minder?? Kadang iya, karena saya hanyalah manusia biasa yang terkadang merasa iri melihat manusia lain dengan tubuh yang sempurna. Tapi kembali lagi saya tepis semua perasaan itu. Bila orang lain bisa, maka sayapun harus bisa, toh semua organ-organ saya normal dan bisa bekerja dengan baik.

Mungkin pula ada di antara teman-teman yang saat ini masih menjalani masa studi di sekolah maupun kuliah. Menjalani masa-masa OSPEK, KKN, PKL  atau seabrek kegiatan sekolah dan kegiatan di dunia kampus. Khawatir bagaimana dengan skoli kalian apabila mengikuti OSPEK, KKN atau semacamnya. Lakukan saja selama kalian merasa kalian mampu melakukannya. Dan saya pribadi merasa bahwa apa yang bisa dilakukan oleh orang normal juga bisa dilakukan oleh skolioser selama itu adalah pekerjaan normal. Selama masa sekolah dan kuliah, semua kegiatan yang ada, saya berusaha untuk mengikuti dengan baik, saya tutupi sebaik mungkin kelainan yang saya punya walaupun mungkin memang tidak bisa ditutupi. Saya berusaha menegapkan badan dan berjalan dengan tegak ditambah lagi saya bersekolah di sekolah islam yang memakai kerudung. Setelah kuliah sayapun tetap memakai kerudung (soal kerudung ini akan saya bahas lebih lanjut di bawah). Sehingga bila orang melihat saya sekilas tidak akan terlihat kelainan yang saya punya, tetapi tetap bisa melihat bahwa saya kecil dan mungil (pengalihan dari kata ‘pendek’). Kegiatan ekstra pramuka, drumband, KIR juga saya ikuti di masa sekolah. Pertanyaan-pertanyaan kenapa saya bungkuk, kenapa jalan saya miring dan sebagainya yang mungkin membuat kuping panas hanya muncul ketika saya SD, SMP dan ketika saya mengajar di pondok yang banyak anak kecilnya. Ya, hanya anak kecil yang mempermasalahkan setiap kelainan yang kita punya. Setelah dewasa, mungkin pertanyaan itu hanya disimpan dalam hati yang membuat saya lega bisa leluasa menjalani hidup tanpa pertanyaan-pertanyaan yang kembali mengungkit ke’tidaknormalan’ diri ini. Intinya janganlah terlalu khawatir berlebihan atas kondisi yang menimpa kita, tapi tetap kita harus berhati-hati dalam melakukan aktivitas dan bijak dalam melakukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan demi menjaga agar fisik kita tidak semakin parah.

Dalam bekerja, mungkin ada teman-teman skolioser yang bingung nantinya akan bekerja di bidang apa. Bumi Allah ini begitu luas terbentang, setiap manusia telah ditentukan rezekinya dan bagaimana kita berusaha untuk mengambilnya. Pekerjaan apapun bisa dilakukan oleh skolioser selama itu adalah pekerjaan ‘normal’. Normal yang saya maksud disini adalah pekerjaan yang tidak membutuhkan tenaga ekstra kuat seperti angkut-angkut batu, semen, atau beras di punggung. Walaupun mungkin bisa juga dilakukan, tapi kasian punggungnya bisa-bisa makin parah kebengkokannya. Saya pernah bekerja di Laboratorium Kelautan dan Perikanan di Perancak, Jembrana, Bali, sebuah daerah yang membuat rindu untuk kembali kesana, yang terkadang perlu untuk mengambil sampel secara langsung. Pergi ke berbagai perairan di Indonesia untuk mengambil sampel air, lamun dan mangrove. Blusukan ke dalam hutan mangrove dan menceburkan diri ke dalam lumpur untuk menanam mangrove. Menaiki perahu dan menelusuri perairan dan terkadang ikut nyebur untuk melihat indahnya terumbu karang di dasar perairan. Mengasyikkan bukan? Tapi ada satu yang kurang dari saya, saya tidak bisa berenang sehingga hanya bisa menceburkan diri di perairan yang dangkal-dangkal saja, he..he..
Lakukanlah hal dan pekerjaan positif yang mengasyikkan di dunia ini. Jangan terlalu menutup diri sehingga banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan menjadi terlewatkan.

Seorang skolioser tidak lepas dari adanya punuk di punggung, termasuk juga saya. Mungkin ada yang terlintas dalam diri ini “susah ya pilih baju yang pas buat skolioser seperti kita?” Jawabannya tentu adalah “YA” kalau baju yang kita maksud adalah baju kebaya, kaos ketat dan pakaian-pakaian sejenis yang menampakkan lekuk tubuh. Bagaimana dengan saya? Baju apapun yang saya pakai tidak akan bisa menutupi punuk yang ada di punggung saya karena sudah begitu besar. Minderkah saya? Ya, pasti saya minder, tapi tidak saya biarkan berlarut-larut. Kembali lagi kepada setiap orang pasti memiliki kekurangan dan Allah tidak lupa untuk menyelipkan kelebihan. Kembali lagi kepada “Lihatlah orang yang berada di bawahmu pada perkara dunia dan lihatlah orang yang berada di atasmu untuk perkara akhirat”. InsyaAllah rasa minder dan kurang percaya diri lenyap seketika.
"Foto sebelum operasi, nampak punggung saya sebelah kanan yang lebih menonjol bukan?" Foto diambil di Kebun Raya Bedugul, Bali


Sewaktu masa sekolah, walaupun sekolah saya adalah sekolah islami dan mewajibkan siswinya untuk memakai kerudung, namun saat itu kewajiban untuk berkerudung belum sepenuhnya saya pahami. Sehingga di sekolah saya memakai kerudung, namun ketika pulang saya lepaskan dan saya hanya berkerudung ketika sekolah. Ketika saya kuliah dan sering mengikuti kajian, barulah saya menyadari bahwa perintah menutup aurat dan berkerudung tercantum dalam Al-quran. Perintah itu sama wajibnya seperti perintah sholat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu. Akhirnya sejak itu saya berniat untuk berhijab secara sempurna, bukan hanya berkerudung untuk pergi kuliah saja, tetapi di setiap keluar rumah.

Perintah untuk menutup aurat dan berjilbab ada dalam QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59, yang artinya sebagai berikut:

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (Terjemah QS. An-Nur: 31)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Terjemah QS. Al-Ahzab: 59)

Definisi jilbab dalam kamus bahasa arab dan dalam tafsir al-quran adalah baju kurung yang lapang. Baju kurung yang lapang biasa disebut jubah atau gamis dalam bahasa kita. Dewasa ini banyak sekali gamis dengan berbagai corak dan model. Dari model ibu-ibu, model remaja hingga anak-anak. Jadi kita tidak perlu malu lagi memakai gamis di setiap pergi keluar rumah. Apalagi ternyata ada perintahnya dalam Al-quran. Tentu saja pilihlah gamis yang syar’i yaitu yang longgar dan tidak membentuk lekuk tubuh. Jilbab dan kerudung adalah identitas muslimah yang Allah perintahkan demi kebaikan si pemakai sendiri. Seperti yang tertera dalam terjemah QS. Al-ahzab ayat 59 di atas, agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.

So, kita sudah tidak perlu bingung-bingung lagi kan untuk memilih baju. Mau seperti apapun bentuk kondisi fisik kita. Jadi, sekarang niatnya diganti, bukan memilih pakaian untuk menutupi kekurangan fisik kita, tapi niatkanlah untuk menutup aurat mentaati perintah Allah. InsyaAllah semuanya menjadi mudah dan berkah.

Mungkin sekarang ada teman-teman yang berkeluh kesah merasa sendiri, tidak ada lagi orang tua yang menemani dan mendukung kita. Padahal dengan kondisi kita yang seperti ini alangkah bahagianya ada orang tua disamping kita yang selalu mengerti keadaan kita apalagi juga mengerti dengan skoliosis kita dan berusaha untuk mencari solusi demi memperbaiki tulang punggung kita. Sekali lagi, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak luput dari ujian Allah. Segala apapun yang menimpa diri kita adalah ujian yang akan meningkatkan derajat ketaqwaan kita apabila kita mampu menjalani sembari bersyukur. Masih banyak di luar sana anak-anak yang lahir tanpa ayah. Masih banyak di luar sana anak-anak yang tumbuh dewasa tanpa sentuhan kasih seorang ibu.

Bagaimana dengan saya? Saya lahir di lingkungan keluarga yang biasa saja dan sama sekali tidak tahu menahu apa itu skoliosis. Kelainan yang ada pada diri saya dianggap memang ya sudahlah, memang begitu, mau bagaimana lagi. Selain memang mungkin karena pendidikan yang tidak begitu tinggi, juga karena kondisi ekonomi yang biasa saja kalau tidak boleh dikatakan ekonomi menengah ke bawah. Tapi saya sangat menghormati dan mengagumi kedua orang tua saya, yang walaupun “membiarkan” kelainan yang ada pada diri saya, saya tau mereka terus memikirkan saya dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk saya. Kalaupun tidak ada usaha apapun untuk memperbaiki kelainan yang ada pada diri saya, itu karena ketidaktahuan mereka dan ketiadaan biaya. Sedari kecil, orang tua saya terutama ibu begitu getol menyuruh saya untuk berolahraga dan bergelantungan di pintu setiap pagi sampai telapak tangan saya kapalan. Masa-masa awal kuliah, ibu saya dipanggil lebih dulu oleh Allah secara mendadak. Menyusul kemudian ayah saya pergi ke Kalimantan untuk membuka usaha disana karena usaha ayah di rumah kolaps sepeninggal ibu saya. Tinggalah saya hanya berdua dengan kakak perempuan saya satu-satunya berusaha tegar, berjualan sambil kuliah sampai-sampai kakak saya sering membolos. Karena merasa tidak sanggup untuk berjualan sambil kuliah, akhirnya kamipun hanya fokus kuliah dan hanya menunggu kiriman dari ayah serta berusaha bagaimana uang itu cukup untuk kuliah dan biaya sehari-hari kami.

Sampai akhirnya saat ini, kehidupan saya jauh dari keluarga. Ibu yang sudah tiada, ayah yang tinggal di Kalimantan, kakak yang sudah punya kehidupan sendiri dengan keluarga barunya di Malang, dan saya sendiri bekerja di Bali tanpa ada satupun keluarga disana. Sedihkah saya? Tentu saya sangat sedih, tentu saya sangat rindu berkumpul di tengah keluarga yang utuh, menikmati masa-masa bahagia bersama mereka. Tapi semua itu Allah ganti dengan teman-teman yang baik, teman-teman yang mengerti saya, teman-teman yang tidak mempermasalahkan kekurangan saya, teman-teman yang ringan tangan membantu saya dan teman-teman yang terkadang kebaikan mereka membuat saya meneteskan air mata dan membuat saya lupa kalau saya jauh dari keluarga. Bahkan di setiap lebaran pun saya tidak pernah berkumpul secara utuh dengan keluarga semenjak saya bekerja di Bali. Tapi tidak lupa saya syukuri, walaupun tidak ada ibu, tidak ada ayah, tidak ada kakak (karena mudik ke rumah mertuanya), masih ada bulek, paklek dan sepupu-sepupu saya tiap saya pulang ke Malang.

Kembali ke permasalahan skoliosis, sungguh sebenarnya tidak ada orang tua yang tidak peduli dan membiarkan kekurangan kita. Betapa saya menangis mendengar ayah saya meminta maaf karena dulu tidak bisa membawa saya berobat karena ketiadaan biaya. Jadi jangan pernah menyalahkan orang tua apabila mereka saat ini belum bisa membawa kalian ke tempat-tempat dimana kalian bisa memperbaiki kondisi skoliosis kalian, entah dengan terapi atau dengan operasi. Usaha apapun yang kalian bisa lakukan, lakukanlah. Yang sudah berani dan sudah punya cukup uang, operasi tentu sangat baik. Yang belum punya uang cukup dan belum punya keberanian, terapi juga tidak ada salahnya untuk dilakukan. Karena tidak ada usaha yang sia-sia selama kita berusaha dengan sungguh-sungguh dengan penuh keyakinan. Bagaimana dengan saya? Saat saya menulis ini, saya dalam kondisi 2,5 bulan pasca operasi. Ya, saya sudah menjalani operasi skoliosis (Cerita selengkapnya mengenai operasi skoliosis saya sudah saya tuliskan di Pulang ke Malang demi Operasi Skoliosis). Padahal sebelumnya saya sudah menutup pintu rapat-rapat dari keinginan saya untuk operasi karena saya merasa tidak sanggup untuk memikirkan biaya operasi ini. Namun karena dorongan dari teman-teman dan juga pemikiran dari mereka bagaimana saya bisa memperoleh biaya untuk operasi ini, akhirnya saya mantap untuk menjalani operasi walaupun dengan kompensasi gaji saya yang dipotong hingga separuh lebih selama bertahun-tahun ke depan. Saya sendiri sempat merasa geli terngiang-ngiang perkataan dari salah satu teman saya, “Kita kan kerja di instansi kesehatan, masa diri kita sendiri tidak sehat sih?” Sebenarnya saya merasa sehat, tapi semakin kesini, seiring kondisi skoli saya yang semakin parah dan aktivitas yang semakin padat, saya selalu menahan badan agar bisa tegap ketika duduk maupun berdiri dan itu membuat saya sangat lelah. Di samping itu, ternyata banyak teman-teman yang memperhatikan kondisi fisik saya yang memang terlihat sangat bungkuk dan memotivasi saya untuk memperbaikinya. Lagi-lagi, pendek dan bungkuk, itulah saya. Sekarang sudah 3 bulan saya cuti dari kantor demi operasi skoliosis ini. Sebentar lagi saya sudah harus kembali ke Politeknik Kesehatan Denpasar, tempat saya mengabdi semenjak 2 tahun yang lalu. Tentunya dengan keadaan yang lebih baik, InsyaAllah.
"Dua bulan pasca Operasi, masih pake penyangga sampai ke leher, karena kebengkokan tulang belakang saya sampai cervical" 





Melalui MSI pulalah saya mengetahui bahwa banyak skolioser tangguh yang sukses dengan kehidupannya, yang tetap bersemangat menjalani hidup, yang telah menjadi ibu, yang telah menjadi ayah dan menjalani segala sesuatunya dengan penuh rasa syukur. Baik yang sudah maupun yang belum menjalani operasi. Dari merekalah saya ikut belajar dan mengambil semangat hidup mereka.

Sungguh, betapa Allah sangat sayang kepada kita bukan? Bila kita merasa penuh dengan kekurangan, lihatlah orang yang lebih kurang dari kita. Kita merasa pendek? Lihatlah orang yang lebih pendek dari kita. Tulang kita bengkok karena skoli? Lihatlah orang yang punya kelainan yang lebih parah dari kita. Masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita daripada kita bila kita mau melihat sekeliling kita. Bila kita selalu merasa sakit, pegal, sesak nafas dan lelah karena skoli kita, ingatlah bahwa Allah akan menghapus dosa-dosa kita dalam setiap sakit yang kita rasakan. Selalu lihatlah ke bawah dalam perkara dunia, dan lihatlah ke atas dalam perkara akhirat. Masalah fisik adalah masalah dunia yang tidak kekal. Tapi tentu saja kita tidak boleh lupa merawat dan menjaga kesehatan fisik yang telah dititipkan Allah kepada kita. Itu adalah salah satu bentuk rasa syukur kita atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Irilah kepada orang yang lebih sholeh dan sholehah daripada kita. Irilah dengan orang yang selalu giat memperbaiki diri. Irilah dengan orang yang giat dan ulet belajar dan bekerja. Jangan iri dengan kecantikan dan kesempurnaan fisik orang lain. Kecantikan dan kesempurnaan fisik hanyalah titipan yang suatu saat bisa saja diambil oleh Allah. Tetapi kesholehan dan kesempurnaan perilaku kita adalah hal yang sangat bisa kita upayakan yang akan menambah nilai diri kita dihadapan-Nya dan di hadapan manusia lain.

Ingatlah bahwa kebengkokan tulang kita hanyalah setitik dari ujian-Nya yang menimpa kita. Sementara betapa banyak nikmat lain yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Nikmat yang bila kita hitung niscaya kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Lihatlah orang yang lumpuh yang hanya bisa tergeletak di tempat tidur atau di kursi roda. Kita pasti akan berkata betapa beruntungnya diri kita yang masih bisa bergerak leluasa dengan tangan dan kaki kita. Tapi lihatlah di akhirat nanti, betapa beruntungnya orang yang lumpuh itu karena tidak melalui waktu yang lama untuk dihisab, karena selama hidup tangan dan kakinya tidak pernah melakukan dan tidak pernah pergi ke tempat-tempat maksiat karena kelumpuhannya. Sementara kita? Tangan kita, kaki kita, mulut kita, mata kita, telinga kita, semuanya akan ditanya oleh Allah untuk apa selama kita hidup di dunia. Ya Allah Ya Robb...ampunilah segala dosa-dosa kami...

Boleh saja kita bersedih, namun jadikanlah kesedihan itu menghasilkan buah kesabaran. InsyaAllah tiada pahala yang tercurah sebesar pahala kesabaran.

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang indah.” (Terjemah QS. Al-Ma’arij: 5)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Terjemah QS. Az-Zumar: 39)

Bergembiralah teman, lakukanlah segala kebaikan yang bisa kita lakukan, munculkanlah setiap potensi yang ada pada diri kita, berusahalah dan janganlah berputus asa, serta jadilah pribadi yang selalu bersyukur sehingga kita lupa bahwa kita adalah skolioser. Hidup skolioser!!! 

Wallahu a’lam bish showab.

Alhamdulillahirobbil’alamiin...